PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
Cuma Promo Yah Guys... Bukan up



Maaf yah guys yang gak berkenan gak usah dibaca... hanya mau numpang promo ajah...


siapa tau ada yang mau baca karya baru aku... judulnya Love Hurts ..... (bakal update rutin mulai tanggal 1 hari jumat)


Hari ini aku gak up dulu yah... tapi besok aku akan usahain up dua part... aku cuma mo kasih spoiler ajah... Tar Vanya bakalan ketahuan kok sama Genta kalau dia cuma akting dan ada tujuan tertentu masuk ke kamar Nadira ... Dia sampe menggeledah apa yang di bawa Vanya dari dalam kamar Nadira...


*********************************************


Bab 1 - Love Hurts


"Ren, kita putus saja. Kita sudahi saja hubungan ini," lirih Kara seraya tertunduk lesu. 


Wanita itu memejamkan rapat-rapat kedua matanya. Tak mampu menatap reaksi pria yang sudah menjadi kekasihnya tiga tahun belakangan ini. 


"Berapa kali ku katakan, aku tidak akan pernah melepaskan mu Kara Anggraini," bentak Reno seraya mendaratkan kepalan tangannya di dinding persis di sebelah Kara. 


Kara tersentak, saat kepalan tangan Reno menghantam dinding. Gemeretak jemari lelaki itu membuat hati wanita itu berdenyut. Ia tak berani membuka matanya yang terpejam. Hati Kara pasti akan tersayat melihat jemari lelaki yang menggoreskan namanya begitu dalam di hatinya, terluka karena perbuatannya baru saja. 


Reno memang selalu emosional setiap kali Kara ingin mengakhiri hubungan mereka. Hubungan yang tak akan pernah ada ujungnya. 


Deru nafas Reno memburu di telinga Kara. Membuat bulir bening mengalir begitu saja, tanpa mampu ia bendung. Wanita itu tahu persis, lelaki angkuh yang sedang bersamanya ini merasa hancur mendengar permintaannya.


Namun, Kara bisa apa, selain meminta agar lelaki itu meninggalkannya? Melepaskan belenggu yang merantainya dengan erat. 


"Tatap aku, Kara," perintah lelaki itu seraya mencengkram rahang wanita terkasihnya.


Wanita itu membuka kelopak matanya perlahan. Mengumpulkan segenap keberanian untuk melaksanakan perintah kekasih hati.


Manik hitam lelaki itu memperlihatkan kepedihan, ketidak berdayaan dan penderitaan yang teramat sangat. Inilah yang membuat Kara tak berani menatap mata itu. Ia pasti akan goyah saat melihat kedua mata Reno.


Pertahanannya runtuh seketika. Padahal berhari-hari ia mengumpulkan keyakinan akan keputusan yang ia buat, tapi hanya hitungan detik keyakinan itu luluh lantak hanya dengan menatap mata kekasihnya. 


"Lihat aku, katakan kalau kau tidak lagi mencintaiku," seru Reno dengan nafas memburu. 


"Aku … aku …."


Semua kata yang sudah wanita itu siapkan, lenyap tak berbekas dari kepalanya hanya dengan menatap kedua manik hitam yang mengirimkan kepedihan serupa di hati Kara. 


Reno langsung menyambar bibir Kara. Membungkam kata yang tak sempat tersampaikan oleh wanita yang memenuhi setiap sudut hati Reno. Bibirnya kian menuntut lebih, memaksa Kara membalasnya. 


Pagutan Reno beralih ke rahang Kara hingga turun ke ceruk lehernya. Mengirimkan gelenyar yang merayap di sekujur tubuh Kara. Tak hanya bibirnya yang menuntut. Tangannya turut menjamah setiap jengkal tubuh kekasihnya. Reno melepaskan satu-satunya penghalang bagi jemarinya mendarat di indra peraba kekasihnya. Membuat Kara tak mampu berkata selain hanya mendesah pasrah. 


"Hentikan Reno, ku mohon," desah Kara tak mampu lagi menahan gejolak yang kian membuncah. 


Kara merutuki dirinya sendiri. Tubuhnya seakan berkhianat dengan logika dan pikirannya. Tubuhnya mengatakan hal yang bertolak belakang dengan ucapan yang keluar dari bibirnya. 


Tubuh Kara bergetar, ia meminta lebih dan lebih dari semua yang tengah Reno berikan. Hingga air mata luruh di kedua pipinya.


Kara membenci dirinya sendiri yang tak mampu menolak pesona Reno. Pesona yang menenggelamkannya pada jurang pesakitan. Membuatnya terbawa arus kenistaan. Wanita itu membiarkan kekasihnya membawa ia pada puncak kenikmatan ragawi. Melebur dalam rasa yang sering kali tak sejalan dengan logika. 


"Kau milikku selamanya. Milikku. Tak akan pernah berubah, apapun yang terjadi. Aku tak akan membiarkanmu pergi, Kara," bisik Reno ditelinga Kara setelah ia berhasil membuat kekasihnya lunglai tak berdaya dalam pelukannya. 


Reno mempererat pelukannya pada tubuh Kara. Mengungkung rapat tubuh mungil itu hingga tak bercelah. Mengirimkan rasa yang memenuhi seluruh jiwa, rasa mendalam yang tak lagi mampu ia ucapkan lewat kata.


"Tidurlah, sayang. Aku tau kau pasti lelah." 


Reno mengecup dahi Kara yang basah karena keringat. Kemudian membelai pipi mulus wanita itu. 


"Aku mencintai mu, sangat mencintai mu," ucap Kara dengan mata berkaca-kaca. 


Entah kapan ia bisa mengatakan tidak pada lelaki yang menatapnya dengan lembut. Penuh cinta dan menenangkan hati. Meski terus menorehkan luka yang semakin menyayat.


"Aku juga, Cintaku. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih kucintai di bandingkan dirimu," balas Reno dengan segenap hati.


Suara lembut Reno membuai Kara, membawa ucapan lelaki itu menembus hingga ke jantungnya. Menancap dalam hati, hingga mengakar di sana. Membuat Kara lagi-lagi tenggelam oleh kata-kata manis lelaki itu, tak ubahnya kawat berduri yang mengikatnya dengan erat.


Kara tak tahu harus apa. Semakin besar rasa cinta yang dicurahkan Reno, maka semakin sakit yang ia rasa.


Namun, ia tak mampu melepaskan ikatan yang membelenggunya atas nama cinta, meski itu menyakitinya.


"Tunggu aku, Kara. Tunggu aku sebentar lagi. Aku pasti bisa memberikan seluruh isi dunia padamu. Sebentar lagi saja. Sebentar lagi aku akan menghapus setiap luka yang sudah ku torehkan di hidup mu. Aku akan mengganti setiap tangis mu menjadi bahagia yang tak terkira. Aku janji, Sayang," bisik Reno seraya membelai rambut Kara yang sudah terlelap.  


Ia mengecup kening wanitanya. Wanita yang setia mendampinginya selama tiga tahun ini. Wanita yang sudah membangkitkan ambisinya untuk mendaki puncak kekuasaan. 


Reno bukanlah lelaki yang haus harta apalagi kekuasaan. Ia hanya ingin menjalani hidup sederhana yang dipenuhi cinta dari kekasih hatinya.


Namun, terlahir sebagai satu-satunya ahli waris dari keluarga Pradipta, membuat Reno tak memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Takdir seolah tak berpihak padanya untuk menorehkan cerita bahagia. 


Getaran di atas meja mengalihkan perhatian Reno dari wajah polos kekasihnya. Ia menatap ponselnya yang masih bergetar di atas meja tanpa suara.


Rasa enggan menyelimuti hati, meski hanya untuk melihat siapa yang terus menghubunginya tanpa jeda. Namun, tak urung Reno beranjak dari tempatnya dan meraih ponsel di atas meja. Nama Danisa tertera sebagai identitas si penelepon.


"Ya?" sambar Reno malas setelah ia menekan tombol hijau di layar ponsel. 


"Ren, kamu kemana aja? Aku udah telepon dari kemaren, tapi gak kamu angkat-angkat," jawab sebuah suara di seberang sana. 


"Ada apa?" tanya Reno tanpa menggubris pertanyaan Danisa. 


"Reno … Kamu sadar gak sih kalau lusa adalah hari pernikahan kita?" 


"Ya."


"Ya doang?"


"Kamu maunya saya jawab apa?"


"Ren, seenggaknya kamu perduli sedikit kek sama persiapan pernikahan kita."


"Terus apa gunanya wedding organizer?"


"Tapi cuek nya kamu keterlaluan, Reno. Sampai sekarang, bahkan kamu belum fitting baju pengantin kita. Padahal kan harusnya minggu kemaren fitting udah selesai."


"Ukuran baju saya masih sama seperti baju yang biasa saya pakai."


"Aku harus gimana sih, Ren, sama kamu? Sedikitpun kamu kaya gak perduli sama pernikahan kita. Padahal hanya tinggal hitungan hari," suara Danisa terdengar memelas, tapi Reno tetap bergeming. 


"Saya sudah bilang sama kamu konsekuensinya, kalau kamu masih tetap mau melanjutkan pernikahan ini. Masih ada waktu buat kamu untuk berubah pikiran," ketus Reno seperti mendapat angin segar. 


Besar harapannya agar wanita yang tengah meneleponnya itu sadar dan mau membuka mata. Ia sudah bersikap dingin dan cuek terhadap wanita yang berstatus sebagai tunangannya itu. Namun, Danisa masih saja tidak bersedia membatalkan pertunangan mereka. 


"Jangan harap aku mau membatalkan pernikahan kita. Aku yakin setelah kita menikah nanti, kamu hanya akan melihat aku seorang. Setelah itu, kamu bisa berhenti bermain-main dengan jalangmu itu," sembur Danisa tak dapat lagi menahan emosinya. 


"Jaga mulutmu. Sekali lagi kamu berani menghinanya, kamu akan tanggung akibatnya," hardik Reno kemudian mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Danisa. 


Reno menyugar rambutnya kasar seraya berdecak sebal. Kepalanya berdenyut seketika memikirkan jalan takdirnya. Tanpa ia sadari, Kara terbangun ketika mendengar Reno membentak seseorang di telepon.


"Ada apa Ren? Apa ada masalah?" tanya Kara seraya bangkit dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya pada kepala dipan. 


"Maaf, Sayang. Aku udah ganggu tidur kamu, ya?!" ucap Reno seraya memberikan senyum hangat pada Kara. 


Ia menggeser duduknya mendekati Kara. Membelai pipi wanita terkasihnya itu seraya mendaratkan kecupan di kening Kara. 


"Kamu habis telepon siapa? Apa itu tadi Danisa?" tanya Kara seraya menahan sesak yang tiba-tiba menghimpit dada.


"Sstt ...." desis Reno meminta Kara tak melanjutkan bicaranya. 


Kara sadar betul kenapa Reno menghentikan ucapannya. Nama wanita itu seolah tabu hadir diantara mereka. Hanya saja, Kara tak lagi mau menutup mata dari kenyataan yang ada. Meski itu semua terasa pahit dan menyakitkan. 


Kalaupun bisa memilih, Kara juga tak mau menyebutkan nama wanita itu. Wanita yang lebih berhak atas diri Reno. Wanita yang sebentar lagi mengukuhkan Kara sebagai seorang simpanan.


"Jangan berpikir yang macam-macam. Itu tadi hanya masalah kantor. Kamu kan tau, belakangan ini aku sibuk dengan urusan kantor," ucap Reno menenangkan gejolak hati Kara. 


"Hanya kantor?" tanya Kara berusaha menutupi rasa tak percaya pada ucapan lelaki di hadapannya.


"Hanya kantor," ucap Reno seraya tersenyum manis. "Aku balik dulu. Beberapa hari ini, aku akan sibuk. Setelah menyelesaikan semua urusanku, aku akan segera menemui mu dan mengajak kamu berlibur, okay?!"


Reno mengecup bibir Kara sekilas sebelum meninggalkan wanita itu dengan berat hati.