
"Pagi ...." sapa Nadira seraya mendorong pintu kaca dan melangkah memasuki kantornya.
"Pagi ...." jawab Rani yang sudah duduk di balik meja resepsionis. "Wah, kyaknya lagi ada yang happy nih, mukanya ceria banget," ucap Rani seraya melemparkan senyum manis.
"Yup, gue lagi happy banget," ucap Nadira berbinar. "Oh iya, karena kita enggak jadi jalan-jalan ke mall minggu kemarin, hari ini gue mau traktir lu," ucap Nadira seraya mengedipkan sebelah mata.
"Jiah, tumben lu ganjen," ucap Rani tergelak melihat tingkah Nadira yang tidak biasa. "By the way, lu serius mau traktir gue?"
"Lu kan temen gue paling the best di kantor ini. So ... gue mau berbagi keahagiaan sama lu."
"lu lagi kenapa sih? Dapet jackpot?" Rani menaikkan dua alisnya.
"Bisa di bilang begitu lah," jawab Nadira santai.
"Serius loh? Cerita napa, lu dapet jackpot apaan?"
"Ada deh ... Gue ke atas dulu yah," ucap Nadira seraya memutar tubuhnya bersiap ke ruangannya di lantai dua.
"Tunggu, Nad. Lu masih ada utang cerita loh sama gue."
"Bawel lu, udah masuk jam kerja. Gue enggak mau di semprot Aldi," ucap Nadira segera berlalu dari hadapan Rani dan bergegas menaiki tangga.
Lagi-lagi suasana canggung begitu terasa saat Nadira memasuki lantai dua. Ais yang sedang menghampiri meja Aviva langsung mundur dan kembali ke tempatnya. Kedua perempuan itu saling lirik seraya mencuri-curi pandang ke arahnya.
Nadira bukannya tak tahu kelakuan rekan kerjanya akhir-akhir ini. Hanya saja ia tak mau ambil pusing dengan segala kerumutan di luar urusan pekerjaan. Namun, sikap teman-temannya mengingatkan Nadira pada pemilik perusahaan. Bagaimanapun ia harus menemui Elroy dan berbicara dengan pria itu.
"Gue rasa lebih cepat lebih baik. Apa gue temuin Pak Elroy sekarang aja yah," gumam Nadira seraya melirik lorong yang menghubungkannya ke ruangan Elroy.
"Gue belum ada liat Pak Elroy. Ada apa emangnya? Lu ada perlu apa sama Pak Elroy?" tanya Aviva penasaran.
Nadira hanya menjawab pertanyaan Aviva dengan tersenyum seraya menggeleng.
"Nad, gue ada yang kau ditanyain ke Elu," ucap Aviva ragu.
"Soal?"
"Soal gosip elu akhir-akhir ini. Gue sebetulnya ... "Aviva seperti ragu meneruskan kata.
Perempuan itu menggaruk kepalanya mengusir gugup dan salah tingkah. Di satu sisi perempuan itu merasa tak pantas membahas masalah pribadi rekan kantornya. Hanya saja, rumor yang bergulir sudah menggelinding tak tentu arah.
Tentu saja Nadira bisa menebak kemana arah pembicaraan temannya itu. Hanya saja ia merasa saat bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.
"Gue nanti siang mau ajak Rani makan di luar. Gimana kalau kalian juga ikut? Lu sana Ais maksudnya. Kita bisa sekalian ngobrol saat makan siang," ucap Nadira seraya melempar senyum tulus.
"Okelah, nanti siang aja kita ngomong," jawab Aviva membalas senyum Nadira. "Bisakan, Is?" Aviva melempar pertanyaan pada Ais.
"Gue sih oke aja. Enggak masalah kok, sambar Ais turut menyunggingkan senyum.
Suasana pagi ini terasa dingin dan kikuk. Sudah lebih dari satu minggu mereka membicarakan Nadira di belakang perempuan itu. Membuat keduanya jadi salah tingkah setiap melihat Nadira. Hal itu tentu berimbas pada pekerjaan dan kekompakan tim mereka.
Untuk itu baik Ais jua Aviva memutuskan membicarakan hal ini pada Nadira, agar ketegangan di antara mereka kembali mencair.