PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 52#



Perjalanan Nadira dan Alex menuju kediaman Kakek Bayu dihiasi keheningan. Tak satupun diantara mereka yang mengeluarkan suara barang sepatah kata.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Pun dengan Nadira yang hanyut dalam kesunyian.  Pikirannya tak tenang di ikuti kekalutan hati yang mendera. 


Entah apa penyebabnya, ia sendiri pun tak tahu. Namun, hatinya seolah berbisik bahwa akan ada sesuatu hal yang sedang menantinya. Ia hanya bisa berharap bahwa kabar baik lah yang sedang menanti.


"Ya Allah, lindungilah Kakek Bayu, berilah ia kesehatan dan umur panjang," bisik Nadira pelan. 


"Kamu bicara apa?" tanya Alex pada perempuan di sebelahnya saat mendengar desisan keluar dari mulut perempuan itu. 


"Hmm ?" Nadira hanya menanggapi pertanyaan Alex dengan gumaman disertai alis yang menukik sebagai tanda ia tak mengerti arah pertanyaan Alex. 


"Tadi kamu bicara apa?"


"Oh … Tidak … Aku tidak bicara apa-apa.  Aku hanya berdo'a semoga Kakek baik-baik saja."


"Amiin … " Alex hanya menanggapi sekenanya. 


Mereka kembali terpaku dalam diam. Sementara Nadira semakin gelisah di tempatnya. Perempuan itu terus merapalkan do'a dalam hati untuk menenangkan detak jantungnya yang berdetak tak beraturan.


Ia sebetulnya bukanlah wanita Solehah yang dekat dengan Sang Pemilik Kehidupan, tapi ia masih yakin akan keberadaan Tuhan jauh di lubuk hati. Bahkan akhir-akhir ini ia seakan merindukan kehadiran sang pencipta di setiap desah nafasnya. 


"Nad, kita sudah sampai. Ayo turun," ucap Alex membuyarkan lamunan Nadira. 


"Eh ... Iya Mas.. Sudah sampai ya?" tanya Nadira gelagapan lantaran kaget. 


"Kamu ngelamun terus dari tadi," ucap Alex seraya melepaskan seatbelt yang melingkari tubuhnya. 


Nadira hanya terdiam mendengar ucapan Alex. Dia tak menyangka kalau ternyata sang suami menyadari pikirannya sedang berkelana. Membuatnya tak enak hati.


Meskipun penghuni rumah tak menampakkan kebencian dan kemarahan, tapi kekhawatiran tetep melanda di tiap derap langkahnya. 


"Kalian sudah datang?!" Sebuah senyum hangat terpancar dari tuan rumah yang menyambut kedatangan mereka.


"Kamu apa kabar, Nad?" tanya perempuan dihadapannya itu seraya mengulurkan tangan untuk menjabatnya.


Perempuan itu lantas memberikan pelukan hangat serta mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kiri layaknya dua orang yang sudah bersahabat lama.


"Aku baik. Kamu apa kabar, Al?" Nadira balik bertanya membalas keramahan Alea dengan agak canggung.


"Alhamdulillah, aku juga baik," balas Alea dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya. 


"Ayo masuk. Kakek sudah tak sabar menunggu kalian saat kusampaikan padanya kalau kalian akan menjenguknya kemari." Suara Alea terdengar renyah di telinga.


Nadira merasa tenang sekaligus bertambah malu, mengingat perbuatannya selama ini pada perempuan solehah di hadapannya ini.


Ia kembali menghela nafas panjang sebelum mengikuti langkah Alea yang menuntun mereka menuju kamar Kakek Bayu. Ia harus bisa menenangkan detak jantungnya yang semakin bergemuruh. 


Tentu Nadira tak ingin terlihat gugup di hadapan Kakek Bayu. Sebisa mungkin ia harus bersikap tenang agar bisa memberikan atmosfer yang bagus saat bertemu Kakek Bayu, persis seperti yang Alea lakukan. Keceriaan dan keramahan perempuan itu mengirimkan sinyal menenangkan di hati Nadira. Membuatnya merasa nyaman berada di dekat Alea meski berjuta rasa melingkupi.  


"Kalian masuk saja ke dalam. Kakek sudah menunggu. Aku akan buatkan minuman dulu untuk kalian," ucap Alea saat mereka sudah berada di depan pintu kamar lelaki pemilik rumah megah yang sedang mereka singgahi ini. 


################################


mohon maaf yah pendek2 part nya.. saking lamanya aku Hiatus... ga nulis2, aku jadi kesulitan buat merangkai kata.. rasanya balik kaya pertama kali nulis pas novel pertama itu.. jadi harap dimaklumi..


dulu aku nulis 1000-1500 kata.. sekarang satu part itu aku bagi dua.. jadi sekarang rata-rata satu part hanya 500an sampai 600an kata.. yang penting aku usahain rajin up lagi yah..