PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 81#



Alex menatap lurus Nadira yang tertunduk seraya memainkan jemarinya menutup gugup yang menyergap. Lelaki itu mencoba bersabar menunggu kata yang meluncur dari bibir manis yang baru direguknya.


Alex sadar betul, istrinya itu sedang berperang melawan kegugupannya. Tangan Nadira terlihat gemetar. Pun dengan mata perempuan itu yang lebih memilih menatap permadani yang melapisi keramik di kamarnya. 


"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana," ucap Nadira akhirnya.


Alex menarik jemari Nadira yang tak berhenti dimainkan oleh istrinya itu. Ia membawa jari jemari itu ke dalam genggaman tangannya. Entah mengapa, Alex tiba-tiba merasa iba. Segala prasangka menguap begitu saja. Wajah polos Nadira sungguh menggetarkan hatinya. 


"Bicaralah, aku akan menjadi pendengar yang baik." Suara lembut Alex menyelusup hingga ke relung jiwa. 


Membuat Nadira berani mengangkat kepalanya. Menatap Alex yang tengah memberikan keteduhan melalui sorot mata lelaki itu. keteduhan yang memberikan keberanian berkali lipat bagi Nadira untuk mengungkapkan semua. 


"Aku sudah banyak melakukan kesalahan dalam hidupku. Aku memang sengaja menjeratmu agar menikahi aku hanya untuk memenuhi ambisi keluargaku," ungkap Nadira memulai kata.


"Meski sudah menikah dengan mu, aku masih mengharapkan Ravka kembali pada ku," Nadira menjeda bicara saat menatap raut wajah Alex yang berubah sendu. 


Kekecewaan jelas terlukis di sana. Namun, bagaimanapun Nadira harus mengungkapkan semua kenyataan tanpa ada yang harus ia tutupi.


"Tapi aku sadar, aku dan dia sudah memiliki kehidupan kami masing-masing. Dan aku bersyukur kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Karena dengan begitu, aku bisa mengenal kamu, Mas. Sosok yang membuatku bisa mencintai dan menghargai diri ku sendiri." Nadira kembali menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku jatuh cinta pada semua kebaikanmu padaku. Aku jatuh cinta padamu yang begitu menghargai dan memperhatikanku. Aku jatuh cinta dengan semua yang sudah kamu lakukan untukku," ungkap Nadira dengan air mata yang terus membasahi pipi. 


"Tapi aku mungkin bukan perempuan baik yang pantas untuk mu. Aku bahkan pernah menggoda Ravka agar … " Nadira kembali menghela nafas kasar. 


Membuang beban yang mulai terasa berat menghimpit dada. 


"Agar … ia mau meniduriku. Tapi untungnya dia lelaki baik yang tau cara menghargai wanita."


Nadira dapat melihat Alex tercengang atas kejujurannya. Genggaman tangan lelaki itu mulai mengendur. 


"Aku berani melakukan itu, karena sebelumnya aku …." Lagi-lagi Nadira menarik nafas panjang. 


Ia memperhatikan perubahan raut wajah Alex. Ada kalut yang menaungi di sudut matanya. Ada banyak tanya yang menggantung di sana. Membuat Nadira semakin goyah. Namun, ia sadar. Ia tak boleh membiarkannya berhenti di tengah jalan. Apapun resikonya akan dia tanggung setelah ia mengungkapkan semuanya. Ia menundukkan kepala sebelum melanjutkan ucapannya. Menghindari tatapan Alex yang mulai sulit ia baca. 


"Aku sudah pernah tidur dengan laki-laki lain." Nadira memejamkan mata setelah mengucapkan semuanya. 


Rasa takut begitu mencekam, membuatnya enggan membuka mata. Keberanian yang sudah ia kumpulkan menguap bersama kata yang sudah dilontarkannya.


Nadira kini hanya mampu mengatup rapat mulutnya. Serapat mata yang tak berani menatap lelaki di hadapannya. Hanya pendengarannya yang semakin menajam. Hingga desahan nafas Alex terdengar begitu jelas. Pun dengan suara detak jantungnya sendiri yang mulai menghentakkan dada.