
Nadira menggenggam tangan Alex dengan erat. Wajahnya nampak tegang menatap pintu di depannya. Ia menggigit bibir bawahnya menenangkan kegugupan yang sulit di usir menjauh dari hatinya.
"Tenang saja, ada aku yang akan selalu mendampingi mu," bisik Alex lembut di telinga Nadira.
Suara lembut Alex menyelusup lembu menyentuh hati Nadira, tapi tak mampu mengurai kegugupan yang kian mendera mana kala, pintu itu mulai bergerak terbuka.
"Mau apa kalian kemari?" suara ketus dari seseorang yang muncul dari balik pintu membuat nyali Nadira menciut.
"Ma, kami hanya ingin bicara sama mama," Alex menjawab lembut.
Erika tak mengatakan apapun. Wanita paruh baya itu hanya berlalu masuk begitu saja dengan tatapannya yang dingin.
Namun, hal itu justru menghadirkan senyum di bibir Alex membuat Nadira menautkan kedua alisnya.
Alex tahu betul sifat ibunya seperti apa. Wanita itu masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintu. Itu artinya ia mengijinkan siapapun yang bertandang ke rumahnya untuk masuk. Tentu saja emosi yang masih melingkupi Erika membuatnya tak bisa bersikap ramah pada anak dan menantunya itu.
"Ayo kita masuk," ajak Alex dengan santai.
"Tapi, Mas. Mama ...."
"Mama memang masih marah sama kita. Tapi aku tahu kalau mama juga menerima kedatangan kita. Ini adalah permulaan yang baik untuk kita."
"Apa kamu yakin?" tanya Nadira ragu.
Alex mengangguk dengan sangat yakin. Ia menyadari bahwa Erika masih sangat marah padanya karena mempertahankan Nadira untuk menjadi istri setelah apa yang dilakukan oleh wanita itu.
"Dengar, kita hanya perlu meyakinkan mama bahwa pernikahan kita baik-baik saja dan kita sangat bahagia menjalaninya. Aku yakin mama akan menerima kamu kembali kalau tahu kita bahagia hidup bersama," bisik Alex sembari menyusul Erika masuk ke dalam rumah.
Alex dapat melihat ibunya sudah menunggu ia dan Nadira menghampirinya. Wanita itu nampak duduk dengan pongah di sofa ruang tamu. Ia duduk dengan menyilangkan kaki serta dagu yang terangkat.
Mata Erika berkilat tajam menatap Nadira dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memindai semua penampilan wanita itu yang terlihat jauh berbeda dengan saat-saat awal wanita itu menjadi menantunya.
"Bicaralah cepat," ucap Erika sembari menatap tajam pada Alex.
Erika bahkan tidak menunggu sampai Alex dan Nadira merebahkan tubuhnya di atas sofa. Namun, Alex mencoba untuk bersikap tenang menghadapi kemarahan ibunya.
Ia tak langsung memenuhi permintaan Erika untuk segera mengungkapkan maksud kedatangan ia dan istrinya. Alex menuntun Nadira untuk menempati sofa tepat di hadapan sang ibu.
"Mama apa kabar?" tanya Alex tak berniat langsung pada intinya.
Lagipula dia memang merindukan ibunya. Hanya saja kemarahan sang ibu membuat Alex harus menahan diri. Ia menginginkan pengampunan terlebih dahulu dari wanita yang kecantikannya tak luntur meski dimakan usia. Tentu saja Alex juga menginginkan penerimaan dari sang ibu atas keputusannya soal rumah tangganya dengan Nadira.
"Tidak usah basa-basi. Kamu tahu mama tidak suka hal-hal remeh seperti itu," ucap ibunya dengan tajam.
"Kita sudah lama tidak bertemu. Apa aku salah jika menanyakan kabar mama?" tanya Apex tak terpancing dengan sikap ketus Erika.
"Apa kamu tidak bisa melihat sendiri kalau mama baik-baik saja. Keputusan kamu yang memilih untuk tetap bersama perempuan itu, tidak akan berpengaruh terhadap mama. Jadi lakukan apa saja semau mu tanpa harus memikirkan mama," sindir Erika tajam.
Alex hanya bisa menghela nafas pasrah mendengar kemarahan ibunya. Sementara di sebelahnya Nadira sudah menitikkan air mata. wanita itu sama sekali tidak menginginkan perdebatan terjadi antara suami dengan mertuanya. Ia sungguh tak ingin menjadi penyebab rusaknya hubungan Alex dengan ibu mertuanya itu.