
Nadira hanya mengaduk-aduk bakso dalam mangkok yang sedari tadi di letakkan Rani di hadapannya. Ia sama sekali tak berselera memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Heh, makanan buat di makan. Jangan di maenin doang," titah Rani melihat Nadira masih tak bersemangat.
Sudah hampir satu jam wanita itu duduk di sana dengan wajah kusut tanpa melakukan apa-apa, membuat Rani iba.
"Lu aja deh yang makan," ucap Naira akhirnya seraya menggeser mangkok bakso itu lenih mendekat pada Rani.
"Ih, ogah. Udah dingin. Gue gak doyan makan bakso yang udah dingin," tolak Rani cepat. "Udah makan aja sih, biar dikit seenggaknya perut lu ke isi. Lagian lu gak niat kerja? Tar diomeli Aldi loh."
Nadira menarik nafas panjang dan mengembuskan dengan kasar. Rani benar, ia masih ada tanggung jawab pekerjaan yang tak bisa di abaikan. Mau tak mau, ia mengunyah bakso yang terasa hambar di lidah.
Baru dua suapan, Nadira sudah menghentikan makannya. Selera makannya benar-benar menghilang.
"Gak enak, Ran," ucap Nadira seraya mengerucutkan bibir.
"Huh, dasar cewek galau. Biasanya juga lu kalo makan bakso Mang Diman lahap bener. Udah tinggalin di situ aja. Tar buar gue yang habisin," ucap Rani akhirnya.
Percuma memaksa Nadira makan di saat hatinya sedang galau seperti sekarang. Toh wanita itu sudah dewasa. Kalau lapar juga pasti akan makan tanpa diperintahkan.
"Gue balik ke atas yah," ucap Nadira kemudian.
"Udah sana buruan. Lu udah kelamaan ngelewatin jam kerja. Tar di damprat Aldi lagi," titah Rani yang di turuti oleh Nadira.
Wanita itu berjalan dengan langkah gontai. Tak ada semangat yang membersamainya untuk meneruskan pekerjaan. Namun, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab.
Satu ruangan mengernyitkan dahi melihat tampang Nadira yang kusut saat ia sedang berjalan menuju kubikelnya.
"Heh, lu kenapa?" bisik Aviva yang duduk persia di sebelah kubikel Nadira.
Nadira hanya menggeleng kepala lemah. Ia menyalakan komputernya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang sudah terbengkalai.
Aviva hanya mengedikkan bahu melihat tingkah Nadira. Ia kembali sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Pun dengan Nadira yang mulai bisa mengalihkan pikirannya pada pekerjaan. Nadira tenggelam dalam pekerjaan hingga tak menyadari waktu yang berlalu.
"Ha? udah jam pulang kantor ya?" tanya Nadira seraya mengangkat kepala menatap Aviva yang berdiri menyender pada kubikelnya.
"Guys kita mampir di cafe ujung jalan yuk. Penasaran sama cafenya," ajak Ais setengah berteriak pada rekan kerja satu ruangan.
"Yang baru buka itu, ya?" sambar Jono.
"Hayuk lah, udah lama kita gak nongki bareng," ucap Denis bersemangat.
"Gue ajak cewek gue, yah," sambar Irfan sudah siap dengan ponsel untuk menghubungi kekasihnya.
Riuh suara teman-temannya membuat Nadira tak enak hati untuk menolak. Lagipula saat ini ia memang butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran negatifnya. Menghabiskan waktu bercanda dengan para rekan kerjanya yang kadang bersikap konyol bisa jadi obat mujarab baginya untuk saat ini.
"Hey, lu kenapa sih? dari balik kantor sampe sekarang mukanya ketekuk mulu?" tanya Aviva di sebelah Nadira saat mereka tengah berjalan menuju parkiran.
Mereka berdua berjalan paling belakang. Di depannya teman-temannya sedang asik bercanda tawa.
"Enggak kok. Enggak kenapa-napa," jawab Nadira seraya memaksakan senyum di bibir.
"Yakin?"
"Yakin."
"Ya udah, kalau begitu ayo gabung sama yabg lain."
Aviva menyeret Nadira berjalan menyusul teman-temannya.
Namun, saat keduanya menyusuri anak tangga, tiba-tiba mereka mendengar kasak kusuk teman-temannya yang sudah menghilang dari ujung tangga.
*******************************************
tar sore di lanjut yah...