
"Apa lu yakin Genta akan percaya?" tanya Vanya ragu.
"Dia pasti ga akan percaya sama lu. Tapi lu bisa gunakan itu untuk mendesak Genta. Mohon pertolongannya untuk bebasin gue. Bilang aja Mas Alex berniat balas dendam," ucap Nadira seraya melirik Alex tak enak hati.
"Terus gimana caranya gue bisa masuk ke kamar lu?"
"Bilang aja Mas Alex juga berusaha mengintimidasi elu supaya mau bantu dia buat balas dendam. Tapi lu gak mau. Karena itu lu datang buat temuin Genta," jelas Nadira semakin yakin dengan apa yang direncanakannya.
"Tapi gue masih belum mengerti, di bagian mananya gue bisa nerobos masuk ke kamar lu?"
"Oh ayolah Vanya. Masa lu masih belum ngerti juga? Ini tuh keahlian elu sebagai ratu drama. Lu kan jago acting," ucap Nadira tak sabaran. "Lu bisa pura-pura histeris demi gue. Terus lu masuk kamar gue, acak-acak kamar gue dengan alasan cari sesuatu tentang Mas Alex yang bisa lu pake buat ngebebasin gue. Lu bisa pake kesempatan itu buat nyelipin dokumen mama di kamar gue."
"Lu lupa kalau itu Genta? Dia orang gila dan gak punya perasaan yang pernah gue kenal seumur hidup gue," desis Vanya.
Wajah Nadira melemah saat melihat keraguan menggayuti wajah Vanya. Hanya Vanya satu-satunya irang yang bisa Nadira andalkan. Tanpa Vanya semuanya akan sia-sia.
"Aku yang akan mendatangi kakak mu dan mengambil semua dokumen milik Mama Shinta," ucap Alex tiba-tiba.
"Aku tahu kamu pasti bisa melakukannya, Mas. Tapi sebelum kita bisa memasukkan berkas perceraian mama ke pengadilan, papa akan melakukan berbagai cara untuk mempersulitnya. Jadi aku tidak mau papa atau Genta mengetahui rencana ini. Aku ingin memutuskan ikatan mama sama papa tanpa sepengetahuan mereka. Saat mereka tahu, aku harap semua sudah terlambat. Baik mama atau aku bisa lepas sepenuhnya dari mereka," jelas Nadira panjang lebar.
Nadira menarik nafas untuk kesekian kalinya. Ia harus memikirkan cara lain agar bisa membuat ibunya berpisah dari ayahnya yang kejam. Bagaimanapun caranya. Namun, ia harus melakukannya tanpa sepengetahuan ayah ataupun kakaknya agar semuanya bisa berjalan sesuai rencana.
"Gimana kalau Genta curiga sama gue?" tanya Vanya tiba-tiba.
"Okay, gue akan coba," ucap Vanya ragu.
"Jangan khawatir, saya akan minta orang buat mengawal kamu dari jauh. Dia akan back up kamu. Kalau sampai Genta berbuat yang tidak-tidak, dia yang akan menolong kamu," ucap Alex angkat bicara.
Ia akan membiarkan Nadira menjalankan rencananya. Akan tetapi, ia akan tetap membantu istrinya itu dengan caranya sendiri.
"Lu serius?" tanya Vanya membulatkan matanya menatap Alex.
"Kamu bisa tenang karena akan ada orang yang menjaga kamu. Kamu hanya perlu fokus pada apa yang Nadira sampaikan," ucap Alex meyakinkan Vanya.
"Kalau begini sih, gue berani. Gue pasti bisa ngedapetin dokumen punya Tantw Shinta."
"Thanks Vanya … cuma lu satu-satunya orang yang bisa gue andelin. Gue …."
"Gak usah drama," potong Vanya cepat. "Ini tuh, gak gratis. Gue akan anggap bantuan gue kali ini sebagai hutang. Dan lu harus bayar hutang lu ke gue," imbuh Vanya seraya tersenyum.
"Deal," ucap Nadira semringah dengan mata berkaca-kaca.
Ia bisa bernafas lega sembari membayangkan kebebasan ibunya. Setidaknya di masa tua ibunya, ia bisa memberikan kebahagiaan untuk wanita yang telah berkorban banyak bagi dirinya.