
Berkali-kali Nadira menarik nafas dan membuangnya perlahan. Keberaniannya tiba-tiba terbang dibawa semilir angin yang berembus.
Sudah lebih dari dua gelas es lemon tea dengan irisan buah leci ia habiskan. Pun dengan piring yang tadinya berisi chocolate lava cake, tandas tak bersisa demi mengusir gugup.
Beberapa kali ia merancang kata untuk di utarakan pada Alex, tapi saat itu pula ia akan menghapusnya dari dalam kepala. Sungguh bukan hal yang mudah untuk mengungkapkan segala rasa di dalam dada.
"Hi, Nona. Boleh saya duduk di sini?" tanya seorang pemuda menghampiri meja Nadira.
Ini sudah ketiga kalinya dalam satu jam ini, seorang pria menghampiri Nadira yang duduk seorang diri tak jauh dari Alex yang sedang membicarakan bisnis dengan rekannya dari Negeri Sakura.
"Tidak," jawab Nadira tegas.
"Oh ayolah, tidak enak jika harus makan dan minum sendirian bukan?" ucap pemuda itu yang langsung menarik kursi dan menghempaskan tubuhnya tanpa seizin Nadira.
"Apa anda tidak bisa memahami perkataan saya? Saya sedang tidak ingin di ganggu. Jadi silahkan anda cari kursi lain," ucap Nadira dengan wajah memerah.
Dari ketiga lelaki yang menghampirinya, baru kali ini yang bersikap kurang ajar dan tak mengerti penolakan. Nadira tidak ingin kehadiran lelaki lain justru semakin membuat panas suasana antara dirinya dengan Alex.
Sementara tak jauh dari tempat Nadira berada, mata Alex terus mengawasi istrinya. Kali ini ia tidak dapat menahan kekesalannya lantaran seorang pria duduk bersama Nadira. Alex juga tak melewatkan pemandangan saat beberapa pria yang menghampiri Nadira dan berlalu begitu saja. Akan tetapi, tidak dengan lelaki satu ini.
"Mr. Alex, sepertinya anda tertarik dengan wanita yang duduk di sebelah sana," ucapan Mr. Yamamoto membuat Alex kembali menatap lawan bicaranya.
"Maaf?" tanya Alex heran dengan pertanyaan rekan bisnisnya itu.
"Maafkan saya karena sudah tidak fokus pada pertemuan kita. Saya tidak bermaksud mengabaikan atau menyepelekan pertemuan kita. Tapi, dia istri saya," ucap Alex membuat Mr. Yamamoto tertawa renyah.
"Kenapa tidak di ajak bergabung dengan kita saja?" tawar Mr. Yamamoto.
"Kami sedang berselisih paham. Jadi dia memilih menunggu di sana supaya tidak mengganggu pertemuan kita," jawab Alex sembari sesekali melirik Nadira.
"Tapi sayangnya konsentrasi anda justru jadi terganggu," ucap Mr. Yamamoto. "Apalagi saat ini seorang pria sepertinya bersedia menggantikan posisi anda," kekeh Mr. Yamamoto melihat Alex yang nampak semakin gelisah.
"Sebaiknya anda selesaikan masalah anda dengan istri anda terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa, saya bisa meminta Erwin untuk mengantarnya pulang," ucap Alex merasa tak enak hati pada lelaki yang sudah berusia lebih dari setengah abad di hadapannya itu.
"Tidak-tidak. Tidak perlu. Mempertahankan rumah tangga sama pentingnya dengan mempertahankan bisnis," pungkas Mr. Yamamoto seraya tersenyum, "Saya bisa mengerti karena sepertinya, istri anda memiliki watak yang keras persis seperti istri saya. Lagi pula kita sudah banyak membahas pekerjaan. Kita bisa melanjutkan sisanya di kantor anda besok. Akhir pekan memang seharusnya dihabiskan bersama keluarga," ucap Mr. Yamamoto membuat Alex lega.
"Baiklah kalau begitu, saya tidak akan sungkan lagi. Erwin akan mengatur pertemuan kita berikutnya. Erwin juga bisa menemani anda untuk menikmati sisa hari ini. Mungkin anda ingin lebih mengenal kota Jakarta."
"Terimakasih atas keramahan anda," ucap Mr. Yamamoto.
"Sama-sama Mr. Yamamoto. Sekali lagi terimakasih atas pengertiannya. Saya permisi," ucap Alex seraya mengulurkan tangannya dengan lega.
Tentu saja Alex sudah tak sabar hendak menghampiri lelaki yang sedari tadi membuatnya naik darah. Ia lantas bergegas menghampiri Nadira yang sedang bersedekap menatap pria di hadapannya. Alex tak dapat memastikan apakah Nadira menikmati godaan dari pria itu, atau justru merasa terganggu.