
"So … kita mau langsung balik ke kantor atau mampir makan siang dulu? Kebetulan udah mau masuk jam makan siang," tanya Aldi pada Nadira dan Jono seusai rapat di kantor Be Trust.
"Makan dulu lah, Al. Lapar ini," sambar Jono cepat.
"Sorry, Al. Kalian berdua aja ya. Gue masih ada janji makan siang sama temen deket-deket sini," ucap Nadira dengan raut wajah tak enak hati.
"Cie … ada yang mau nge-date kayanya?" ledek Jono dengan kerlingan jahil.
"Lu iri kan, enggak punya pacar buat di ajak nge-date?!" Aldi balik ngeledek Jono.
"Lu bukannya cariin gue jodoh kek, malah ngeledek doang bisanya," ketus Jono kesal seraya mengerucutkan bibir.
"Udah enggak usah baper," Aldi meraup wakah Jono yang sok imut dengan cemberut. "Yuk buruan kita jalan," ajak Aldi kemudian.
"Ya udah ayuk. Ini perut juga udah keroncongan."
"Oh iya, Nad. Mau sekalian di anter enggak?" tanya Aldi pada Nadira.
"Enggak usah deh Al. Gue entar dijemput sama temen di sini."
"Ya udah deh kalau begitu, kita tinggal yah, Nad," ucap Aldi seraya melambaikan tangan pada Nadira yang di ikuti oleh Jono.
Setelah Aldi dan Jono menghambur ke parkiran, Nadira bergegas kembali masuk ke dalam gedung Be Trust. Ia langsung menaiki lift menuju lantai dua puluh delapan, dimana ruang kantor Alex berada.
Dari kejauhan Nadira dapat menangkap sosok sahabatnya, Vanya, yang duduk dengan gelisah di sofa depan ruangan Alex.
"Vanya," panggil Nadira tak sabar dari kejauhan.
Segera Vanya menghambur ke pelukan Nadira dan mendekap erat sahabat karibnya itu.
"Lu kemana aja sih? Gue cari elu kemana-mana, tau enggak?" ucap Vanya dengan mata berkabut.
Hampir saja ia menumpahkan tangis penuh keharuan melihat keadaan Nadira baik-baik saja.
"Sorry Van, gue enggak mau nyeret elu dalam masalah gue. Gue tau, lu pasti di awasi sama Genta. Dia enggak akan ngelepasin elu gitu aja kalau sampai dia tau kita ketemuan atau saling berhubungan," jelas Nadira panjang lebar.
"Genta emang beberapa kali temuin gue. Dia maksa gue ngasih tau keberadaan elu sama Tante Shinta, sampe ngancem-ngancem segala. Sebenernya ada apa sih?" tanya Vanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Kita ngobrol di dalem aja, yuk," ajak Nadira kemudian. "Mbak Mira, aku pinjem ruangannya Mas Alex yah," ucap Nadira pada Sekretaris Alex yang tengah fokus pada layar komputernya.
"Eh ... i-iya, Buk, silahkan. Tadi Pak Alex udah kasih tau kalau Ibu mau pake ruangannya," ucap Mira gelagapan mendapati Nadira yang ramah dan santun.
Padahal sebelum ini, ia selalu tak pernah dianggap keberadaannya oleh istri bos nya itu. Peremouan itu memilih kekuar masuk ruangan Alex sesuka hati tanpa menghiraukan keberedaannya. Namun, kali ini perempuan itu terlihat jauh berbeda.
"Makasih yah, Mir," ucap Nadira sebelum berlalu dari hadapan Mira.
"I-iya, Bu. Sama-sama," ucap Mira kemudian tercengang cukup lama hingga kedua perempuan tadi menghilang di balik pintu.
"Sekarang ceritain apa yang terjadi sama kamu dan Tante Shinta?" tanya Vanya langsung pasa intinya, ketika ia dan Nadira sudah mendaratkan bokong mereka di sofa.
Nadira lantas menceritakan segala yang terjadi padanya selama ini, termasuk alasan ia menghilang dari semua orang agar Kakak dan Ayahnya tak bisa melacak keberadaan mereka. Hingga ia bertemu kembali dengan sang suami dan terpaksa tinggal satu atap lagi demi memenuhi permintaan Kakek Bayu yang sudah sakit-sakitan.