
Nadira mematung di dalam kamar dengan menahan resah yang membuat salah tingkah. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan di dalam kamar ini. Perempuan itu hanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.
Sebuah ruangan yang lagi-lagi di dominasi warna monokrom memanjakan mata Nadira. Tak banyak barang yang memadati kamar tersebut. Apalagi aksesoris sebagai penghias ruangan, tak dapat Nadira temukan disana. Hingga menghadirkan kesunyian dan kesepian menyelusup ke dalam jiwa.
"Kamu mau mandi lebih dulu?" tawar Alex mengagetkan Nadira dari keterdiamannya.
"A-aku tidak membawa apa-apa, Mas," ucap Nadira spontan.
"Oh iya, aku lupa. Berarti Mama juga tidak membawa apa-apa. Sebaiknya aku melihat kondisi Mama. Kamu mandilah dulu. Nanti aku carikan handuk dan baju ganti," titah Alex seraya keluar kamar begitu saja.
Setelah Alex menghilang di balik pintu, Nadira menghela nafas panjang. Ada hal yang begitu mengganggu ketenangannya. Kebaikan dan perhatian yang lelaki itu berikan selalu bisa membuat jantungnya berdebar.
Meski saat itu, Nadira sempat meyakini bahwa cinta yang ia miliki masih seutuhnya tersimpan untuk Ravka, tapi perhatian yang Alex berikan selalu membuatnya berdebar tak karuan.
Bagaimana dengan sekarang? Di saat ia menyadari bahwa cinta itu telah berpaling dari sang pemilik hati sebelumnya dan berpindah untuk yang berhak mendapatkannya. Apakah ia sanggup menahan debaran itu agar tak nyata terlihat?
Nadira menghempaskan segala pikiran yang mengganggu. Ia harus merileksasikan otot-ototnya dengan guyuran air hangat di kamar mandi. Saat ini, hanya itu hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk menenangkan hati.
"Ah ... aku benar-benar merindukan suasana kamar mandi yang nyaman seperti ini," desah Nadira ketika memasuki kamar mandi bernuansa kayu nan sederhana, tapi tetap memberikan kesan elegan.
Lebih menawan lagi, saat Nadira melihat bath up dengan dinding kaca di sebelahnya. Nampak hamparan langit pekat sejauh mata memandang. Sementara jauh di bawah sana, kerlip cahaya dari lampu kendaraan yang hilir mudik seperti menghipnotis.
Perempuan yang memang sudah terlihat kelelahan itu lantas menyalakan aroma terapi di sudut kamar mandi. Melepaskan pakaiannya perlahan sembari menampung air di dalam bath up.
Posisi Griya Tawang yang berada di lantai tiga puluh dua, membuat Nadira melenggang bebas di dalam kamar mandi tanpa sehelai benang di tubuh. Ia tak perlu khawatir orang lain dapat melihat aktivitasnya yang tengah mandi, terkecuali bintang dan rembulan yang menyapa lirih.
Cukup lama Nadira merasakan pijatan lembut air hangat yang bercampur dengan garam himalaya serta wangi menyegarkan yang kuat dan manis dari bubble bath yang dia campurkan ke dalam bath up. Hingga tanpa disadari, ia terlarut dalam kenyamanan berendam air hangat sembari melongok ke samping, memperhatikan aktivitas di bawah sana yang seolah tak pernah tidur barang sejenak.
"Eh ... i-iya, Mas. Ada apa?" tanya Nadira tersentak dari keasikannya menatap keremangan malam.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Alex khawatir.
"Iya Mas. Aku baik-baik aja kok," sahut Nadira yang mulai menghempaskan segala keindahan duniawi yang sempat membuatnya terbuai.
Mendengar suara sang suami dari balik pintu cukup memantik hingar bingar di dalam dada yang kembali bergemuruh. Sejenak ia melupakan apa yang akan dihadapinya malam ini. Kembali berada satu atap dengan seseorang yang terus mengganggu ketenangan jiwa. Bahkan mungkin ia harus melewati malam ini dengan berbagi ranjang dengan seseorang yang memang berhak atas dirinya. Semakin Nadira menyadari situasinya, jantungnya semakin berpacu hebat.
"Ada handuk bersih di lemari dalam kamar mandi. Kamu bisa pakai itu. Aku sudah siapkan baju ganti untukmu di atas tempat tidur. Aku tinggal ke dapur dulu. Jangan terlalu lama berendam. Kamu sudah hampir satu jam di dalam sana," rentetan perintah yang meluncur santai dari bibir Alex semakin menambah ketegangan dalam diri Nadira. Seolah berendam hampir satu jam lamanya tidaklah memberi efek apapun bagi tubuhnya.
Nadira segera menyelesaikan ritual mandinya manakala mendengar suara langkah kaki Alex menjauh dari kamar. Ia lantas mengambil pakaian di atas tempat tidur dan menyegerakan ayunan kakinya agar bisa membawa pakaian ganti itu ke kamar mandi sebelum Alex kembali dari dapur dan melihat dirinya yang hanya terbungkus handuk.
"Kamu udah selesai mandi, Nad?" tanya Alex dengan pandangan menunduk lantaran menjaga dua gelas berisi teh hangat dicampur madu di tangannya agar tidak tumpah.
Nadira terlonjak kaget mendengar suara Alex saat tangannya baru saja menggapai gagang pintu.
*******************************************
udah segini dulu yah.. palaku mumet gegara tulisanku di obrak abrik si kecil gegara emaknya lalai..
Btw kemaren aku emang nulis mikir alur tok.. sekarang biarkan aku berimajinasi memainkan kata.. yang kurang suka deskripsi panjang dan suka to the point bisa skip wae.. tapi aku pada dasarnya emang lebih suka menulis dengan suasana yang digambarkan detail.. dan pengen mencoba bermain kata.. mungkin kiblat aku novel2 tebel dengan halaman diatas 1000.. Para penulis hebat itu bisa membawaku masuk ke dalam cerita dan menghayal dengan deskripsi detail yang mereka gambarkan.. berharapnya suatu saat aku bisa seperti mereka minimal mendekati.. jadi harap sabar mengikuti alur si author amatir yang berangan menjadi pro ini... tararengkyu...
oh ya yang mau kasih masukan apa yang mesti aku perbaikin dari tulisanku dengan senang hati aku menyambutnya...