PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 102#



Nadira sadar permintaannya kali ini bisa membahayakan Vanya jika sampai ketahuan. Hanya saja ia tak bisa diam saja membiarkan ibunya terus tersiksa dengan statusnya sebagai Ferdi Adijaya. 


Ia harus membebaskan Ibunya dari belenggu Ayahnya yang kejam, agar ibunya bisa mengejar kebahagiaannya sendiri. 


"Mama sudah banyak menderita, Nya. Aku ingin membuat Mama bisa merasakan kebahagiaan di masa tuanya. Walau Mama gak pernah mengatakannya langsung, aku tahu Mama sangat ingin pisah dari papa," ucap Nadira dengan sorot mata berubah sendu saat mengingat ibunya. 


Siapa yang akan sanggup hidup bersama pria kejam seperti ayahnya itu. Pria yang tak berprikemanusiaan dan tak punya hati. Sudah saatnya wanita paruh baya itu meraih kebebasan dalam hidupnya. Agar ia bisa mendapatkan cinta yang lebih layak untuk direngkuh. Apalagi Nadira menyadari bahwa Om Rahman menaruh hati pada ibunya. 


Nadira merasa bahwa ibunya pantas mendapatkan seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus. Menjaga dan menyayangi dirinya, serta menghabiskan masa tua bersama saling bergenggaman tangan. 


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Vanya dengan serius. 


"Ternyata mama sudah lama berencana kabur dari rumah. Mama sudah menyembunyikan dokumen berharaga di dalam kamar ku tanpa sepengetahuan siapapun termasuk aku. Mama baru-baru ini memberitahu ku."


"Jadi aku hanya perlu ke kamar mu dan mengambil berkas-berkas itu kan?" sambar Vanya menebak apa yang diinginkan oleh Nadira. 


"Iya, tapi kamu tidak bisa datang ke rumah dan langsung masuk ke kamar ku. Genta dan papa tidak akan membiarkan mu  begitu saja."


"Apa kamu punya rencana?" tanya Vanya ragu. 


Nadira nampak terdiam. Tak mudah mengelabui Genta untuk membiarkan orang lain melenggang masuk ke rumahnya dengan bebas. Apalagi sudah lama Nadira tak lagi tinggal di sana. Akan aneh rasanya jika Vanya tiba-tiba menerobos masuk ke kamarnya tanpa di curigai.


Nadira menoleh kepada suaminya yang masih menatapnya dari kejauhan. Ada rasa canggung menggayuti hati untuk mengungkapkan rencananya. 


"Sebenarnya bukan bantuan secara langsung," ungkap Nadira ragu. 


Alex berjalan menghampiri Nadira. Ia duduk si sofa single tepat di hadapan istrinya itu. Pria itu duduk santai di sana bersiap mendengarkan apa yang akan Nadira kemukakan.  


"Apa yang kamu ingin aku lakukan untuk mu?" tanya Alex sejurus kemudian. 


Nadira menarik nafas panjang. Nadira sadar bahwa dia bukanlah seseorang perencana strategi yang ulung. Itu bukanlah bidangnya. Selama ini ia hanya menjalankan rencana licik Genta atau ayahnya. Ia hanyalah sebuah pion. 


Namun, Tak ada salahnya jika ia mencoba. Hanya ini yang bisa ia pikirkan. Nadira tidak yakin apakah itu akan berhasil. Hanya saja, ia patut mencobanya. Nadira menatap Vanya dengan seksama. Menemukan keyakinan dalam tatapan mata sahabatnya itu. 


"Aku mau kamu ke rumah dan mengakui pada Genta bahwa aku sedang tersiksa bersama Alex."


"Apa maksud kamu bicara seperti itu?" potong Alex cepat. 


Matanya mendelik tajam menatap Nadira, membuat wanita itu menciut di tempatnya. 


"Mas, tolong dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ini supaya Vanya punya kesempatan untuk melakukan drama dan bisa menerobos masuk ke kamar ku tanpa Genta sadari tujuan Vanya sebenarnya," jelas Nadira seraya menggigit bibirnya. 


"Baiklah. Lanjutkan saja. Aku akan mendengarkan mu hingga selesai," ucap Alex meredakan emosi mendengar ucapan Nadira.