PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 107#



"Hey, balik dari nge-date sama suami kok mukanya butek gitu?" tegor Ranu melihat kedatangan Nadira.


Wanita itu diam tak bersuara. Ia seolah tak bertenaga untuk sekadar menjawab pertanyaan Rani. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi sebelah temannya itu. Membuat Rani mencetak tiga kerutan sekaligus di dahinya. 


Nadira lantas menekuk wajahnya dan menghempaskan


dahinya ke atas meja. Mendesah pelan saat teringat raut emosi yang menghiasi wajah suami tercinta. 


"Hey, lu kenapa sih?" cecar Rani heran melihat sikap wanita itu. 


"Belom makan, laper," jawab Nadira asal. 


Tentu saja perutnya keroncongan karena memang ia belum menyentuh makanan sejak pagi. Berangkat buru-buru karena beralasan ada meeting pada sang suami membuatnya harus melewati sarapan.


Semua itu ia lakukan hanya untuk menjahili Alex.


Niat hati akan mengajak pria itu makan siang bersama, justru berakhir dengan adegan yang membuat kepalanya seakan mau meledak. Melihat Alex nampak murka membuat nyali Nadira menciut. 


"Loh kok bisa lu belom makan? Bukannya lu habis ketemu sama suami lu? Gak makan bareng emang?"


Nadira hanya menjawab pertanyaan Rani dengan gelengan kepala lemah tak berdaya. 


"Ayo gue temenin makan dulu," ajak Rani seraya menarik tangan Nadira untuk bangkit dari duduknya. 


Rani bisa menebak bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Nadira melihat tampangnya yang kusut. Sebelum ia memberondong wanita itu dengan banyak pertanyaan, ia harus membuat temannya itu mengisi perutnya terlebih dahulu.


"Gue lagi gak pengen makan."


"Gue gak pengen ngapa-ngapain, Ran," ucap Nadira dengan mata berkaca-kaca. 


Sekuat tenaga ia tahan bendungan itu membludak dari matanya. Entah mengapa pikiran jelek itu tak mau pergi dari kepala. Kemarahan Alex selalu membayangi setiap desah nafasnya. Ia baru saja merasakan kebahagiaan bersama pria itu.


Apalah semua kebahagiaan itu akan berakhir secepat ini? Pikiran Nadira berkecamuk. Kali ini ia benar-benar tak ingin kehilangan Alex. Perasaannya tak karuan mengingat sikap keras kepala ayahnya. Jika sudah menginginkan sesuatu ia akan mencari cara untuk mendapatkannya dengan berbagai cara. 


Tetes demi tetes air mata tanpa terasa berjatuhan di pipi Nadira, saat mengingat bagaimana sang ayah tega mengorbankan kebahagiaan putrinya demi mencapai ambisi.


"Nad, lu kenapa?" tanya Rani seraya mengusap punggung Nadira. 


Nadira tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat ia menghapus air mata yang menggenang di pipi seraya menampilkan senyuman yang lebih pantas disebut seringai. 


"Gue takut, Ran. Gue takut kalau bokap sama Kakak gue bikin ulah lagi dan nyusahin Mas Alex. Gimana kalau Mas Alex jadi mikir macem-macem tentang gue?" Ucapan Nadira meluncur begitu saja meluapkan kegundahannya. 


"Ada masalah apa sih sebenernya?"


Nadira menggeleng cepat. Ia sadar sudah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya ia katakan dengan asal. Sudah banyak yang mengetahui aib keluarganya. Tak perlu lagi ia harus mengumbarnya kemana-mana. 


Tiba-tiba ia begitu merindukan sosok Kemal yang bisa menjadi pendengar yang baik. Ia memang sudah lama tak bertemu dengan Kemal. Project yang mereka tangani bersama Kemal sudah selesai. Membuat pria itu tak lagi menunjukkan batang hidungnya di kantor D' Advertising.


Pun rumahnya sudah tak berdekatan dengan lelaki itu, membuat rasa rindunya semakin menggebu. Ingin meneleponnya pun, lelaki itu pasti sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Membuat Nadira hanya bisa mendesah pasrah.  


"Ya udah, kalau gak mau cerita juga gak apa-apa. Tapi seenggaknya gue temenin makan yah," bujug Rani tak tega melihat kondisi Nadira yang terlihat nelangsa. 


"Gah ah, Ran. Gue beneran males kemana-mana," ucap Nadira kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja.