
"Ada apa, Bang?" tanya Elika ketika melihat perubahan raut wajah Kemal.
Kemal hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Elika. Ia reflek bangun dari duduknya, seolah bersiap menyambut amarah laki-laki yang ia kenal hanya dari ceritanya saja. Saat pikirannya tengah mencari alasan kemarahan Alex, lelaki itu telah melayangkan satu tinjuan yang tepat mengenai sisi wajahnya.
"Hei, kau gila ya?" sembur Kemal seraya membalas pukulan Alex.
"Aaa ... " Pekikan suara Elika pecah bersamaan dengan Kemal yang membalas pukulan Alex.
"Berhenti ... apa yang kalian lakukan?" Elika terdengar panik.
Teriakan Elika cukup membuat Alex mengurungkan niatnya untuk mendaratkan kepalan tangannya sekali lagi di wajah Kemal. Ia hanya melemparkan tatapan tajam seraya mengetatkan rahangnya.
"Tidak bisakah kalian bersikap dewasa?" ujar Elika meninggikan suara saat mendapati kedua lelaki di hadapannya saling melempar tatapan tajam. Tentu saja keduanya tak ada yang melepaskan kepalan tangan.
Jeritannya tadi cukup menghentikan baku hantam yang baru saja terjadi. Namun, ia tak tahu sampai kapan keduanya bisa menahan emosi yang terpancar jelas di sorot mata mereka.
"Kalian bisa bicara baik-baik bukan?!" seru Elika untuk kesekian kalinya, tapi tak seorang pun diantara dua laki-laki yang sedang diliputi amarah itu menanggapinya.
"Maaf, Pak. Tapi anda tidak bisa begitu saja menyerang orang lain tiba-tiba seperti tadi. Anda terlihat seperti orang terhormat, tapi kelakuan anda justru sebaliknya," ujar Elika kesal saat tak mendapat respon dari keduanya.
"Apa kau juga akan membela laki-laki brengs*k ini, kalau kau tahu kelakuannya di belakang mu?" desis Alex mengalihkan tatapannya pada Elika.
"Apa maksud, Anda?" balas Kemal sengit.
"Tidak usah pura-pura bodoh sekarang. Bagaimana kalau Sherly yang memergokimu berduaan seperti ini? Apa kau juga akan mengelak, Brengs*k?"
Kemal mendelik saat mendengar nama yang keluar dari mulut Alex. Bibirnya otomatis menyungkingkan senyum smirk mengejek Alex.
"Apa yang kau katakan?" ucap Alex yang sudah membawa baju Kemal ke dalam cengkramannya.
Lelaki itu cukup tersentak saat menyadari bahwa Kemal mengetahui status pernikahannya dengan Nadira.
"Lepaskan tanganmu," sergah Kemal seraya menepis cengkraman Alex. Akan tetapi, cengkraman lelaki itu terlalu erat untuk dilepaskan dengan mudah.
Tanpa dua pria itu sadari, perkelahian mereka sudah memancing para pekerja lainnya menghampiri mereka. Orang-orang itu terlihat kasak-kusuk mencari tahu apa yang menyebabkan keduanya berkelahi.
"Cukup sudah kalian bertingkah kekanakan! Apa kalian tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian, ha," desis Elika mulai terpancing emosi.
Alex segera melepaskan cengkeramannya saat menyadari sudah banyak orang yang sedang menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Aldi yang menyeruak diantara orang-orang yang mengerumuni Alex dan Kemal.
"Tidak apa-apa, Di. Pria ini salah orang. Seharusnya dia memukul dirinya sendiri," desis Kemal menahan kesal sembari membawa tangan Elika ke dalam genggamannya. "Kita pergi dari sini," lanjut Kemal dan menarik Elika keluar dari kerumunan.
"Katakan dulu padaku siapa Sherly, Bang?" ucap Elika mencoba menghentakkan genggaman tangan Kemal.
Aldi menautkan kedua alisnya saat menyadari ia seperti mengenal nama yang disebutkan oleh Elika.
"Nanti aku jelaskan."
"Kita sudah mau nikah yah, Bang. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, kalau kamu sampai berkhianat," oceh Elika tak perduli tatapan orang-orang yang melihat mereka bak detektif yang sedang menganalisa dan mencari tahu permasalahan yang baru saja terjadi.
"Aku tidak pernah berkhianat. Kamu bahkan sangat mengenal perempuan yang dia maksud," ucap Kemal masih dapat ditangkap oleh telinga Alex, meski mereka sudah menjauh.