
"Mau kemana lu? Gue belom selesai ngomong," jerit Thalita saat Nadira tengah melewati pintu kaca besar yang menghantarkan perempuan itu ke luar kantor.
Nadira nampak tak menggubris teriakan perempuan yang terus saja mencoba mengkonfrontasi dirinya. Ia berharap segera berlalu dari sana agar bisa menghindari keributan dan menciptakan suasana tak nyaman di kantor.
"Lu pikir gue ga tau, kalau lu itu hanya karyawan magang tanpa kelengkapan persyaratan untuk bekerja di sini?" ungkap Thalita mencari cara agar mendapat perhatian dari perempuan yang membuat posisinya terancam untuk mendekati Alex.
Sontak Nadira menghentikan langkahnya. Ia sudah mengepalkan tangan seraya menghembuskan nafas kasar. Lantas berbalik memberikan tatapan menghujam pada perempuan yang berhasil memancing emosinya.
"Apa sih sebetulnya yang anda inginkan?" sembur Nadira mencoba mengontrol emosi yang sudah berada di penghujung dan siap untuk dimuntahkan.
Bagaimana tidak, pekerjaan yang begitu sulit ia dapatkan menjadi taruhan hanya karena sikap kekanakan perempuan yang memberinya sorot mata penuh permusuhan.
"Jauhi Alex," ujar Thalita dengan senyum mengejek menghiasi wajahnya. Dadanya membusung lantaran merasa kemenanganya sudah di depan mata. Ia begitu yakin akan mendapatkan apa yang di inginkannya.
"Atas dasar apa anda memerintah saya menuruti keinginan anda?" jawab Nadira dengan penekanan di setiap kata.
"Lu cuma karyawan magang yang bisa didepak Kapan saja dari sini. Sementara gue masuk dalam jajara menejer di kantor ini. Jadi sebaiknya lu turutin perintah gue," ucap Thalita pongah.
"Status anda sebagai menejer hanya berlaku untuk urusan kantor. Anda tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya," desis Nadira tajam.
"Kalau begitu jangan salahin gue, kalau gue akan memperkarakan soal ijazah lu." Tawa Thalita menggema setelah ia merasa berhasil memojokkan Nadira yang telah berani menantangnya.
"Anda tidak perlu mengancam saya. Silahkan lakukan apapun yang anda inginkan. Di luar urusan kantor, saya tidak perlu mengikuti kemauan anda," ucap Nadira dengan suara lantang.
Seketika wajah Thalita merah padam. Ia seolah tak lagi punya cara untuk membuat Nadira tunduk padanya. Perempuan di hadapannya saat ini begitu keras kepala. Padahal, selama ini belum ada satupun karyawan di De' Advertising berani melawannya secara terang-terangan seperti sekarang. Di tambah lagi selam ini, Thalita adalah tipikal perempuan yang bisa membuat situasi di bawah kendalinya. Namun, sekarang ia bahkan kehabisan akal untuk membuat Nadira terpojokkan dan mengikuti kemauannya.
"Kalau Lu masih keras kepala, gue pastiin Lu akan terima akibatnya. Asal Lu tau aja, gue sama Alex lebih dari sekedar teman biasa. Jadi, ga usah lu berani deketin Alex kalau ga mau di cap pelakor." Thalita berucap agak ragu.
Thalita sadar betul jika Alex sampai mendengar ucapannya itu, maka habislah dia. Namun, ia benar-benar sudah hilang akal menghadapi Nadira.
"Sudah bicaranya?" jawab Nadira semakin jengah. Ia seolah sudah tak sabar untuk segera berlalu dari hadapan Thalita yang sudah membuatnya merasa membuang-buang waktu percuma.
"Lu ... " Thalita menggantungkan kalimatnya. Ia tak dapat menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kejengkelannya akan keberanian Nadira melawan setiap kata yang ia lontarkan.
"Kamu tidak bisa lebih cepat sedikit? Apa kamu tidak tau, saya sudah lama menunggu?"
Sebuah suara bariton menyela kedua perempuan yang saling menghunuskan tatapan tajam.
Nadira menghembuskan nafas lega mendengar seseorang menyela mereka. Kehadiran orang lain membuat ia merasa terbebas dari Thalita yang sedari tadi berusaha memojokkannya.
Sementara ekspresi berkebalikan di tampakkan oleh perempuan di hadapnnya. Wajah Talita seketika pucat pasi menyadari kedatangan pria yang menjadi obsesinya selama ini. Pria yang menjadi alasannya melabrak Nadira saat ini.