
"Maaf, Ma. Apa yang sebetulnya terjadi? Kenapa Mama sama Nadira kabur dari rumah?" tanya Alex dari balik kemudi mobilnya.
Sedari tadi lelaki itu sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya. Sejak mereka memasuki mobil dan beranjak dari area perumahan yang ditempati Nadira, Alex sudah menahan diri untuk bertanya. Namun, Pembicaraan singkat yang ia curi dengar antara Nadira, ibunya serta Genta hanya memberikan gambaran sekilas apa yang sesungguhnya terjadi. Membuat Alex di dera rasa penasaran yang kian memuncak.
"Memangnya Nadira belum cerita sama kamu, Nak Alex?" Shinta balik bertanya dari kursi penumpang persis di belakang Alex.
"Kami belum sempat berbicara banyak, Ma," kilah Alex menutupi bahwa sesungguhnya ia dan Nadira memang tak pernah berbicara banyak selain dirinya yang terus menerus memojokkan dan menyalahkan istrinya itu.
Alex sempat melirik Nadira di sebelahnya. Perempuan itu terunduk dengan jari jemari yang saling memilin menutupi kegugupan yang menyergap.
"Sebenarnya, waktu kamu menemui Papanya Nadira di rumah, Nadira berniat menemui kamu. Tapi dihalangi oleh Papanya dan memantik perdebatan diantara kami. Setelah itu, Mama dan Nadira memilih pergi dari rumah," jelas Shinta singkat dan padat, tapi membuat Alex semakin bingung.
"Ma, kenapa Genta bisa menemukan tempat tinggal kita?" potong Nadira mengalihkan pembicaraan.
Perasaan risih langsung menggerayangi hati manakala Shinta membicarakam tentang kehidupan mereka yang berantakan di depan Alex. Hal itu hanya akan membuat Nadira semakin merasa tak punya arti. Ia tak mau Alex hanya akan mengasihani mereka nantinya.
"Mama juga tidak tahu, Nad. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Saat Mama membuka pintu, Genta sudah berdiri di depan rumah. Dia memaksa Mama untuk ikut pulang bersamanya."
"Apa dia tidak menanyakan bagaimana kita bisa berakhir di tempat seperti itu?"
Alex melirik ibu mertuanya dari balik kaca spion mendengar kata-kata yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ibu mertuanya itu bisa berbicara seburuk itu tentang suaminya.
Alex sangat mengetahui baik Ferdi maupun Genta sama liciknya. Namun, apakah benar kedua wanita di dalam mobilnya ini tidak pernah terlibat sepak terjang Ferdi dan Genta selama ini? Apakah mereka hanya korban dari kebengisan dua lelaki itu yang selalu haus akan kuasa? Pikir Alex mulai berkelana.
Setidaknya kali ini ia akan berbicara dulu dengan perempuan yang masih terlihat tegang di sebelahnya. Ia akan mencoba membuang ego dan rasa sakit hatinya atas pengkhianatan yang pernah Nadira lakukan agar bisa menemukan jawaban yang sesungguhnya.
Sosok Kakek Bayu kembali terlintas di benak Alex. Selama ini, sosok kakeknya itulah yang membuat lelaki itu terus mengurungkan niatnya untuk menceraikan Nadira. Permintaan Kakek Bayu agar menyelesaikan masalah diantara ia dan istrinya sebelum memutuskan bercerai, membuat langkahnya membuang Nadira jauh dari kehidupannya selalu terhenti di tengah jalan. Apalagi Nadira kini nampak sangat berbeda, hingga memantik rasa penasaran untuk terus memperhatikan sosok Nadira yang sekarang.
"Tapi Genta juga sama liciknya seperti Papa, Ma," desis Nadira dengan sudut mata mulai berkedut membicarakam saudara laki-laki yang hanya terpaut usia dua tahun.
Alex kembali tersentak mendengar ucapan Nadira. Lelaki itu dapat menangkap sudut mata Nadira yang basah. Raut wajah perempuan itu menampakkan kesedihan mendalam.
"Genta di besarkan dengan cara seperti itu dan dipersiapkan untuk menjadi penerus Papa mu. Tidak heran kalau dia tumbuh besar dengan karakter Papa mu melekat pada dia," desah Shinta pasrah.
"Tapi setidaknya Mama bersyukur kamu selama ini hanya dimanipulasi untuk mereka manfaatkan. Dan tidak dijadikan seperti mereka," imbuh Shinta lagi.
Nadira hanya terdengar menghela nafas pasrah demi mengurangi beban yang menghimpit dada. Pun dengan Shinta yang kembali membungkam. Keduanya menutup rapat mulut mereka dan tenggelam dalam fikiran masing-masing. Menyisakan Alex dengan dahi berkerut mencerna pembicaraan keduanya.