
"Kakek senang, kalau akhirnya kamu menyadari kesalahanmu, Nadira. Tapi Kakek paham kalau apa yang kamu lakukan bukan atas kehendakmu sendiri. Ada andil besar kesalahan Kakek di masa lalu yang membuat kalian terjerumus pada situasi yang serba salah seperti saat ini."
Kakek Bayu mengangkat kepala dan melemparkan tatapan nanar pada muda mudi di hadapannya itu. Matanya menerawang pada masa silam yang membuat ia menyesali sikapnya terdahulu.
"Saat muda, Kakek terlalu berambisi menguasai dunia. Kakek masih baru dalam dunia bisnis. Saat itu usaha Kakek sedang goyah, dan untuk mempertahankan perusahaan, Kakek memaksakan perjodohan pada kedua anak Kakek tanpa memperdulikan apa yang sebetulnya mereka inginkan. Hingga terjadi malapetaka yang kita semua tidak inginkan. Kakek kira setelah bertahun-tahun, semua itu sudah terselesaikan, meski tidak dengan cara yang benar. Tapi ternyata kesalahan itu justru berdampak besar bagi kalian berdua," jelas Kakek panjang lebar.
Lelaki renta itu kembali mengedarkan pandangannya pada Alex dan Nadira yang terhanyut akan kata-kata yang meluncur dari bibirnya.
"Untuk itu Kakek meminta maaf pada kalian berdua, karena Kakek sudah menyeret kalian dalam dendam masa lalu dan memaksa kalian terikat pada pernikahan yang mungkin tidak kalian inginkan. Apa yang terjadi pada kalian sekarang, itu karena kesalahan Kakek di masa lalu," lanjut Kakek Bayu dengan suara mendalam.
"Kakek tidak perlu minta maaf. Apa yang sudah kami lakukan itu murni keputusan kami berdua. Apapun alasan di balik itu semua, kami secara sadar memilih untuk menikah," sahut Alex tegas.
"Mas Alex benar Kek," ucap Nadira bergetar saat pertama kalinya ia kembali mengucap nama sang suami di hadapan lelaki itu. "Kami bertanggung jawab penuh pada keputusan kami sendiri."
"Kakek sadar kalian sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan kalian sendiri. Tapi Kakek tetap mengharapkan maaf dari kalian. Kakek rasanya tidak bisa menutup mata dengan tenang jika belum mendapat maaf dari kalian ... "
"Jangan bicara seperti itu, Kek," potong Alex cepat.
"Dengarkan Kakek dulu, Lex." Kakek Bayu menatap Alex dengan intens.
Lelaki tua itu mengumpulkan sisa-sisa tenanganya untuk menyampaikan apa yang memenuhi benaknya pada kedua anak muda di hadapannya itu. Kakek Bayu menghela nafas pelan sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Kakek berharap kalian memberi kesempatan pada pernikahan kalian. Kalian berdua sudah terhubung pada sebuah ikatan suci yang tidak bisa begitu saja kalian kesampingkan dan kalian abaikan. Pernikahan kalian mungkin diawali sebuah kesalahan, tapi bukan berarti pernikahan itu sendiri tidak baik. Mungkin saja kalian memang sudah berjodoh. Jadi tidak ada salahnya kalian mencoba untuk menjalani sebagaimana mestinya. Kakek hanya meminta kalian untuk mencoba menjalaninya dan berdamai pada masa lalu."
Perempuan itu sadar betul betapa banyak kesalahan yang sudah ia perbuat pada Alex. Menjebaknya pada pernikahan dengan memanipulasi lelaki itu lalu menghilang tanpa jejak. Namun, mendengar ucapan dengan nada penuh kebencian keluar dari mulut sang suami, membuat Nadira tetap tak mampu menahan perih. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kencang. Menahan kesakitan yang menghujam agar tak terisak di depan lelaki itu.
"Karena itu Kakek memanggil kalian berdua kemari. Kakek berharap kalian bisa menyelesaikan segala permasalah yang terjadi di antara kalian. Kakek tekankan, Kakek tidak ingin memaksa kalian menerima pernikahan yang sudah terjadi. Kakek hanya meminta kalian mencoba menyelesaikan sebagaimana mestinya. Tapi sebelum kalian memutuskan mau di bawa kemana rumah tangga kalian, Kakek berharap kalian memberi ruang bagi satu sama lain untuk saling mengenal dan saling memahami. Dengan begitu Kakek baru bisa merasa tenang dan menganggap kalian telah memaafkan semua kesalahan Kakek yang sudah lalu."
"Tapi Kek ... " Alex menggantungkan kalimatnya.
Ia tak dapat menemukan kata yang bisa ia gunakan untuk menyangkal saran Kakeknya itu.
"Anggap saja ini sebagai permintaan terakhir dari Kakek, sebelum ajal menyambut," lirih Kakek Bayu membuat wajah Alex pias.
Ia tak mengira bahwa sebuah saran berubah cepat jadi sebuah permintaan yang tak dapat ia tolak saat itu juga.
"Kakek tidak meminta jawaban kalian sekarang. Pikirkanlah matang-matang, dan sampaikan pada Kakek setelah kalian menemukan jawabannya. Ingatlah satu pesan Kakek. Menjalani biduk rumah tangga itu tidaklah mudah. Akan ada banyak ujian terutama di masa-masa awal pernikahan. Baik yang menikahnya karena terpaksa ataupun saling cinta, tak akan pernah lepas dari ujian." Kakek menutup penuturan panjang lebarnya.
Ada gurat lelah menggelayuti wajah lelaki tua itu. Namun, perasaan lega juga tergambar jelas di sana. Semua yang ingin ia katakan sudah disampaikan pada dua orang, diamana rumah tangga keduanya sedang berada di ujung tanduk hanya karena sebuah kesalahan masa lalu yang terus menghantui sepanjang hidupnya.
*********************************************
Mohon maaf yah aku menghilang lama... Aku masih harus fokus sama si kecil dulu.. ini juga adek masih harus bolak balik dokter. Mohon doanya aja semua lancar dan adek selalu diberi kesehatan.. Makasih juga yang kemaren udah doain yah...
Sebisa mungkin aku akan lanjut up.. cuma kemaren pikirannya lagi ga bisa dipake buat nulis.. alhamdulillah sekarang adek udah ga bikin emaknya khawatir lagi.. jadi emaknya udah mulai bisa bercabang pikirannya.. hehehehee....