PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 58#



Alex masih mendekap Nadira dengan erat. Ia sendiri seakan terkejut dengan tindakan impulsif-nya yang tiba-tiba memeluk perempuan yang masih menyandang gelar sebagai Nyonya Alex Dinata. 


Melihat sorot mata Nadira yang penuh kepedihan membangkitkan nalurinya sebagai seorang suami yang ingin melindungi. Namun, tak dapat dipungkiri hati kecilnya masih berperang. Ia dapat melihat ketulusan Nadira dari tatapan perempuan itu. Alex seolah terhipnotis oleh tatapan penuh penyesalan yang terpatri jelas di wajah Nadira.


Sayangnya, hati kecil lelaki itu seolah tak mengizinkannya untuk mempercayai Nadira begitu saja. Ia harus berhati-hati jika tak ingin menjadi keledai yang jatuh pada lubang yang sama.


"Mas?" panggil Nadira saat Alex terus memeluknya. 


"Maaf … " ucap Alex seraya melepaskan pelukannya pada Nadira. 


Nadira hanya diam membisu dengan senyuman yang tak kalah pedih dari sorot mata yang dipancarkannya. Perempuan itu hanya menunduk dan menjatuhkan tatapannya pada keramik yang dipijaknya. 


"Istirahatlah, sudah malam," titah Alex sembari menjauhkan tubuhnya dari Nadira. 


Berdekatan dengan sang istri, kembali membangkitkan harapan lama yang sudah ia coba singkirkan sejauh mungkin dari angan. 


Namun, jarak yang terkikis perlahan diantara mereka memberi efek berbeda bagi tubuh dan hatinya. Mereka seolah-olah berkompromi menghianati akal sehat. 


"Terima kasih, Mas untuk semua yang sudah kamu lakukan," ucap Nadira lirih. 


"Untuk apa kamu selalu berterima kasih? Tak perlu berterima kasih. Aku tidak melakukan apa-apa untukmu," jawab Alex ketus. 


Semakin lembut sikap yang Nadira tunjukkan, maka hatinya semakin meronta. Tak dapat dipungkiri, Alex masih mengharapkan Nadira menerima kehadirannya seperti ia mencoba membuka hati untuk perempuan itu di awal pernikahan mereka. 


Namun, kekecewaan yang bersarang di hati membuat Alex tak mudah menerima perempuan itu kembali ke kehidupannya. Ia tak mau lagi dijadikan pijakan bagi Nadira mencapai tujuannya. 


"Terimakasih karena kamu masih bersikap baik padaku. Aku tahu, aku sudah melakukan kesalahan besar karena telah memanfaatkanmu, Mas. Dan itu pasti membuatmu jijik terhadapku. Pasti tidak mudah bagimu harus tetap menerima kehadiranku."


Perkataan Nadira seolah menampar Alex. Menyadarkannya bahwa Perempuan di hadapannya itu tak lagi seegois yang dia pikirkan. 


Hati Alex tiba-tiba merasa nyeri mendengar semua pengakuan Nadira. Ada rasa iba pada sang istri. Membuat ia kembali mengingat bagaimana ia pernah berada di posisi Nadira.


Menyesali segala perbuatan dan menghapinya seorang diri. Mengutuk diri atas dasar karma.


"Sudahlah, tak usah bahas ini lagi. Kita di sini untuk Kakek," ucap Alex masih memungkiri perasaannya. 


"Aku mengerti," gumam Nadira hampir tak terdengar. 


Kekecewaan terairat jelas dari nada suara perempuan itu. Akan tetapi, ia cukup sadar diri dimana posisinya berada saat ini. 


"Tidak usah berpikir yang macam-macam. Aku tidak mau kamu salah paham," tegas Alex.


"Iya, Mas. Aku di sini hanya untuk menebus kesalahan ku. Aku tidak akan berharap apapun dari semua ini."


Hati Alex tiba-tiba berdenyut mendengar ucapan Nadira. Di sudut hati terdalam, ia justru berharap Nadira memperlihatkan tekad untuk meminta pengampunan darinya. Melihat kesungguhan istrinya itu untuk meminta kesempatan kedua. 


"Kenapa aku jadi memikirkan hal seperti ini?" gumam Alex dalah hati. 


Ia tersentak dengan pikirannya sendiri. Sedikit demi sedikit perasaannya lebih menguasai diri ketimbang logika. 


"Apakah aku harus berdamai dengan hatiku sendiri?" bisik Alex dalam hati.


 


Lelaki itu terngiang percakapannya dengan Kakek Bayu sesaat sebelum insiden Ibunya menampar Nadira.


Kakek Bayu meminta ia sungguh-sungguh memberi ruang baginya dan Nadira memperbaiki apa yang sudah terlanjur rusak. Lelaki berusia senja itu tak ingin mereka kembali bersama hanya untuk menyenagkan hatinya saja.