
"Erika, aku pulang dulu yah," ucap Dokter Friska saat bertemu dengan Erika di ruang tengah.
"Eh sudah selesai?" tanya Erika seraya menutup majalah yang tengah dibaca dan meletakkannya secara sembarang di atas meja.
"Iya sudah selesai. Makanya aku mau pamit. Aku mau langsung balik."
"Loh kok cepet banget? Nyantai aja dulu di sini. Kita udah lama gak ngobrol-ngobrol loh."
"Duh, maaf banget nih. Bukannya gak mau, tapi aku masih ada jadwal visit pasien."
"Bu Dokter satu ini mang paling totalitas sama profesinya," ucap Erika seraya mendekati Dokter Friska.
Erika memeluk temannya itu, tak lupa cium pipi kiri dan kanannya.
"Menantu kamu polos banget yah," ucap Dokter Friska tepat saat Erika mendaratkan pipinya di pipi Dokter Friska.
"Polos?" Erika menaikkan alisnya bingung menatap Dokter Friska saat mereka sudah melepaskan pelukan.
Tentu saja Erika merasa heran mendengar ucapan wanita di hadapannya itu. Ia menyadari bahwa Dokter Friska adalah salah seorang yang pintar menilai seseorang. Namun, kali ini Erika merasa temannya itu audah mulai kehilangan kemampuannya.
"Aku rasa kali ini kamu salah. Aku sangat tahu menantu ku. Dia cukup mengikuti trend anak muda jaman sekarang."
Di awal pernikahan Alex, Erika cukup dekat dengan Nadira dan sering menghabiskan waktu bersama hanya sekadar shooping, jalan-jalan atau melakukan perawatan di salon. Ia tahu betul wanita itu sangat modis dan gaul. Jadi tidak mungkin kalau menantunya itu dikategorikan sebagai wanita yang polos.
Satu hal lagi yang Erika garis bawahi, Nadira sudah melakukan permainan yang hampir menghancurkan keluarga Dinata. Erika merasa bahwa Nadira lebih pantas di sematkan predikat sebagai rubah licik.
"Iya aku tahu. Kamu kan sempet cerita sama aku kalau menantu mu itu anak gaul jaman sekarang. Bahkan kamu juga tau kalau dia sudah biasa keluar masuk club malam seperti kita dulu."
"Nah itu kamu tahu," sambar Erika memotong ucapan Dokter Friska.
"Tapi justru di situ lucunya. Mukanya masih merah saat aku membicarakan soal hubungan suami istri. Itu cukup menarik. Kelihatannya dia anak yang baik meski terbawa arus pergaulan jaman sekarang," imbuh Dokter Friska lagi.
"Oh iya, Tante Friska ke Rumah Sakit pakai apa? Apa mau saya antar?" tanya Alex membuat Erika membuyarkan lamunannya akan ucapan Dokter Friska.
"Ga usah repot-repot. Tante bawa mobil sendiri, kok," jawab Dokter Friska seraya melayangkan senyum pada Alex.
"Jangan lupa kamu beli testpack-nya di apotek," ucap Dokter Friska menenangkan Alex.
"Iya Tante, ini Alex mau langsung ke apotek."
"Testpack? Memangnya menantu ku hamil?" tanya Erika terperangah.
"Ku rasa iya. Tapi sebaiknya coba cek dulu dengan testpack. Baru setelah itu pergi ke dokter kandungan. Ya sudah ku balik yah," ucap Dokter Friska sembari melambaikan tangannya pada Erika.
Sepeninggalan Dokter Friska, Erika nampak heboh sendiri. Ia mengingatkan Alex agar membelikan tiga sampai lima testpack dengan brand yang berbeda. Ia juga langsung mencari informasi mengenai Dokter Kandungan terbaik di Jakarta.
Wajahnya masih menunjukkan ekspresi seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jika sampai Nadira hamil itu berarti ia akan segera menjadi seorang Nenek. Perasaannya seolah menghangat mengingat akan ada kehidupan baru yang merupakan bagian dari genetiknya. Erika bahkan melupakan amarahnya pada Alex dan Nadira.
"Bi, di kulkas ada apa aja yah?" teriak Erika memanggil asisten rumah tangganya sembari berjalan menuju dapur.
Wanita itu hampir membongkar seluruh isi lemari es. Ia memilah mana bahan makanan yang masih fresh dan bergizi tinggi yang bisa ia olah untuk menyajikan makan malam.
"Bu, ini mau di masak semua?" tanya Asisten rumah tangganya menelan saliva dengan semangat yang ditunjukkan oleh majikannya.
Tak biasanya ia melihat majikannya itu bersemangat di dapur. Bahkan wanita itu sangat jarang menyentuh dapur meskipun ia pandai memasak.
"Kita harus masak beberapa jenis masakan malam ini. Yang pasti harus lengkap gizinya dari protein sampai sayurannya. Aku juga pengen bikin beberapa desert untuk makan penutup sama beberapa camilan sehat yang bisa dimakan sambil bersantai," ucap Erika antusias.
Erika nampak terlihat biasa saja dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Seolah semua makanan itu bisa ia selesaikan dalam waktu sekejap mata. Sementara di sebelahnya, asisten rumah tangganya hanya bisa pasrah seraya menelan salivanya.