
Nadira duduk seraya menyeruput es jeruk yang dipesannya. Di depannya, tiga perempuan menatapnya tak sabaran.
"Kalian enggak makan?" tanya Nadira melihat ketiga temannya mengabaikan pesanan mereka yang sudah diantarkan oleh pelayan restoran.
"Kita enggak laper. Kita lagi haus," sambar Ais cepat.
"Tinggal minum. Tuh minumnya juga udah ada kan. Kenapa di anggurin?" tanya Nadira santai.
"Kita itu haus informasi," timpal Aviva mulai gregetan.
"Udah kaya wartawan aja haus info." Nadira masih nampak santai menanggapi ketiga temannya yang kelihatan tidak tenang.
"Udah enggak usah basa basi deh. Lu tau kan kita mau ngomongin apa sama lu?" sambar Ais lagi.
Nadira menghela nafas panjang dengan ketidaksabaran temannya itu.
"Seenggaknya habisin makan dulu kek," sahut Nadira mengerucutkan bibir.
"Seminggu ini gue lihat lu enggak semangat dan suka ngelamun, Nad. Tapi hari ini, kayanya lu lagi happy. Jadi rasa-rasanya sekarang waktu yang paling pas buat ngomong ke elu," ujar Rani turut buka suara.
Nadira lagi-lagi menghela nafas pasrah. "Okay ... okay. Kalian mau ngomong apa?" tanya Nadira pura-pura tak tahu apa yang mau dibicarakan ketiga temannya itu.
"Semakin hari, gosip soal lu makin ga karuan. Tapi perubahan lu belakangan ini, ngebuat kita enggak bisa menyangkal omongan orang-orang soal elu," ucap Aviva.
"Jujur saja, Nad. Gue mulai terpengaruh dengan semua ucapan orang tentang lu. Tapi, kita enggak mau sembarang menuduh sebelum mendengar langsung dari elu," timpal Ais.
"Okay, gue juga enggak mungkin pura-pura enggak tahu apa maksud kalian sebenarnya," jawab Nadira membuat ketiga temannya terperangah.
"Jadi lu tau kalau sekarang lu jadi bahan gunjingan di kantor?" tanya Rani memastikan.
"Ya. Tapi gue pastiin sama kalian kalau gue bukan simpanan siapapun. Gue sebenernya udah nikah sah secara hukum dan agama. Jadi semua isu yang mengatakan kalau gue simpanan, itu enggak bener," jelas Nadira panjang lebar.
Nadira menganggukkan kepala dengan senyum kaku yang ia suguhkan.
"Tapi kata Aldi, lu itu masih single," sambar Aviva tak kalah kaget.
"Gue emang enggak kasih tau status gue yang sebenernya waktu lamar kerja. Jadi semua orang emang enggak tau kalau gue udah nikah."
"Kenapa harus di umpetin soal status lu?" cecar Ais.
"Sebetulnya gue lagi ada masalah keluarga yang berimbas ke pernikahan gue. Dan kemaren itu gue lagi kabur dari bokap gue. Makanya gue enggak kasih tau soal status gue sebenernya."
"Terus?" tanya ketiganya hampir bersamaan.
Sontak Nadira tergelak mendengar kekompakan ketiganya.
"Enggak usah serius-serius amat kenapa sih? Gue udah berasa kaya lagi di sidang tau enggak?"
Nadira kembali mengerucutkan bibirnya melihat wajah serius teman-temannya.
"Ya habis, kita itu ngirain elu beneran ada maen sama Pak Alex," sambar Ais.
"Syukur deh kalau lu itu udah nikah dan enggak ada affair sama Pak Alex," timpal Aviva.
"Mending sekali-sekali lu minta suami lu buat jemput pas pulang kantor. Terus lu kenalin sama kita-kita. Jadi kita bis hajar mulut anak-anak marketing yang suka ngegosipin elu. Terutama si nenek lampir Thalita itu," ucap Rani bersemangat.
"Betul banget itu, Nad," timpal Aviva.
"Iya deh, entar gue kenalin suami gue ke kalian yah," ucap Nadira salah tingkah. "Mending kita sekarang makan dulu, keburu dingin makanannya. Jam istirahat juga udah enggak lama lagi ini," uap Nadira mengalihkan pembicaraan.
Perempuan itu bingung bagaimana cara mengenalkan suaminya pada teman kantornya tanpa membuat mereka terkejut dan jadi sungkan. Untungnya tak ada diantara mereka yang mengaitkan Alex dengannya saatnia mengatakan sudah menikah.