
Nadira menghentikan langkah sekejap seraya menahan nafas saat melihat Alex asik memperhatikan layar laptop. Wajahnya terlihat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. Terlihat menawan saat tengah serius seperti sekarang, membuat lelaki itu semakin menggemaskan untuk terus dipandang.
"Hei ... ayo masuk. Mau sampai kapan lu terus ngeliatin dia?" bisik Kemal tepat di telinga Nadira.
Nadira terkesiap dan mengatur nafasnya perlahan.
"Apa dia Alex?" tanya Kemal yang dijawab anggukan kepala oleh Nadira.
Tanpa disadari Nadira, berpasang-pasang mata menatap perempuan itu dengan tatapan bingung dan aneh. Mata Nadira terus mematri sosok Alex dengan penuh kerinduan, hingga tak menyadari bahwa kini ia telah menjadi pusat perhatian.
Nadira mengalihkan tatapannya pada lelaki bernama Andre yang sudah berdiri dihadapan Elroy. Lelaki itu menjabat tangan Elroy sebelum mempersilahkannya menempati kursi kosong di seberang para pemangku kepentingan dari BeTrust. Kemudian lanjut menjabat tangan Aldi.
"Nona Sherly, apa kabar?" tanya Andre saat sudah berada tepat dihadapan Nadira.
"Hmm ... baik," jawab Nadira dengan bibir berkedut memaksakan senyum membingkai bibir tipisnya.
Sementara di ujung sana, Alex spontan mengangkat kepala saat mendengar nama Sherly disebut. Dia mengerutkan dahi seraya mengirimkan tatapan tajam mengujam.
Tanpa sengaja kedua nya bersitatap dengan sorot mata berbeda. Sang pria menatap penuh kebencian sementara sang wanita menatap penuh luka. Lama kelamaan, keberanian Nadira seolah menguap. Dengan segera ia mencengkram lengan Kemal untuk mendapat suntikan kekuatan agar bisa bertahan pada situasi yang sangat tidak mengenakkan.
Kemal lantas menumpukan tangannya yang satu lagi di atas tangan Nadira yang mencengkram lengannya. Meremas jemari tangan perempuan yang terlihat kepayahan menahan gejolak yang menguasai hatinya saat ini.
"Apa kamu tidak apa-apa?" bisik Kemal lembut seraya mencondongkan wajahnya ke telinga gadis itu.
Nadira hanya menggeleng dan berjalan tertatih menuju kursi, masih sambil memegang lengan Kemal.
Nadira berusaha menghindar dari tatapan Alex yang telah memindahkan sorot mata pada pertautan tangan Nadira dan Kemal. Lelaki itu nampak mengetatkan rahang hingga giginya bergemelutuk.
Nafas Alex kian memburu saat melihat kedekatan keduanya. Ada rasa marah kala Nadira seolah memperlihatkan kenyamanan bersama pria lain di sisinya.
"Baiklah, untuk mempersingkat waktu, saya rasa ada baiknya kita memulai meeting kali ini," ucap Andre memutus kontak mata Alex pada Nadira.
Dengan sangat halus Alex mampu mengontrol emosi dan menetralkan suasana hati. Bagaimanapun keprofesionalan harus ia tunjukan di hadapan para bawahan. Hingga tak terasa meeting berakhir sempurna.
"Baiklah kalau semua sudah fix, kita sudah bisa memulai produksi tiga sampai empat hari mendatang," ucap Elroy dengan wajah penuh kepuasan.
"Kami akan menunggu kabar baik dari anda, Pak Elroy."
"Tentu. Saya akan mengabari anda segera. Kalau begitu kami pamit undur diri," ucap Elroy pada seluruh orang di dalam ruangan.
"Kalau begitu, kita tunggu di bawah aja ya. Ga apa-apa kan kamu nyusul ke bawah?" tanya Elroy.
"Iya pak. Ga apa-apa. Nanti saya langsung nyusul ke bawah."
Nadira langsung melenggang menuju toilet yang tentu saja sudah dia hapal betul dimana letaknya. Saat baru saja hendak membuka pintu, Sebuah cekalan menahan gadis itu untuk masuk ke dalam toilet. Hampir saja Nadira berteriak lantaran kaget saat seseorang mencengkeram erat lengannya. Namun, lirikan mata Nadira menangkap sosok yang mencengkeram tangannya dengan kuat.
"Mas Alex?" Nadira membulatkan kedua bola mata terperangah.
"Apalagi rencanamu sekarang?" desis Alex tajam.
"Ma-maksud Mas Alex apa?" tanya Nadira terbata-bata.
"Tidak usah sok lugu. Aku tidak akan lagi kemakan tipu dayamu. kuperingatkan kau, jangan lagi berani macam-macam dengan keluargaku."
"Sumpah Mas, aku benar-benar tidak ada niatan buruk kepada kamu, apalagi keluarga kamu," ucap Nadira dengan suara mulai bergetar seraya menahan luapan air mata yang mulai merambah naik ke pelupuk mata.
"Bullshit. Kau pikir aku keledai yang akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya?"
"Aku kesini hanya untuk bekerja, Mas. Tidak lebih."
"Kau pikir aku percaya dengan segala omong kosong mu itu? Untuk apa kau bekerja pada perusahaan kecil macam De' Advertising kalau bukan untuk berusaha mendekati ku lagi?" Alex tersenyum meremehkan Nadira. "Apakah Si Br*ngsek itu begitu kecewanya karena kegagalanmu? Sampai kau dibiarkan melakukan berbagai macam cara untuk mendekatiku? Bahkan kau rela merendahkan diri menjadi jongos di perusahaan kecil?" desis Alex lagi.
"Mas ... aku mohon lepaskan tanganku," desis Nadira yang sudah tak kuat menahan sesak yang menghantam dada, mendengar segala tuduhan lelaki yang sudah mengisi penuh namanya di hati.
"Lepas Mas, sakit," ucap Nadira seraya berusaha menarik lengannya yang semakin dicengkeram erat oleh Alex seiring emosi lelaki itu yang semakin memuncak.
Nadira berusaha keras menahan perih yang begitu menusuk jantungnya. Satu kata, hanya tinggal satu kata saja yang keluar dari mulut pemuda itu, sudah pasti akan meluruhkan semua tangis yang berkumpul tak sabar hendak diluapkan.
Mata gadis itu sudah berkabut penuh air mata dengan wajah memelas menahan kesakitan. Alex dapat melihat kepedihan yang tercetak jelas diwajah tanpa polesan make up sempurna seperti yang selama ini diperlihatkan gadis itu padanya.
Perlahan Alex melepaskan cengkeraman tangannya tanpa mampu berkata-kata. Ia biarkan saja Nadira berlalu memasuki toilet. Lama dia terdiam kaku berdiri di tempatnya, hingga akhirnya pemuda itu memutuskan kembali ke ruangan kerja miliknya.
Sementara di dalam toilet, Nadira duduk di atas closet dalam salah satu bilik toilet. Gadis itu mer*emas dadanya dengan kencang, berupaya menghalau perih yang mendera.
Air matanya berhamburan menumpahkan segala sesak dalam dada. Nadira berusaha menahan isaknya agar tak lolos dari bibirnya yang bergetar. Ia tak mau kalau sampai Alex menyadari keterpurukannya. Gadis itu hanya bisa mengisak dalam diam. Sesenggukan seraya membiarkan air mata tumpah ruah.
"Kenapa Mas, kenapa aku harus bertemu lagi dengan mu," lirih Nadira.