PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 53#



Senyum merekah di berikan Kakek Bayu saat melihat cucu serta istrinya menghampiri. Lelaki berusia senja itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali Nadira bertemu. Namun, wajahnya menyiratkan keteduhan tanpa kesakitan menghiasi meski kondisi kesehatannya semakin hari semakin menurun. 


"Kalian akhirnya datang juga. Kakek sudah lama menantikan kalian."


"Maafkan kami, Kek yang terlalu sibuk dengan urusan sendiri," ucap Alex lembut sembari meraih tangan keriput di hadapannya dan menciumnya dengan takzim. 


"Saya juga minta maaf, sudah tidak perduli dengan kondisi Kakek," susul Nadira seraya melakukan hal serupa seperti suaminya. 


"Kakek bisa memaklumi. Tentu kalian sibuk dengan urusan pekerjaan." Kakek Bayu nampak menarik nafas sebelum melanjutkan bicaranya. "Kalian sudah menyempatkan diri menjenguk Kakek saja, Kakek sudah senang sekali."


Lelaki yang sudah berumur itu seperti kesulitan hanya untuk berbicara. Sudah beberapa hari terakhir ia hanya bisa tergolek lemah di atas tempat tidur seperti saat ini. Ia harus dibantu oleh orang lain setiap kali ingin melakukan sesuatu, bahkan untuk urusan ke toilet. Seperti saat ini, ia kesulitan menggerakkan tubuhnya sendiri. 


"Kakek mau apa? Biar Alex yang ambilkan," ucap Alex sigap saat melihat Kakek Bayu hendak melakukan sesuatu.


"Kakek lelah berbaring seharian," lirih Kakek Bayu. 


Dengan segera Alex membantu Kakek Bayu merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk bersandar pada dipan. Di sebelahnya Nadira nampak tak mau berpangku tangan. Perempuan itu meletakkan sebuah bantal untuk menyangga kepala Kakek Bayu. 


"Gimana, Kek? Ada yang kurang nyaman?" tanya Nadira hati-hati. 


Pertanyaan Nadira hanya dibalas gelengan lembut dari Kakek Bayu dengan senyum merekah di bibir. Hati lelaki tua itu menghangat melihat perhatian yang Nadira berikan kepadanya. Ia sama sekali tak menyangka waktu berlalu begitu cepat.


Dulu ia sempat tak menyukai Nadira dengan segal tingkah polahnya yang angkuh dan jumawa. Namun, kini perempuan itu sudah menjelma menjadi sosok yang lembut dan penuh perhatian. 


"Benar Kakek sudah nyaman?" tanya Nadira memastikan. 


"Sudah, kamu duduk saja," ujar Kakek Bayu seraya mengepulkan tempat tidur di sisinya yang bisa digunakan oleh Nadira untuk duduk. "Kakek sudah sangat nyaman melihat kalian berdua sangat kompak seperti ini," lanjut Kakek Bayu.


Jawaban Kakek Bayu yang tidak terduga membuat wajah Nadira bersemu merah. Ada rasa menghangat sekaligus malu memenuhi dadanya. Meski Nadira sadar betul bahwa kekompakan itu hanya kasat mata. 


"Kakek menduga kalian berdua memilih untuk mencoba mempertahankan rumah tangga kalian," ucap Kakek Bayu langsung pada intinya tanpa berniat berbasa basi. 


Nadira nampak canggung dengan pernyataan Kakek Bayu. Meski ia tahu jawaban yang akan dilontarkan oleh Alex, tapi tak urung dadanya berdebar tak karuan menunggu Alex berbicara. Sementara ia sendiri akan memilih diam dan mengamini semua perkataan yang akan meluncur dari mulut Alex. 


"Iya Kek, kami memutuskan akan belajar untuk saling mengerti dan memahami," jawab Alex enteng tanpa beban. 


Nadira sempat berjengit heran dengan ketenangan Alex. Nada bicara lelaki itu seolah yakin tanpa keraguan. Padahal Nadira tahu betul, bahwa lelaki itu masih belum bisa percaya kepadanya. Namun, ia akan tetap membungkam dan mengikuti semua permainan Alex. Keduanya sadar betul, bagaimanapun kondisi Kakek Bayu adalah yang paling utama. Sehingga mereka harus rela menyingkirkan ego masing-masing. 


Nadira harus rela menahan rasa sakit dan tak berdaya, saat berdekatan dengan suami tercinta yang terus mencerca dirinya. Sementara Alex harus bisa menemerima kehadiran Nadira, wanita yang sudah mengacaukan hidupnya.