
Nadira menghela nafas panjang. Dia sama sekali tak menyangka kalau ternyata Thalita semenyebalkan ini. Pantas saja banyak orang yang mengeluhkan kehadiran perempuan itu, pikir Nadira.
"Ya mau pulang lah Mbak. Kan emang udah waktunya jam pulang kantor," jawab Nadira santai tak merasa terintimidasi.
"Songong banget lu ya. Karyawan baru aja belagu lu," sembur Thalita ketus.
"Maaf Mbak … Tapi ada perlu apa ya?" tanya Nadira dengan ekspresi malas terpatri di wajah.
"Gue itu muak liat muka lu yang sok tebar pesona. Ga usah berharap lu bisa nyaingin gue. Gue ingetin lu buat pertama dan terakhir kalinya. Ga usah sok cantik. Cewek kaya elu itu ga pantes bersanding sama Alex."
"Ga usah di ingetin juga aku tau diri, Mbak," jawab Nadira tak kalah ketusnya.
Nadira sadar betul betapa besar jurang antara ia dan Alex. Namun, kebaikan lelaki itu semalam, sempat membuat ia menggantungkan harapan. Sayangnya sang suami begitu gamblang memperlihatkan kebencian. Membuat Nadira tersadar akan segala dosa yang telah ia lakukan hingga membuatnya tak pantas berada di sisi sang suami.
Seharian ini, ia sudah mengerahkan segala daya dan upaya agar bisa mengubur asa yang menari di dasar hati. Meskipun rasanya sulit untuk mewujudkannya hanya dalam sekejap mata. Perkataan Thalita barusan seolah alarm pengingat bagi dirinya yang menambah rasa nyeri di dada.
"Lu pikir gue percaya sama omongan lu gitu aja, ha?!"
"Maksud Mbak Thalita apa sih? To the point aja sih Mbak, ga usah muter-muter," desis Nadira mulai tak sabar.
"Buat apa Alex nyariin Lu?" Sembur Thalita seraya mengetatkan rahang.
"Mas Alex? Nyariin aku?" lirih Nadira seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Berarti tadi beneran Mas Alex yang nyariin aku?" batin Nadira.
"Sok centil banget Lu, pake manggil Alex, Mas," geram Thalita yang membuat Nadira tersentak dari lamunan.
"Mbak, tolong lepasin. Aku mau pulang sekarang," ucap Nadira seraya menarik lengannya yang masih di genggam Thalita dengan erat.
"Mbak please … Aku juga belum ketemu sama orangnya. Jadi aku mana tau ngapain dia nyariin aku," ucap Nadira semakin tak sabar.
"Halah … Pasti lu yang udah kecentilan ngedeketin Alex dan ngerayu dia supaya bertekuk lutut sama Lu," ucap Thalita tak perduli dengan Nadira yang semakin tampak gusar.
"Ga usah ngukur baju di badan sendiri, Mbak."
"Ngomong apa lu barusan?" tanya Thalita heran.
"Mana ngerti dia Nad sama sindiran lu. Ga nyampe otaknya," kekeh Rani yang ternyata sudah berdiri di sebelah Nadira.
"Heh … Diem Lu, gue ga nanya elu. Ga usah ikut campur," balas Thalita semakin geram.
Hampir saja Rani akan membalas perkataan Thalita. Namun, Nadira menggelengkan kepala seraya mengedipkan mata sebagai tanda agar ia tak meneruskan bicaranya.
Rani dapat memahami jika Nadira tidak ingin ia ikut terseret masalah dengan Thalita yang terkenal sebagai biang kerok di kantor mereka. Segera Rani berlalu meninggalkan mereka berdua dengan menahan geram.
"Gini yah, Mbak. Kita bukan anak SMU lagi yang harus jambak-jambakan gara-gara cowok. Jadi tolong lepasin tangan Mbak Thalita. Lagipula ga semua orang kelakuannya kaya Mbak," ucap Nadira setelah Rani meninggalkan mereka berdua.
Wajah Thalita merah padam mendengar penuturan Nadira. Dengan segera dia melepaskan cengkraman tangannya di lengan perempuan yang sudah membuatnya naik darah sedari tadi. Thalita tak mengira bahwa perempuan rendah seperti Nadira berani melawannya seperti ini. Bahkan tak sedikitpun wanita itu memperlihatkan rasa takut.
"Berani lu sama gue?! Lu pikir gue ga bisa ngedepak lu dari kantor ini?"
"Serah Mbak deh. Aku masih banyak urusan." Nadira melengos pergi begitu saja tanpa menghiraukan Thalita yang sudah mengepalkan tangannya.
Nadira sadar betul orang seperti apa Thalita. Semakin diladeni maka perempuan itu akan semakin menjadi.
Bukan tanpa sebab Nadira bisa membaca perilaku Thalita. Bagi perempuan berhidung Bangir itu, kelakuan sang manajer marketing belum seberapa dibanding dirinya dulu. Jadi ia memilih untuk tidak meladeni Thalita. Karena cara satu-satunya menghadapi orang seperti Thalita adalah dengan tidak memperdulikannya.