PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 88#



"Gue tunggu kalian di luar yah," ucap Nadira seraya menarik tangannya dari genggaman Aviva. 


Nadira berjalan cepat hampir setengah berlari menuju pintu keluar. Ia menundukkan kepala, berharap Alex terus sibuk meladeni Thalita dan tak menyadari keberadaannya. 


Baru saja hendak mendorong pintu kaca di hadapannya, lengan Nadira ditarik seseorang hinga menghentikan langkahnya. 


"Aku nungguin kamu, kamunya malah mau pergi gitu aja?" ketus Alex. 


Kantor D'advertising memang terbilang kecil dan memiliki lobi yang sempit. Jarak sofa tempat menerima tamu di depan tak berjauhan dengan pintu keluar hingga memudahkan Alex menahan Nadira keluar. 


"Maaf, aku enggak mau ganggu kamu yang lagi asik mesra-mesraan di tempat umum," jawab Nadira tak kalah ketusnya. 


"Kamu cemburu?" tanya Alex seraya tersenyum.


Tentu saja Nadira kesal mendengar pertanyaan konyol Alex. Istri mana yang suka melihat ada wanita yang mendekati suaminya. Apalagi sang suami seakan menikmati godaan wanita itu. Padahal baru tadi pagi, lelaki itu bersikap manis padanya. 


"Lepasin, aku mau pulang," ucap Nadira seraya menarik paksa tangannya. 


Namun, kekuatan Nadira tak sebanding dengan sang suami hingga tak dapat melepaskan cekalan tangan Alex. 


"Aku kesini mau jemput kamu."


"Aku bawa mobil sendiri."


"Aku bawa sopir kantor. Nanti biar dia yang bawa pulang mobil kamu. Aku mau ajak kamu pergi."


"Aku udah janji mau anterin temenku pulang," jawab Nadira masih berusaha menghindar. 


"Ya udah, sekalian kita anterin mereka dulu."


"Enggak usah repot-repot, aku bisa sendiri," ketus Nadira lagi. "Lepasin," ucap Nadira seraya menarik paksa tangannya yang masih di tahan oleh Alex. 


Sementara di sekitar mereka teman-temannya saling pandang menyaksikan pertengkaran Alex dan Nadira. Tak terkecuali Rani yang baru saja hendak meninggalkan meja resepsionis. 


"Mendingan kamu urus dia, deh. Lepasin tanganku," ucap Nadira dengan raut wajah malas.


"Aku tidak ada urusannya dengan dia. Jadi tidak usah pedulikan dia," ucap Alex tak menggubris Thalita. "Aku sudah buat janji dengan Rena, designer couple ring kita yang dulu. Aku akan minta buatkan yang baru," ucap Alex membuat wajah Thalita pias seketika. 


"Aku rasa tidak ada gunanya. Toh statusmu yang sudah jelas menikah saja, tidak membuat wanita mundur untuk mendekatimu. Ada banyak wanita di luar sana yang bersedia melemparkan diri padamu meski hanya dijadikan simpanan. Jadi apa gunanya cincin?" sindir Nadira seraya melirik Thalita.


Alex langsung melepaskan genggaman tangannya pada lengan Nadira. Sorot matanya berubah tajam saat menatap istrinya, membuat perempuan bertubuh semampai itu mengkerut. 


"Jadi kamu senang, kalau selalu di dekati para lelaki yang mengira kamu masih single?" sergah Alex dengan nada meninggi. 


"Kenapa jadi kamu yang marah?" sungut Nadira kesal.


"Aku sudah buat janji dengan Rena jam tujuh malam ini. Dia tidak punya banyak waktu karena harus kembali ke Paris. Aku sedang banyak pekerjaan, jadi tidak mungkin kita menyusulnya ke Paris," ketus Alex membuat kemarahan Nadira sedikit mereda. 


"Ayo kita berangkat sekarang," ucap Alex seraya meraih tangan Nadira dan menggenggam jemarinya.


Alex langsung menggiring Nadira meninggalkan kantor istrinya itu tanpa mempedulikan Thalita yang sudah memucat. 


"Nad ...." panggil Aviva canggung. 


"Bentar, Mas. Itu temenku mau nebeng," ucap Nadira dengan nada yang susah mulai melembut. 


"Ayo Av, Is, kita jalan sekarang."


"Kita gak jadi ikut deh, Nad," ucap Aviva kikuk. 


"Kok gitu sih? Aku kan udah janji mau anter kalian. Ayoklah ikut," ucap Nadira tak enak hati. 


"Udah Av, kita ikut aja," sambar Ais cepat seraya menyeret Aviva mendekati Nadira dan Alex.