
"El, aku ikut yah," rengek Thalita untuk kesekian kalinya.
Bahkan kali ini Thalita tidak segan merengek di hadapan karyawan yang lain setelah ia gagal merayu Elroy saat mereka hanya berdua saja di dalam ruang kerja lelaki itu.
"Sorry Tha, mending kamu temuin Demian. Dia lagi mau buka cabang di Surabaya. Aku rasa dia bakal butuh jasa kita," tegas Elroy yang nampak mulai risih dengan sikap Thalita yang terus mendesaknya.
"Urusan Demian itu gampang. Aku bisa temuin dia setelah meeting. Kamu pasti bakal butuh bantuanku untuk meeting kali ini," ucap Thalita tak berhenti mendesak. "Aku loh yang buka jalan perusahaan kita buat dapat kerjasama," lanjut Thalita pongah.
Sedari awal -- sebelum memulai briefing terkait draft hasil kerja tim kreatif -- Elroy sebetulnya sudah berusaha mengusir secara halus Thalita dari ruang kerjanya. Hanya saja perempuan satu itu seakan tak gentar dengan mudah.
Tak hanya Elroy yang merasa risih dengan desakan Thalita. Bahkan Aldi terlihat berusaha menahan ekspresinya yang mulai kesal. Begipula dengan Kemal yang dipanggil untuk mengikuti rapat kali ini, memutar bola mata jengah.
Sementara Nadira hanya bisa menyimpan banyak tanya. Entah apa yang membuat gadis manis berdandan glamour tersebut mendesak ingin ikut. Tak hanya itu saja tanya yang menggelitik hati. Nadira juga sempat dibuat bingung dengan sikap Aldi dan Kemal yang seolah tak menyukai Thalita.
"Denger yah Tha, kerjasama ini emang kamu yang dapetin karena itu emang udah tugas kamu. Kalau kerjasama ini berhasil, kamu akan dapet bonus sesuai kerjamu. Tapi di sini aku tekankan, kalau perusahaan yang aku bangun ini profesional. Jadi lakukan tugas kita masing-masing. Aku ga perduli di luar ini kamu berusaha jerat Alex ke dalam pelukanmu. Tapi jangan gunakan perusahaan sebagai alat untuk kamu menjerat dia," tegas Elroy membuat Thalita bungkam dengan wajah merah padam.
Perempuan itu seolah tak punya kata untuk membantah. Mulutnya terkunci rapat seketika, seraya menahan geraman.
Sementara dada Nadira tersentak mendengar nama Alex terucap dari bibir Elroy. Ia berusaha menepis bahwa Alex yang dimaksud bukanlah suaminya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa ada banyak orang memiliki nama yang sama. Namun, tak urung hatinya meronta.
"Ayo kita jalan," perintah Elroy seraya mengecek jam di pergelangan tangannya berulang kali.
"Aku bingung deh sama kamu El. Gadis kampungan model karyawan baru itu justru kamu ajak ikut meeting. Tapi tawaranku malah kamu tolak. Apa ga malu-maluin nanti? Kamu malah mengajak meeting perempuan yang dari dandanannya aja udah ketahuan katro-nya." Thalita tak kehabisan akal melancarkan serangan.
Kali ini kemarahannya dilimpahkan pada Nadira. Hati Nadira mencelos. Kepalanya serasa mendidih ingin membalas semua kata yang di lontarkan oleh Thalita. Harga dirinya seolah-olah diinjak sedemikian rupa. Namun, ingatan akan masa lalu menyeruak tiba-tiba.
Ah ... beginilah hidup yang dulu dia jalani. Melihat orang lain hanya dari penampilan luarnya saja. Tak pernah ada harga bagi orang yang dia anggap remeh tak punya gaya. Dengan angkuh dan pongah dia bisa menghina siapa saja.
Kini hinaan itu berbalik kepadanya. Membuat hati teriris perih menahan kesakitan. Matanya berkaca, bukan karena merana akibat dihina. Namun, ia akhirnya menyadari betapa perih luka yang kerap ia buat untuk orang lain yang tak seberuntung dirinya kala itu. Membuat ia merasa tertampar menyadari kebekuan empati yang sempat ia miliki.
"Cukup Thalita, kamu jangan keterlaluan," sergah Elroy kasar.
"Loh, keterlaluan bagaimana? Aku hanya menyampaikan apa adanya aja. Kamu ga liat apa? Dari penampilannya aja udah ga meyakinkan. Masa kamu percaya orang model dia punya kemampuan?!" Desis Thalita makin menjadi.
"Eh ... ga usah sombong ya. Paling kemampuan lu juga ga seberapa. Yakin gue, lu cuma bisa ngendelin gaya norak lu yang lebay," sambar Kemal tak terima mendengar Nadira di hujat.
Nadira menarik lengan Kemal untuk menghentikan pemuda itu memuntahkan segala kesah. Nadira menggelengkan kepala meminta Kemal menahan emosi. Gadis itu menghela nafas pasrah, bersiap mendapat lontaran kata yang lebih menyakitkan. Ia akan menerima semua dengan lapang dada sebagai karma yang pantas ia terima.
"Cukup ... Thalita lakukan pekerjaan mu sendiri. Ini peringatan pertama dan terakhir untuk kamu. Sekali lagi kamu berani merendahkan salah satu karyawan di kantor ini, kamu langsung aku pecat," ucap Elroy menahan bibir Thalita yang hendak kembali melempar kata.
"Fine ... gue pergi," ucap Thalita menahan kesal. "Awas lu," bisik perempuan itu di telinga Nadira saat ia melewatinya.
Kalau bukan karena di buru waktu, rasanya ingin sekali Elroy mencerca Thalita sedemikian rupa saat melihat tingkahnya. Ia tak mau sampai menimbulkan lingkungan kerja tak nyaman di perusahaannya hanya karena sebuah status sosial. Diperhatikannya Nadira dalam balutan sopan nan mempesona membuat Elroy menyadari kecantikan tersembunyi dalam balutan pakaian sederhana.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang," ujar Elroy mengalihkan pikiran.
Ia harus berkonsentrasi untuk mendapatkan proyek besar demi membuka jalan bagi perusahaan yang dirintisnya agar semakin berkembang.
Mereka berjalan menuju parkiran, tempat mobil milik Elroy diparkir. Berhubung Aldi sudah semalaman bergadang di kantor, Elroy meminta Kemal untuk menyetir lantaran ia harus memeriksa ulang berkas untuk rapat agar bisa semakin mematangkan materi untuk persentasi nanti.
"Jangan dengarkan Thalita. Dia kadang suka keterlaluan," ucap Elroy saat melihat wajah sendu Nadira.
Lelaki itu telah selesai memeriksa ulang berkas. Kepalanya tak sengaja menangkap wajah murung Nadira yang nampak melamun. Ia pikir hal itu dikarenakan sikap Thalita kepada gadis tersebut.
"Lagian si Boss mau-maunya sih mempertahankan karyawan model Thalita," sambar Kemal di balik kemudi.
"Dia itu anak temannya Papa. Aku tidak bisa menyingkirkannya begitu saja tanpa memberikan penjelasan panjang lebar pada Papa," jelas Elroy nampak malas membahas hal itu.
"Lagipula aku tak mau urusannya semakin runyam. Kamu tau sendiri kelakuan dia kaya apa. Jadi selama dia tidak berbuat nekat, aku tidak perduli padanya. Toh, dia bisa mendatangkan keuntungan buat perusahaan," jawab Elroy.
Sementara Nadira tak menyadari apa yang sedang dibicangkan Elroy dan Kemal. Kepalanya terus berputar memikirkan Alex. Ada kekhawatiran menyeruak dalam dada yang tak dapat disembunyikan. Bahkan perlakuan Thalita tak lagi bersarang di kepala. Ia hanya dapat memikirkan kemana mobil ini melaju membawanya.
******************************************
Hallo ha.. daku menyapa...
mudah2an gak bosan dan tak marah membaca cuap-cuap ku yang tak seberapa..
oh ya cerita kali ini aku akan ikutkan kontes yang diadakan oleh Mangatoon / Noveltoon yah manteman.. karena itu aku mengharapkan dukungan kalian dengan cara like tiap bab + komen.. Kalau berkenan aku minta vote juga yah seiklahsnya..
aku akan usahain up date rutin yah readers tercinta..
oh ya aku harap kalian bersabar ngikutin alur ceritanya.. karena seperti yang udah-udah, tulisanku alurnya memang agak lambat.. aku mau bikin sebab akibat dulu sebelum masuk ke inti cerita.. ada banyak yang harus Nadira lalui saat ia berusaha merubah pribadinya yang ga bisa aku gambarkan hanya dalam satu atau dua bab.. semoga kalian menikmati alurnya..
see u next time..