PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 69#



Nadira dan Alex melewati makan malam yang kelewat malam sembari mengobrol lepas. Meski sesekali perasaan canggung masih menggerogoti hati keduanya, tapi mereka cukup menikmati malam ini. 


"Terimakasih untuk makan malamnya. Masakan kamu enak," puji Alex tulus. 


"Sama-sama," jawab Nadira semringah mendapat pujian dari sang suami.


Perempuan itu lantas merapihkan meja dan mengangkat piring kotor dan meletakkannya di cucian kotor. Ia lantas mengikuti sang suami kembali ke kamar mereka. 


"Oh iya, hampir lupa. Kamu dapet salam dari Mama Shinta," ucap Alex saat mereka sudah berada di kamarnya. 


"Kamu ketemu Mama, Mas?" tanya Nadira dengan mata berbinar. 


"Iya, tadi mampir sebentar ngecek kondisi Mama. Sekalian nganter ART yang aku dapet dari Yayasan buat nemenin Mama di sana, biar enggak kesepian."


"Makasih banyak, Mas," ucap Nadira penuh haru seraya memeluk Alex.


Nadira sendiri tak menyadari bahwa ia berlarian memeluk lelaki itu begitu saja. Ia merasa sangat senang mendengar kabar bahwa Ibunya tak lagi sendiri di penthouse milik sang suami. Setidaknya akan ada yang menjaga ibunya selama Nadira tak dapat menemani wanita yang sangat ia kasihi itu.


"Iya … sama-sama," ucap Alex terbata. 


Dengan gerakan kaku, Alex meletakkan kedua tangannya di punggung Nadira. Ia membalas pelukan Nadira dengan canggung, meski bibirnya melengkung senang. 


Debaran jantung Alex bertalu-talu menghentak dadanya yang terasa sangat kencang. Membuat anggota tubuhnya yang lain seolah tak bisa berfungsi lantaran fokus pada jantungnya. Pun bibirnya kelu untuk mengucapkan barang sepatah kata. 


"Ma - maaf, Mas. A-ku enggak sengaja," ucap Nadira meregangkan pelukannya pada Alex dan berjalan mundur menjauhi lelaki itu. 


Saat memeluk Alex, ia dikejutkan dengan debaran jantung suaminya yang berdetak kencang. Pelukannya pada Alex membuat telinganya persis menempel pada dada lelaki itu. Membuat Nadira tersadar dengan apa yang ia lakukan.  


"A-aku … aku … tadi hanya terlalu senang mendengar Mama … " Nadira berucap salah tingkah dan tak menyelesaikannya.


"Iya, tidak apa-apa. Lagipula kamu kenapa gugup begitu? Bukannya sebelum ini kamu sudah biasa memelukku?" tanya Alex yang sudah bisa menguasai keterkejutannya dengan sikap spontan Nadira.


Lelaki itu bahkan menggoda Nadira yang wajahnya kian memerah. Istrinya itu terlihat semakin menggemaskan di mata Alex. 


"Itu … itu … aku … " Nadira semakin terbata-bata. 


Tentu saja kondisinya berbeda saat dulu dan sekarang. Dulu dia memang dengan sengaja melakukan kontak fisik dengan sang suami demi mencari simpati lelaki itu. Namun, jika diingat kembali, ia sungguh malu dengan kelakuannya itu.


"Kenapa? kamu mau bilang kalau dulu kamu sengaja mendekatiku agar bisa memuluskan rencana mu?" 


"Maaf," hanya satu kata yang mampu Nadira ucapkan. 


Perempuan itu tertunduk mengingat sikap buruk yang sudah ia lakukan di hadapan sang suami. 


Tanpa Nadira sadari, Alex sudah mendekati perempuan itu. Memangkas jarak di antara mereka hingga tak bercelah. Dengan satu jarinya, Alex mengangkat dagu Nadira hingga bola mata mereka saling memaku satu sama lain. 


"Tidak perlu minta maaf. Mulai sekarang, aku ingin kita mengubur semua kejadian yang sudah lewat dan memulai kembali dengan kisah yang baru."


Suara Alex terasa lembut menggelitik telinga Nadira. Menyelusup ke dalam hingga tembus ke relung jiwa. Membuat hatinya mengembang dengan perasaan yang kiat kuat dan besar untuk lelaki di hadapannya.


*********************************************


sorry yah berapa hari ini ngumpet.. baru bangun dari tempat tidur aku tuh..


Btw jangan seneng dulu ya.. manisnya bentar doang habis itu galau lagi sebelum akhirnya baru manis beneran.. doakan aku bisa namatin segera yah cerita ini.. soalnya habis ini aku mau konsen sama cerita satu lagi...