
"Selamat malam Kek," sapa Alex setelah memasuki kamar Kakek Bayu.
"Malam," balas Kakek Bayu seraya menegakkan punggungnya yang bersandar pada kursi malas di sudut kamar.
Bibir lelaki tua itu menyunggingkan senyum hangat saat melihat kedatangan cucu tertuanya. Diletakkannya buku yang tengah dibaca di atas meja kecil di samping kursi. Di belakang Alex, Kakek Bayu dapat melihat Nadira berjalan sembari tertunduk di dampingi oleh Alea.
Alea berjalan cepat menghampiri Kakek Bayu dan merapihkan nampan di atas meja yang berisikan obat-obatan rutin yang dikonsumsi Kakek Bayu setiap hari.
"Kakek sudah minum semua obatnya kan?" tanya Alea memastikan.
"Kakek sudah bosan minum obat. Jadi obat-obatan itu sudah Kakek selipkan di balik kursi yang sedang Kakek duduki sekarang," jawab Kakek Bayu seraya terkekeh.
"Kalau aku betul-betul menemukan obat-obatan itu ada di balik kursi, Kakek akan aku carikan satu perawat khusus yang cerewet untuk mengawasi Kakek," jawab Alea dengan nada mengancam.
"Ah ... untuk apa kamu mencarikan Kakek perawat? Bukankah cucu-cucu Kakek punya istri yang cantik-cantik? Dan sepertinya kalian berdua cukup cerewet kalau hanya sekedar menghadapi orang tua sepertiku," ucap Kakek Bayu santai.
Meski disampaikan dengan santai, tapi perkataan Kakek Bayu membuat pias wajah sepasang suami istri di dalam sana. Spontan Nadira mengangkat kepala dan melirik pada Alex yang ternyata juga melirik ke arahnya. Dada Nadira seakan diremas seketika mendapati tatapan tajam menghujam tepat ke jantungnya. Menyadarkan Nadira bahwa lelaki itu seperti tak menyukai ucapan Kakek Bayu yang menyiratkan statusnya yang masih sah sebagai istri Alex.
"Yah ... Ku rasa aku dan Nadira bisa menjadi perawat Kakek bergantian," balas Alea tak kalah santainya. "Aku akan membawa nampan ini keluar dulu, Kakek bisa menghabiskan waktu bersama dua cucu Kakek yang sudah sangat Kakek rindukan ini. Khusus untuk malam ini, aku memberikan pengecualian untuk Kakek. Tidak ada jam malam. Kakek mendapatkan kebebasan malam ini," celoteh Alea seraya mengedipkan sebelah mata pada sang Kakek.
Tawa Alea membuat Kakek Bayu semakin kesal. Bagaimana tidak, sekarang ia tak punya kuasa atas dirinya sendiri. Kesehariannya sudah dijawalkan sejak ia membuka mata hingga menutup mata. Lebih parahnya, Dilla dan Alea begitu kompak bergantian menjaga dan merawatnya sepanjang waktu.
Setelah Alea meninggalkan kamar, ruangan itu seperti didominasi aura ketegangan yang mencekam. Tak ada suara yang memenuhi udara apalagi dengan nada riang penuh canda tawa yang kerap Alea hadirkan disana.
"Apa kalian berdua tidak capek berdiri terus?" tanya Kakek Bayu mencoba mencairkan suasana canggung yang tercipta. "Yah kalian masih muda dan masih bugar. Tentu saja berdiri berjam-jam masih sanggup kalian lakoni. Tapi masalahnya leher Kakek yang akan pegal jika berbicara dengan kalian."
Sontak tanpa dikomamdoi keduanya langsung duduk di sofa dekat kursi malas yang tengah ditempati oleh Kakek Bayu.
"Kalian berdua ternyata suami istri yang kompak," tutur Kakek Bayu seraya terkekeh.
Keduanya kembali saling melirik kikuk yang tentu saja dapat di tangkap oleh Kakek Bayu. Lelaki yang sudah mulai uzur tersebut memang sengaja menekankan status mereka yang masih sah sebagai suami istri. Hanya untuk mencari tahu bagaimana reaksi keduanya saat status mereka terus diungkit.
*********************************************
Bener-bener minta maaf, aku hanya sempet nulis sedikit.. yang penting bisa up dulu.. aku usahain nanti malem kasih satu episode lagi yah.. tapi ga janji..
sebelum kalian nanya.. ini emang pendek.. ga sampe 600 kata.. dibanding biasa yang up diatas 1000 kata.. soalnya sekarang fokus aku kebagi.. jadi kalo sempet aku up dua kali.. kalo emang ga keburu seenggaknya aku berusaha tepatin janji up date rutin.. okay.. semoga kalian memaklumi.. see u next time.. luv u all...