
Alex menahan nafas saat mendengar derit pintu kamar mandi. Matanya langsung tertuju pada Nadira yang muncul dari balik pintu. Ekspresi istrinya itu sama sekali tak terbaca oleh Alex membuat kegelisahan yang menyergapnya semakin menjadi-jadi.
"Bagaimana?" tanya Alex setelah berhasil mengurai sedikit ketegangan yang menghantamnya.
Nadira nampak menghela nafas tak bersemangat, membuat perasaan Alex semakin tak karuan.
"Tenang saja, tidak usah khawatir. Apapun hasilnya, itu pasti yang terbaik untuk kita saat ini," ucap Alex saat melihat wajah Nadira terlihat datar.
Nadi meraih tangan Alex dan meletakkan semua testpack ke telapak tangan suaminya. Wanita tak bersuara sama sekali saat melakukannya. Membuat Alex terlihat waspada.
Namun, lelaki itu membelalakkan mata saat menangkap dua garis kecil berwarna merah pada testpack di telapak tangannya.
"Ini … ini … ar-artinya kamu beneran hamil kan?" ucap Alex terbata seraya meletakkan lima buah testpack itu ke atas nakas di samping tempat tidur.
Ia memperhatikan dengan seksama satu per satu testpack tersebut dengan mulut menganga lebar.
"Kamu … kamu … beneran hamil?!" ungkap Alex seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Namun, anggukan kepala Nadira menyingkirkan segala keraguan yang sempat Alex rasakan.
Lelaki itu meraih Nadira ke dalam pelukannya dan memberikan ciuman bertubi di seluruh wajah Nadira. Ia lantas menggendong Nadira dengan tawa bahagia yang menggema.sbari memutar tubuh Nadira.
Tawa itu menular pada Nadira yang sedari tadi sudah tersenyum haru menatap reaksi Alex saat menyadari hasil testpack yang diberikannya. Nadira ikut tertawa sembari menitikkan air mata. Kebahagiannya benar-benar terasa sempurna di tengah ketidaksempurnaan jalan hidupnya yang penuh liku.
"Alex, sudah turun kan aku. Mau sampai kapan kamu menggendong ku seperti ini?" protes Nadira masih sambil tertawa.
"Maaf, Sayang. Apa aku menyakiti mu?" tanya Alex seraya mengelus pipi Nadira setelah melepas kan wanita itu dari gendongannya.
"Tidak, hanya saja kamu terlalu bersemangat," kekeh Nadira mengelap sudut matanya yang berair.
"Itu karena aku sangat bahagia. Terimakasih, Sayang. Terimakasih karena kamu membuat ku menjadi laki-laki paling beruntung memiliki kamu dan calon anak kita dalam hidup ku."
Alex kembali mencium setiap inci wajah Nadira. Namun, kali ini ciuman itu berakhir dengan ciuman panas yang saling menuntut. Hingga Nadira mencengkram dada Alex dengan terengah-engah.
Wanita itu menggigit bibirnya tersipu saat Alex berbisik mesra seraya melancarkan serangan yang semakin membuatnya mabuk kepayang. Bibir Alex mulai menjelajah sekujur tubuh Nadira.
"Mas, aku rasa kamu harus bersabar sedikit. Kata Dokter Friska tadi, sebaiknya kita periksa ke dokter kandungan. Mungkin nanti kita bisa menanyakan apakah ini aman untuk calon bayi kita," ucap Nadira terbata-bata.
Alex reflek melepaskan tubuh Nadira seraya mendesah pasrah. Wajahnya terlihat frustasi menahan kecewa.
"Mas, kamu marah ya sama aku?" tanya Nadira dengan wajah sendu.
Alex nampak menarik nafas panjang, menyadari sikapnya yang sudah membuat Nadira tak nyaman dan merasa bersalah. Lelaki itu menarik tangan Nadira dan membawanya ke dalam genggaman tangannya.
"Aku tidak marah sama kamu, aku hanya merasa kesal sama diriku sendiri karena tak bisa menahan diri. Untung kamu mengingatkan ku. Maaf yah, karena dari tadi tindakan ku kekanakan."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti. Kita kan masih sama-sama baru menghadapi situasi ini. Jadi kita masih harus banyak belajar."
"Iya kamu benar. Aku akan belajar untuk bersikap lebih dewasa. Kita akan sama-sama menjaga calon anak kita," ucap Alex seraya mengusap perut Nadira dengan lembut.
Ada perasaan menghangat yang hadir di hati keduanya saat Alex mengusap tangannya di perut Nadira. Keduanya meresapi momen berharga ini sebanyak yang mampu mereka simpan dalam memori di dalam kepala.
"Sekarang, kita temui mama dulu. Setelah itu, baru kita akan pergi temui dokter kandungan," ajak Alex kemudian.
"Mudah-mudahan mama senang dengan kabar ini, yah Mas," ucap Nadira ragu.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku yakin mama pasti akan senang dengan kabar ini," ucap Alex meyakinkan Nadira.
Lelaki itu lantas mengulurkan tangannya yang langsung disambut Nadira penuh suka cita. Mereka berjalan dengan yakin sambil bergandengan tangan untuk menemui Wanita paruh baya yang sedang sibuk di dapur tanpa mereka ketahui.
***********************************
Minta maaf sangat yah, aku belom bisa update rutin lagi.. tapi aku bener-bener usahain sebisa aku..
Btw sekalian aku mau absen yang masih nungguin cerita kehamilan Alea masih banyak gak yah?? tinggalin jejak dunk...