PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 8# Ikut Rapat



Nadira sibuk berpindah dari satu meja ke meja lainnya. Tugasnya pertamanya adalah menjadi penghubung antara copywriter serta ard director yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Menyatukan lembaran-lembaran kertas yang sedang dibuat oleh anggota tim kreatif dan menyerahkannya kepada head creative yang tak lain adalah Aldi.


Sambil mengerjakan tugas sederhana sebagai pekerja pemula, Nadira melihat-lihat isi kertas-kertas yang dipegangnya. Sebagai penyandang gelar Sarjana Seni dari hasil menimba ilmu sebagai Mahasiswi Desain Komunikasi Visual, Nadira dapat memahami isi lay out kasar yang tengah di buat oleh rekan-rekan kerjanya. Secepat kilat ia mempelajari isi tulisan dan sketsa di atas kertas putih berukuran A4 itu dan membandingkannya dengan memori di dalam kepala.


"Bagaimana? apa semua sudah siap?" Suara milik seorang lelaki yang nampak berkharisma membuat semua orang dalam ruangan menghentikan aktivitasnya.


"Tinggal finishing aja pak." Aldi angkat suara menjawab pertanyaan lelaki yang berdiri gagah mengenakan jas lengkap dengan dasi yang menghiasi kerah kemejanya.


"Satu jam lagi saya sudah harus berangkat untuk menemui client kita. Jadi apa bisa selesai sebelum itu?" tanya lelaki itu lagi.


"Sudah Pak. Semua akan siap dalam satu jam." Aldi mengangguk pasti.


"Baiklah kalau begitu. Selamat bekerja. Saya minta maaf kalau membuat kalian harus lembur sampai pagi. Tapi ini demi kemajuan kantor kita. Jika proyek ini sukses, kalian semua akan mendapat bonus," ucap lelaki tersebut menambah semangat para karyawan yang tadinya sudah menunjukkan wajah-wajah lelah.


Namun, mendengar kata bonus membuat wajah kuyu kembali segar layaknya mendapat suntikan vitamin dosis tinggi.


Lelaki itu kemudian berjalan melewati kubikel yang ditempati para tim kreatif dan produksi menuju sebuah ruangan besar di bagian agak belakang. Sementara di belakangnya, seorang wanita dengan dandanan mencolok terus mengekori lelaki itu memasuki ruangan yang sama.


"Itu siapa, Pak?" tanya Nadira tak dapat menahan rasa penasarannya.


"Itu owner agency ini sekaligus pegang jabatan sebagai account executive. Namanya Pak Elroy," jelas Aldi sekilas.


Sesuai dengan penjelasan Aldi kemarin siang, jabatan rangkap memang sudah biasa di pegang oleh seluruh karyawan perusahaan biro iklan yang terbilang masih merintis menapaki gemerlap dunia bisnis.


Namun, Nadira tak menyangka jikalau jabatan rangkap juga masih harus dipegang oleh sang pemilik perusahaan yang terlihat masih berusia muda.


"Terus tadi yang perempuan siapa?" tanya Nadira lebih penasaran akan sosok wanita yang kemarin sempat membuat hati gadis itu menciut.


"Sepertinya ini menejer marketing yang semalam sempat dibicarakan oleh Kemal," gumam Nadira dalam hati.


Perempuan bermata bulat dengan bulu mata lentiknya itu lantas menekuni pekerjaannya kembami. Membantu para seniornya menyiapkan draft yang akan dibawa rapat oleh Elroy saat bertemu dengan Client. Hingga hampir satu jam berlalu. Semua draft sudah mereka selesaikan dan siap dibawa oleh Elroy untuk dijabarkan di hadapan client.


Kesemua karyawan akhirnya bernafas lega. Sebagian dari mereka sudah memejamkan mata di bangku kerja sembari menelungkupkan kepala di atas meja. Sebagian lagi dengan wajah semrawut mengatakan tak lagi sanggup untuk melanjutkan pekerjaan hari ini. Jadilah Aldi mengizinkan seluruh anggota tim kreatif kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Pak Aldi ga ikut pulang?" tanya Nadira saat melihat lelaki itu masih menyusun berkas dan merapikan meja besar yang berantakan.


"Ga usah panggil Pak. Panggil Aldi saja. Semua karyawan disini masih pada muda-muda. Jadi kita semua sudah seperti teman," ujar Aldi santai.


"Eh iya, Al. Kok ga ikut pulang? Bukannya tadi malem kamu ikutan lembur?" Nadira kembali bertanya.


Bukan tanpa alasan perempuan itu menanyakan hal demikian pada seseorang yang baru saja menjadi atasannya. Nadira ingat betul pakaian yang dikenakan oleh Aldi kemarin sama persis dengan yang ia kenakan saat ini.


"Aku semalem sempet tidur sebentar. Soalnya emang prepare buat hari ini. Soalnya aku pasti bakalan diminta Pak Elroy buat ikut meeting. Jadi anak-anak push semalaman sampai pagi. Aku yang lanjut kerjaan mereka," jelas Aldi dengan sabar menghadapi perempuan di hadapannya yang lumayan banyak tanya.


"Oh iya, berhubung anak-anak udah pada pulang, kamu ga bakalan ada kerjaan sampai nanti sore. Jadi sebaiknya kamu ikut saya meeting di kantor client deh. Sekalian kamu belajar. Lagipula aku liat tadi kamu lumayan memahami isi lay out ini." Titah Aldi membuat Nadira mematung ditempatnya.


Nadira kaget mendengar perintah Aldi lantaran ini adalah pengalaman pertama dia bekerja, tapi sudah di ajak untuk ikut rapat bersama client.


"Nih, kamu pelajari dulu lay out-nya. Aku mau ganti baju dulu, gerah. Sepertinya istriku sudah datang mengantarkan pakaian ganti dan sarapan untuk ku. Aku tinggal dulu Nad. Kalau Pak Elroy cari aku, bilang aja aku lagi sarapan di pantry."


Setelah memberikan perintahnya, Aldi lantas meninggalkan Nadira yang masih terbengong di tempat dengan lembar-lembar kertas di tangannya.