
Nadira bergegas menyisir jalanan saat fajar baru saja menyingsing. Kantuk serasa masih enggan melepaskan diri dari kelopak mata gadis manis tersebut, tapi mau tak mau dia harus mensinkronkan mata dengan langkah lebar yang diambilnya.
Tinggal di pinggiran kota Jakarta dengan kemacetan yang tak pernah absen di sekitar wilayah tempat tinggalnya, membuat Nadira harus berangkat lebih pagi menuju tempat kerja.
Sebuah klakson motor membuat Nadira terlonjak di tempat. Ia menepikan langkah memberi jalan kepada si pengendara motor untuk melewatinya. Namun, motor itu justru berhenti tepat di sebelah gadis yang memasang wajah kesal karena merasa terganggu.
"Kemal? Ngapain Lu?"
"Mau nganterin elu lah. Nih ... " Kemal menyerahkan helm agar dikenakan oleh Nadira. "Cantik juga lu ternyata pake baju kek begini," Kemal memberi sanjungan seraya mencebikkan bibir.
"Baru nyadar lu kalau gue cantik?" decak Nadira seraya menyambar helm dari tangan Kemal.
"Gue kira tuh baju bakalan aneh lu pake," teriak Kemal sembari melajukan motornya.
"Tergantung yang make lah. Kalau gue yang make, walau ni baju murahan pasti langsung kelihatan keren." Nadira turut meninggikan suaranya, berlomba dengan kebisingan suara kendaraan bermotor yang memenuhi udara disekitarnya.
Entah mengapa Kemal mengambil topik baju yang dikenakannya sebagai bahan untuk berbasa basi pagi ini. Namun, tetap membuat Nadira melirik kembali baju yang semalam dibelinya. Tak banyak memang yang dapat ia pilih. Karena di pasar malam itu para pedagang lebih banyak menjual baju rumahan. Untungnya ia berhasil menemukan beberapa celana serta blouse yang bisa menunjang penampilannya saat bekerja.
Cukup lama Nadira dan Kemal mengitari pasar malam. Menyambangi satu persatu stand baju agar bisa menemukan yang dicari. Namun, tetap saja pasar malam bukanlah tempat yang tepat untuk mencari pakaian formal yang bisa ia kenakan bekerja. Jadilah ia membeli asal apa saja yang bisa ia temukan. Tentu saja dengan kelihaian tangannya, pakaian sederhana itu bisa tampak menawan.
"Ada gunanya juga ternyata gue sering mendatangi acara-acara fashion week," gumam Nadira mengingat salah satu kegiatan sosialita yang kerap ia hadiri baik di dalam negri maupun mancanegara. Membuat otaknya lumayan encer memadu padankan apa saja yang bisa ia temukan.
Kepadatan jalanan serta keriuhan suasana pagi hari dimana jalanan sudah mulai tersendat, membuat Nadira dan Kemal menikmati perjalanan mereka dalam diam. Hingga tak disadari mereka tiba di kantor Nadira setelah berpacu dengan waktu yang tidak sebentar.
"Ngapain lu ke parkiran? bukannya turunin gue di depan aja." celoteh Nadira seraya turun dari motor dan melepaskan helm yang ia kenakan.
"Yah gue mau ikut masuk. Mesti di parkir dong motor gue," ucap Kemal santai.
"Ngapain lu ikut masuk?"
"Gue ade meeting," jawab Kemal santai sembari melenggang pergi meninggalkan Nadira terbengong.
"Siyalan, gue pikir lu sengaja mau anterin gue pagi-pagi. Taunya lu emang mau ada perlu disini," dengkus Nadira sembari berlari menyusul Kemal yang sudah berlalu meninggalkannya.
"Pagi, Cantik," sapa Kemal pada Rani yang sudah duduk di balik meja penerima tamu.
"Pagi, Ganteng," jawab Rani semringah.
"Belomlah. Bang Kemal nya kepagian. Biasanya juga dateng siang. Bang Kemal ngapain pagi-pagi udah nongol aja?"
"Tuh, sekalian nganterin tuan putri," tunjuk Kemal pada Nadira yang baru saja menginjakkan kakinya di lobi.
"Wah ... patah hati aku, Bang. Udah ada yang punya ternyata si Abang," ucap Rani dengan kerlingan jahil.
"Pagi," sapa Nadira ketika melihat Rani mempehatikan kedatangannya.
"Pagi .... Hmm, Mbak yang kemarenkan?" tanya Rani dengan alis saling bertautan mencoba mengingat rupa Nadira.
Nadira hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Oh iya, mbak diminta Pak Aldi langsung temui dia di lantai dua." ucap Rani memberitahu.
Nadira melongokkan pandangan pada jam yang melingkar di pergelangan tangan. Masih terlalu pagi untuk memulai kerja. Masih ada waktu sekitar empat puluh menit lagi sebelum jam kerja dimulai. Namun, semua karyawan seperti sudah berada di pos nya masing-masing.
Nadira kembali mengayunkan langkahnya mengikuti arahan dari Rani dan meninggalkan Kemal serta Rani yang saling lempar rayuan gombal.
Terengah-engah Nadira menaiki tangga karen berjalan dengan tergesa. Ketika sudah sampai di lantai dua, Nadira melihat satu ruangan luas berisi beberapa kubikel yang ditempati oleh para pekerja yang sedang asik menekuni pekerjaan mereka masing-masing.
Tak jauh dari sana ada sebuah meja besar yang berisi kertas-kertas yang berserakan, dikelilingi beberapa buah kursi. Nadira mulai menilai lingkungan kerjanya.
"Sepertinya meja itu biasa dipakai sebagai tempat untuk briefing atau semacamnya." Nadira membatin seraya mengesarkan pandangan ke segala arah hingga matanya bertemu pandang dengan Aldi yang baru menyadari kedatangannya.
"Nadira ... kamu udah dateng? Baguslah. Kita sedang ada pekerjaan dadakan dari boss sejak kemaren sore. Anak-anak udah push tenaga mereka sampai limit. tapi kita masih belum selesai dengan konsep dan persiapan buat persentasi pagi ini," ucap Aldi terlihat panik.
Nadira langsung bersemangat menghampiri para rekan kerja yang sudah nampak lelah. Sepertinya mereka menginap di kantor tadi malam. Terlihat dari wajah kusut dan penampilan acak-acakan para rekan kerjanya yang bahkan belum dia kenal. Beruntung dia bertemu Kemal di jalan. Sehingga bisa datang ke kantor lebih awal dan bisa memberikan sumbangsih tenga dan pikirannya.
"Kenalin, ini karyawan baru namanya Nadira. Nad, kenalin yang ini Ais, Aviva, Denis, Irvan sama Jono." Aldi mengenalkan sekilas wajah-wajah lelah yang menyisakan ketegangan disana.
Nadira hanya melemparkan senyum menatap satu-persatu yang wajah rekannya yang bahkan sebagian diantaranya tak mengangkat kepala sama sekali saat namanya disebut.
Mereka bekerja seolah di buru waktu. Namun, satu hal yang membuat Nadira lega. Rekan-rekan kerjanya sepertinya masih tampak muda, sehingga akan lebih mudah baginya berbaur dengan mereka.