PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 94#



"Kamu dari tadi cuma aduk-aduk makanan mu saja. Memangnya kamu gak laper?" tanya Alex yang menghabiskan makanannya dengan lahap. 


"Aku cuma lagi gak ***** makan aja, Mas?" 


"Kenapa? Kamu lagi mikirin apa?"


"Mama sama Mama Erica."


"Kenapa memangnya sama mereka?"


"Aku mau ketemu sama mama Erica, Mas. Aku mau minta maaf langsung sama mama. Selama ini aku udah salah, tapi aku gak pernah minta pengampunan mama secara langsung," ucap Nadira dengan pasti. 


"Ya sudah, nanti kita cari waktu yang pas untuk bertemu sama mama. Tapi sebelum itu kita harus memberitahu kakek terlebih dahulu."


"Untuk apa?" tanya Nadira heran. 


"Aku tahu mamaku seperti apa. Tujuan mama kembali ke Indonesia sebetulnya karena Kakek. Tapi dia jarang ke sini, itu karena keberadaan kita di rumah ini. Jadi, untuk meminta maaf kepada mama, kita harus keluar dari rumah ini dulu."


"Apa harus seperti itu, Mas? Aku tidak mau mengingkari janjiku pada Kakek. Aku merasa kalau aku bisa di terima di rumah ini juga karena Kakek. Aku senang bisa membantu Alea untuk merawat Kakek."


"Karena itu aku bilang kita harus temui Kakek terlebih dahulu. Kakek adalah orang yang bijaksana. Kita akan mendengarkan pendapat Kakek."


"Baiklah, Mas. Aku mengerti. Lagipula aku sangat berharap mama Erica memaafkan aku."


"Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku tahu mama marah sama kamu karena terlalu sayang sama aku. Kalau tahu aku bahagia bersama kamu, mama juga pasti memaafkan kamu," ucap Alex seraya menggosok lengan istrinya intuk menenangkan wanita itu. 


"Apa kamu bahagia bersama ku?" tanya Nadira spontan. 


"Apa perlu ditanyakan lagi?" Alex bertanya balik seraya memandang wajah istrinya yang merona. 


"Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa terimakasih kamu. Aku tidak mau terima kalau hanya dengan ucapan saja," ucap Alex santai. 


"Terus aku harus apa?" tanya Nadira sembari mengangkat kepala menatap wajah suaminya. 


Alex hanya mengedipkan sebelah mata sebagai jawaban, membuat Nadira semakin tersipu malu. 


"Gak usah ganjen deh, Mas," ucap Nadira seraya majukan bibirnya. 


"Memangnya gak boleh ganjen sama istri sendiri?" tanya Alex yang sudah menyelesaikan makannya. 


Ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Tak lagi menggoda hanya lewat kata. Sebuah suara batuk yang dibuat-buat menghentikan aksi Alex.


"Pacaran kok di dapur? Gak ada tempat yang lebih romantis lagi gitu? Rumah besar begini, malah jadiin dapur sebagai tempat pacaran," sindir Ravka yang baru saja pulang kerja. 


Pantas saja kakak sepupunya itu menyerah kan beberapa pekerjaan padanya dan memaksa membawa pulang sebagian pekerjaan ke rumah. Ternyata lelaki itu tidak sabar ingin menemui istrinya, pikir Ravka sebal. 


"Sirik aja sih," sahut Alex cuek.


"Itu pekerjaan ngotot di bawa pulang bisa selesai gak tuh?" sindir Ravka lagi. 


ia saja terpaksa harus mengurangi waktunya bersama istri tercinta demi mengurus perusahaan. Sementara CEO perusahaan itu malah asik pacaran di rumah. 


"Tumben banget kamu bawel. Udah gak sanggup ngurus perusahaan? Mau tukar posisi aja? Ngurus anak perusahaan yang ada di luar kota?" ancam Alex dengan santai. 


"Gak mempan ancemannya," balas Ravka tak kalah santainya. 


Ravka mengambil botol minuman dingin dari dalam lemari es dan membawanya ke meja makan. Menggangu pasangan yang sepertinya lagi kasmaran, terlihat seru sebagai hiburan setelah penat kerja seharian.