PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 125#



Baru saja melangkahkan kaki keluar kamar, Alex dan Nadira berpapasan dengan Erika. 


"Mama ...." sapa Alex kaget melihat keberadaan ibunya dengan satu nampan berisi makanan di tangannya. 


"Kalian mau kemana?" tanya Erika seraya mengerutkan dahi. 


"Mau ketemu mama. Ada yang ingin kami sampaikan," jawab Alex. 


"Bawa lagi istri mu masuk ke dalam. Bukankah dia harus banyak-banyak istirahat."


"Eh? oh ... i-iya," ucap Alex gugup  


Alex kembali menyeret Nadira masuk ke dalam kamar. Sementara Erika mengekor di belakangnya dan meletakkan bawaannya di atas meja. 


"Mulai sekarang, kamu harus lebih memperhatikan asupan gizi Nadira. Biasanya wanita hamil muda sulit untuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Tidak harus makan banyak sekali makan. Sedikit-sedikit yang penting sering," ucap Erika panjang lebar setelah meletakkan berbagai jenis hidangan yang sudah ia buatkan khusus untuk Nadira.  


Nadira dan Alex hanya terbengong beberapa saat melihat sikap Erika yang memperhatikan kondisi Nadira. 


Alex langsung menyerbu ke dalam pelukan ibunya saat mulai tersadar dari keterkejutannya. 


"Terima kasih, Ma. Terima kasih mama mau memaafkan kami," ucap Alex masih mendekap tubuh ibunya dengan erat. 


"Mama marah karena mama tidak ingin kamu disakiti dan dipermainkan Alex. Tapi sekarang mama sadar, bahwa kamu bahagia dengan pernikahan mu. Mama yang sudah khawatir berlebihan," ucap Erika seraya mengusap punggung Alex. 


"Aku tahu mama memang orang tua terbaik yang patut aku syukuri. Aku beruntung punya mama yang selalu memikirkan kebahagiaan ku," ucap Alex seraya melepaskan pelukannya.


"Sudahlah. Sebaiknya kamu suapi istrimu. Jangan sampai dia pingsan karena kamu tidak bisa menjaga kondisinya dengan baik. Dulu papa kamu selalu bisa diandalkan saat mama mengandung kamu," ucap Erika dengan mata berkaca-kaca. 


Alex meraih tangan ibunya dan membawanya ke dalam genggaman tangannya. Ia tahu seberapa besar rasa kehilangan yang selalu dipendam oleh ibunya selama ini.


Rasa cinta diantara mereka memang sangat terasa semasa ayahnya kasih hidup. Hal itulah yang membuat wanita paruh baya di hadapannya itu tak pernah berfikir untuk mencari pengganti ayahnya meski ia ditinggal oleh sang suami di usia yang terbilang cukup muda. 


Erika menepuk-nepuk punggung tangan putra semata wayangnya itu. Tak menyangka bahwa ia bisa melewati waktu panjang membesarkan Alex serta menyaksikan pemuda itu membangun keluarganya sendiri. 


"Oh iya, tadi kamu bilang ada yang mau disampaikan ke mama. Memangnya kamu mau bilang apa?" 


Erika mengerutkan dahi menatap Alex.


"Aku mau memberitahu mama kalau Nadira hamil," ucap Alex cengengesan.


"Bukan kah tadi Tante Friska sudah bilang kalau istri kamu hamil?" tanya Erika seraya melepaskan genggaman tangan Alex dan meninggalkan putranya itu. 


"Tadi kan Tante Friska cuma menduga. Tapi barusan Nadira habis cek pakai testpack dan hasilnya positif," jelas Alex seraya mengekori ibunya menghampiri Nadira. 


"Terima kasih, untuk perhatian mama," lirih Nadira saat sang mertua sudah berdiri tepat di hadapannya. 


Nadira mengangkat kepala mencoba menatap ibu mertuanya dengan gugup. 


"Aku bener-bener minta maaf untuk semua kesalahan ku yang telah lalu. Aku ... aku ...." Nadira menarik nafas perlahan. 


Wanita itu tak kuasa membendung tangis mengingat semua kesalahan yang telah dilakukannya. Ia hanya berharap diberi kesempatan kedua untuk menunjukkan tekadnya memperbaiki apa yang sudah terlanjur ia rusak. 


"Sudahlah. Mama sudah memaafkan mu. Walaupun sejujurnya mama belum bisa mempercayai kamu sepenuhnya, tapi mama berharap kehamilan kamu bisa membuka lembaran baru untuk kita membangun sebuah ikatan yang lebih kuat dan tidak rapuh."


Nadira mengangguk cepat. Tentu sajania dapat memahami jika wanita di hadapannya ini tak bisa serta merta mempercayainya begitu saja. Semua butuh waktu untuk pembuktian. Akan tetapi, setidaknya ia masih diberi kesempatan itu.


"Sekarang tugasmu adalah menjaga kehamilan mu baik-baik. Buktikan kalau kamu serius membangun rumah tangga bersama Alex." 


Lagi-lagi Nadira hanya mengangguk kepala dengan cepat. Pipinya terus dibanjiri air mata kebahagiaan mendapat pengakuan dari mertuanya. Satu masalah sudah terselesaikan, membuat hatinya lega. Kebahagiaannya terasa semakin sempurna. 


"Makanlah, mama sudah membuatkan makanan bergizi untuk kamu. Mama juga sudah menyiapkan beberapa cemilan un ...."


Belum selesai Erika bicara, Nadira sudah memeluk erat wanita itu. 


"Terimakasih, Ma. Terima kasih," ucap Nadira sambil sesenggukan. 


Erika hanya mengurai senyum sembari mengangkat sebelah tangannya mengusap lembut kepala Nadira. Ada perasaan lega yang juga memenuhi dada Erika.