
Nadira seolah tersihir dengan apa yang di ucapkan oleh Alex. Matanya menatap ke kedalaman manik yang memakunya semakin intens. Perlahan tapi pasti Alex mendekatkan wajahnya pada wajah Nadira. Gerakan perlahan itu membuat degup jantung Nadira berpacu hebat.
Nadira mengedip beberapa kali hingga akhirnya merapatkan kelopak mata saat bibir Alex melekat di bibirnya. Perempuan itu hanyut dalam pagutan lembut yang dilayangkan sang suami. Nadira seakan tenggelam dalam buaian bibir Alex yang menari di atas bibirnya.
Kian lama lumata* itu semakin menuntut lebih. Pun dengan tangan Alex yang mulai bergerilya di atas kulit mulus yang masih terhalang kain yang melekat di tubuh Nadira. Meski begitu, Nadira tetap merasakan gelenyar di pusatnya yang dikirim melalui sentuhan-sentuhan lembut di sekujur tubuh.
Perlahan tapi pasti bibir Alex pun turut menyusuri garis wajah Nadira hingga turun ke ceruk lehernya.
"Mas .... " Nadira meletakkan kedua telapak tangannya di dada Alex yang sudah bertelanjang dada.
Nadira bahkan tak menyadari, kapan lelaki itu melepas kaos yang dia kenakan. Pagutan dan sentuhan Alex membuat Nadira mabuk kepayang hingga tak menyadari apa yang sudah terjadi.
"Ada apa," bisik Alex dengan suara seraknya sembari terengah-engah.
Lelaki itu seolah tak sabar melanjutkan aksinya yang terhenti. Matanya sudah berkabut penuh gairah. Namun, perempuan yang masih berada di dalam kungkungannya itu terlihat tak nyaman. Matanya sudah mulai basah dan seakan siap membanjir. Membuat dahi Alex berkerut penuh tanya.
"Maaf," ucap Alex seraya melepaskan Nadira dari pelukannya.
"Aku rasa, aku sudah salah paham dengan kebaikan kamu belakangan ini," ucap Alex tak berdaya.
Perbincangan Nadira dengan temannya tadi siang terlintas begitu saja dipikirannya saat Nadira menghentikan keintiman mereka.
"Udah elu-nya dipaksa deketin Ravka, jadi cewek murahan buat ngerayu dia. Taunya pas elu udah cinta beneran, malah di suruh nikah sama Alex. Sekarang di kejar-kejar sama Kakak sendiri." Ucapan Vanya terus menggema di kepala Alex.
Lelaki itu lantas berbalik dari hadapan Nadira kemudian keluar kamar meninggalkan sang istri yang termangu di tempatnya.
Sementara Nadira baru tersadar dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba hatinya terasa perih saat Alex meninggalkannya begitu saja.
"Kamu pasti mikir yang enggak-enggak, Mas," lirih Nadira seraya terisak.
Perempuan itu lantas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan meringkuk memeluk guling. Dadanya terasa sesak seketika. Pun dengan rasa nyeri yang menyerang ulu hati. Membayangkan kekecewaan Alex padanya.
Bukan Nadira tak menginginkan Alex untuk menjamahnya. Hanya saja, bayangan masa lalu terlintas begitu saja saat Alex tengah mencumbu rayu.
Ia pernah melakukan satu kesalahan fatal dalam hidupnya. Menyerahkan mahkotanya pada lelaki yang dulu membuatnya tergila-gila. Lelaki kurang ajar yang hanya menginginkan tubuh dan hartanya. Cinta pertama yang membuat ia rela melakukan apa saja demi menyenangkannya.
Namun, kehadiran Ravka membuat ia menyadari sebrengsek apa seorang Dirly. Dan kini penyesalan itu menghantam dadanya bertubi. Meninggalkan luka dan penyesalan teramat dalam.
"Apa kamu akan tetap menerima aku jika kamu tahu aku bukanlah wanita baik-baik, Mas?" lirih Nadira dalam tangisnya.
Nadira tak pernah menyangka bahwa rasa sesal itu akan menghantuinya seperti ini. Sudah seharusnya ia menjaga mahkotanya hanya untuk lelaki yang pantas mendapatkannya. Lelaki yang memang berhak akan jiwa serta raganya.
Namun, kini semuanya sudah terlambat. Ia sudah kehilangan muka di hadapan suami yang ia cintai dengan sepenuh hati. Suami yang seharusnya ia hadiahkan mahkota yang kini sudah tak lagi ia miliki. Nadira hanya bisa melampiaskan rasa sesal itu dengan isakan yang mengharu, mencoba mengurangi rasa perih melalui deraian air mata.