
Pintu ruangan Alex terbuka lebar sebelum pria itu sempat menarik diri dari Nadira.
"Ups, Sorry. Tadi kata mbaknya yang di luar aku bisa langsung masuk," ucap Vanya ragu.
Wanita berkulit agak kecoklatan itu mengangkat sudut bibirnya ke atas dengan kaku. Ia tadi mengetuk pintu hanya sebagai sopan santun, sehingga langsung membuka pintunya begitu saja setelah ia mengetuknya.
Kini ia menyesal langsung membuka pintu tanpa menunggu sahutan dari dalam ruangan hingga membuat ia menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya ia saksikan.
"Kamu udah dateng, Nya? Ayo masuk," ujar Nadira seraya tersenyum kaku.
Dengan segera ia mendorong Alex yang terpaku di atasnya agar menjauh. Nadira memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menjauhi Alex dan menyambut kedatangan Vanya.
Ia memeluk Vanya dan menempelkan pipinya di pipi sahabatnya itu. Nadira lantas menyeret Vanya menuju sofa dan duduk menempel dengan perempuan yang masih menunjukkan ekspresi tak enak hati.
"Gue kangen banget sama lu, pengen banget bisa sering-sering ketemu sama elu," ucap Nadira penuh semangat.
"Gue juga kangen banget sama lu. Kita memang harus lebih sering ketemu, karena lu punya banyak hal yang harus lu ceritain sama gue," ucap Vanya seraya melirik Alex.
Vanya menyadari bahwa situasinya mulai berubah. Sepasang suami istri di ruangan ini sepertinya tidak menunjukkan kondisi seperti yang sering di ceritakan oleh Nadira selama ini.
Seingat Vanya, di antara mereka hanya ada cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun, apa yang disaksikannya baru saja sepertinya mematahkan cerita sebelumnya tentang mereka.
"By the way, gue seneng liat lu yang sekarang dari pada terakhir kali kita ketemu. Lu kelihatan seperti temen gue betulan," ucap Vanya membuat Alex berdehem tak senang.
"Cuma kangen sama dandanan gue yang dulu aja," jawab Nadira santai.
Nadira mengambil kesempatan itu untuk semakin memanas-manasi pria yang sudah duduk di kursi kebesarannya tak jauh dari sofa yang ia dan Vanya tempati. Nadira melepas blazer yang dikenakannya. Memperlihatkan tubuh sexy-nya yang mengekspose lengan juga bahu serta belahan dada yang mengintip.
"Bukan cuma itu doang. Wajah lu lebih berseri. Lu kelihatan lebih bahagia sekarang."
"Mungkin karena hari ini gue dandan lagi kayak biasa kali yah. Kan kemaren gue cuma bedakan sama lipstikan doang. Cuma sekedarnya," jawab Nadira santai.
"Cantik lu bukan karena make up, tapi dari dalem. Pasti ini ada hubungannya dengan Alex kan?" bisik Vanya di telinga Nadira.
Wajah Nadira merona seketika mendengar ucapan Vanya. Ia memang tak pernah bisa menutupi apapun dari sahabatnya satu itu.
"Lu emang selalu ngerti gue, Nya. Gue emang lagi happy banget sama kehidupan gue yang sekarang. Tapi sebaiknya keep dulu cerita yang satu ini, okay." Nadira balas berbisik di telinga Vanya.
"It's okay. No problem."
Alex mengepalkan tangannya melihat Nadira dan Vanya saling berbisik. Matanya yang tak pernah lepas dari Nadira semenjak wanita itu melepas Blazernya, dapat menangkap semu merah yang menjalar di pipi wanita itu. Membuat Alex semakin penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
"So ... apa yang lu perlu dari gue?" tanya Vanya yang sudah bisa menebak tujuan Nadira mengajaknya bertemu hari ini.
"Gue mau minta tolong lu buat datengin rumah papa," ucap Nadira membuat dua orang di dalam ruangan itu menaikkan alisnya bingung.
"Ke rumah bokap lu buat apa, Nad?" sambar Vanya cepat.
"Ada alasan kenapa gue selalu ngajak elu ketemu di sini. Ini semua bagian dari rencana gue," ucap Nadira seraya menarik nafas panjang sebelum mengungkapkan apa yang sebetulnya tengah ia rencanakan pada sahabatnya itu.