PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 10# Tertunduk Malu



Nadira menggigit bibir bawahnya saat ia mulai melangkah memasuki lobi gedung kantor perusahaan besar yang akan bekerjasama dengan peusahaan tempatnya mencari nafkah. Ia sedikit menundukkan pandangan. Berharap tak satupun orang di dalam sana mengenali dirinya.


Namun, hal itu tak ubahnya berharap pungguk merindukan bulan. Seuatu yang sangat mustahil. Bertahun-tahun ia keluar masuk gedung perkantoran ini selayaknya rumah kedua. Dari karyawan paling senior hingga karyawan yang baru bergabung dengan BeTrust sudah sangat mengenalinya.


Siapa yang tak kenal seorang Sherly Nandira Adijaya, kekasih dari salah satu pewaris tahta kerajaan bisnis milik Dinata Group, Ravka Mahendra Dinata yang kemudian justru menikahi sang pewaris utama, Alex Cesario Dinata.


"Ah ... Kenapa begitu sulit bagiku untuk memulai hidup baru," desah Nadira pasrah.


Ada sesak yang membelenggu, membuat hatinya berteriak untuk menjauh. Namun, ia tak serta merta bisa memilih pergi begitu saja. Nadira mengambil langkah paling belakang, mencoba menghindar dari tatapan banyak mata yang mulai dilayangkan padanya.


Semua kejadian lalu tergambar di hadapannya dalam sebuah layar lebar yang mengawang di pelupuk mata. Ia seolah bisa melihat bagaimana seorang Sherly Nandira berjalan memasuki gedung dengan mengangkat dagu, tapi kini ia hanya bisa tertunduk malu.


"Permisi, anda dari mana dan mau bertemu siapa?" tanya seorang pria berseragam Petugas Keamanan dengan nada agak ragu.


Petugas itu mencuri-curi pandang pada satu-satunya perempuan diantara rombongan. Tentu saja ia sangat mengenal wajah perempuan itu. Namun, penampilan, gaya dan tingkahnya sungguh berbeda. Membuat ia terpaksa mengambil keputusan menjalankan protokol keamanan dengan resiko kena damprat.


"Kami dari De' Adevertising. Ada janji temu untuk meeting dengan Pak Andre," jawab Elroy.


"Kalau begitu tunggu sebentar," ucap Petugas Keamanan tersebut masih sambil melirik Nadira dengan kerutan tercetak jelas di keningnya.


Lelaki berseragam safari hitam tersebut mengarahkan rombongan Elroy mengikutinya ke meja resepsionis, untuk mengecek kebenaran ucapan Elroy.


"Mereka diminta naik ke lantai dua puluh delapan." ucap perempuan dibalik meja setelah melakukan panggilan telepon.


Perempuan tersebut juga sama seperti sang Petugas Keamanan. Terlihat memicingkan mata curiga. Namun, ia nampak berusaha menetralkan ekspresi wajah.


"Mari ikuti saya," ucap Petugas Keamanan sembari melangkah menuju deretan lift yang akan membawa mereka ke lantai atas.


Petugas kemanan itu lantas mengantar mereka menuju lantai dua puluh delapan. Di dalam lift, jantung Nadira semakin berdebar tak karuan. Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.


"Kenapa harus di lantai dua puluh delapan, sih? Bukannya disana hanya ada ruangan meeting khusus untuk dewan direksi? Bukannya sekarang hanya meeting untuk mempresentasikan lay out kasar? Kenapa ga di lantai tujuh aja sih?" Pertanyaan demi pertanyaan di dalam kepala semakin membuat Nadira gelisah.


Bukan tanpa sebab perempuan itu semakin salah tingkah. Lantai dua puluh delapan adalah lantai yang selalu ia kunjungi setiap saat. Entah sebagai tunangan Ravka atau setelahnya, saat ia sudah menyandang status Nyonya Alex Dinata.


Semua sekretaris Direksi yang duduk di balik meja di depan ruangan atasannya masing-masing, tak ada yang tidak mengenalnya. Lantai dua puluh delapan memang diperuntukkan khusus sebagai lantai yang berisikan ruangan-ruangan kerja para Direktur dan CEO BeTrust, serta satu ruangan meeting yang khusus dipergunakan oleh para Direksi. Hal itu dilakukan untuk memudahkan komunikasi antar Direktur BeTrust.


"Lu ga apa-apa, Nad?" bisik Kemal di sebelahnya saat melihat wajah pias Nadira.


Nadira menggelengkan kepala lemah. Kakinya sudah gemataran lantaran tak siap menghadapi situasi yang akan menyiksa batinnya. Hanya satu harap tersisa. Ia tak bertemu dengan Sang Penguasa BeTrust.


Kemal tak percaya begitu saja. Tindak tanduk Nadira memperlihatkan ada hal tak biasa yang perempuan itu coba tutupi.


"Lu sakit? dah sarapan belom?" tanya Kemal memperlihatkan kekhawatirannya.


Hampir saja Nadira menjawab iya. Akan lebih mudah baginya jika berpura-pura sakit. Bisa saja ia menghindar dari pertemuan yang mungkin saja bisa membuatnya benar-benar merasakan sakit. Namun, akalnya lebih menguasai jiwa. Ini adalah kesempatan pertama setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan. Ia tak akan menyia-nyiakannya dan membuat Ibunya kecewa hanya karena tak bisa menguasai diri.


"Ini kantor Mas Alex," bisik Nadira kepada Kemal.


"What? Lu serius?" tanya Kemal tak dapat menahan keterkejutannya.


"Ada apa, Mal?" tanya Elroy heran.


"Eh enggak Boss. Sorry," jawab Kemal cengengesan.


Elroy rak lagi menggubris Kemal yang memang dia anggap slengean dan suka serampangan tak tahu tempat. Ia sudah memaklumi sifat partner kerja yang juga teman dekat adiknya.


Nadira mendelik tajam saat pandangan Kemal kembali padanya. Ia tak mau kalau sampai Elroy maupun Aldi mengetahui kisah hidupnya yang pilu. Cukup ia pendam sendiri kepiluan yang menusuk kalbu.


"Sorry," ucap Kemal tanpa suara kepada Nadira.


Nadira hanya mengayunkan bibirnya berniat menciptakan senyum disana. Namun, rasanya senyum enggan bersahabat dengan hati, hingga hanya lengkungan tipis tercipta di bibir tanpa makna berarti.


"Jadi?" bisik Kemal saat menadapati Nadira kembali diam membisu setelah mengungkapkan fakta menggelitik jiwa.


"Ya jalanin aja. Mau gimana lagi?" balas Nadira.


Kemal hanya mendesah pasrah. Memang tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali pasrah. Masalah memang harus dihadapi bukan untuk dihindari. Lagipula sudah saatnya Nadira mengahdapi kemelut rumah tangganya, pikir Kemal. Ia hanya harus berdiri disamping Nadira agar bisa memberinya dukungan penuh.


Mereka berjalan menuju ruangan yang terletak paling ujung. Nadira tentu tahu kemana mereka harus melangkah. Namun, ia mengambil posisi paling belakang agar bisa terhindar dari pusat perhatian. Sayangnya hal itu tak dapat ditepis. Tatapan penuh tanya dilayangkan beberapa pasang mata yang duduk dibalik meja.


"Hei, tenanglah. Cuek aja ... Ga usah hiraukan orang lain," bisik Kemal pada Nadira yang sedang memainkan jemari mengusir gugup.


"Kamu tahu Mal, rasanya dipermalukan? Aku sering kali melakukannya tanpa menyadari dampaknya. Sekarang aku merasa menelanjangi diriku sendiri," ucap Nadira berkaca-kaca karena rasa malu yang menguasai hati.


"Kamu tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu. Tapi kamu bisa belajar dari masa lalu untuk menata masa depan. Sekarang tegakkan kepalamu. Kamu tidak berbuat salah disini. Jadi untuk apa kamu menundukkan pandanganmu," ucap Kemal memberi suntikan semangat.


Nadira menengadahkan kepala menatap lelaki berkulit kecoklatan di sebelahnya. Seseorang yang selalu ada untuk dirinya di masa-masa sulitnya.


"Tuhan masih menyangiku dengan menghadirkan kamu di hidupku. Terimakasih Kemal," lirih Nadira dalam hati seraya melemparkan sorot mata penuh terimakasih pada lelaki itu.


Kemal mengusak kepala Nadira lembut. "Ingatlah, kamu kesini untuk bekerja. Jadi lakukan pekerjaanmu sebaik mungkin. Kalau kamu terus memikirkan masa lalu, maka kamu tidak akan pernah maju. Tunjukkan pada mereka siapa seorang Nadira."


Nadira kemabli menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia mempersiapkan diri mengahdapi takdir yang seolah tak berpihak padanya. Memainkan kehidupannya sedemikan rupa hingga menjungkir balikkan kehidupan indahnya yang tak bermakna. Saat mulai menata hidupnya agar lebih bermakna, ia kembali dihadapkan pada masa lalu yang serasa enggan menjauh.


"Silahkan ... Pak Andre sudah menunggu di dalam," ucap petugas keamanan seraya membuka pintu ruangan besar.


Nadira kembali tersentak saat suara petugas keamaan menggema di telinga. Ia berusaha menegakkan kepala saat berjalan mengekori Elroy dan Aldi memasuki ruangan.


Matanya langsung menangkap sosok yang terus membayangi hari-harinya selama ini, tengah duduk bersedekap di depan laptopnya.