PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 74#



Nadira berjalan beriringan dengan Elika seraya mengobrol hangat sembari bercanda tawa. 


"Elika," sapa Elroy saat berpapasan dengan sang adik. "Kamu dari mana?"


"Kita habis dari toilet. Kakak udah lama?" tanya Elika balik. 


"Baru aja nyampe, kok," jawab lelaki berkacamata itu. "Kemal mana?"


"Masih nunggu di resto yang tadi aku wa kakak."


"Yaudah yuk, kita kesana. Biar cepet ngobrolnya. Kakak masih ada janji."


"Mampir bentar, yah. Aku mau ambil pesenan cincin aku. Enggak jauh kok tokonya, deket resto," ucap Elika dengan nada manja. 


"Ya udah, buruan," jawab Elroy seraya mengiringi langkah adiknya bersama Nadira. 


Memasuki toko perhiasan, Elika sempat melihat-lihat model terbaru perhiasan di toko itu sembari menunggu pesanannya dipersiapkan. 


"Nad, lihat deh yang ini bagus yah," ucap Elika seraya menunjuk sebuah cincin dengan ukiran cantik bertahtakan berlian merah muda. 


"Bagus, coba aja dulu." Nadira memberi saran pada Elika yang nampak berbinar menatap cincin yang ditunjuknya.


Elika lantas meminta pegawai toko yang melayani mereka mengambilkan cincin tersebut untuk di cobanya. 


Sementara di belakang mereka mata Elroy nampak terpaku pada Nadira. Semakin hari Elroy tak dapat menampik bahwa Nadira begitu menarik perhatiannya. Perempuan itu terlihat unik dan berbeda dari perempuan yang pernah ia kencani.


Nadira terlihat sederhana, tapi memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Meski begitu, ia sama sekali tak silau akan harta. Saat ini saja, Nadira nampak biasa saja menatap kilauan hamparan permata di hadapannya. Tak sedikitpun reaksi bawahannya itu yang menunjukkan ketertarikan meski hanya untuk mencoba. 


"Ini pesanan anda, silahkan diperiksa terlebih dahulu," seorang pegawai menginterupsi Elika dan Nadira. 


"Terimakasih, Mbak." Elisa menyambar pemberian dari pegawai itu dan memeriksa cincin kawin yang sudah ia pesan dua minggu yang lalu bersama Kemal. 


"Ayo buruan," ajak Elroy pada adiknya, tapi matanya masih terus terpaku pada Nadira. 


"Iya-iya, sabar kenapa sih," ucap Elika seraya melepas cincin yang dicoba dengan perasaan enggan. 


"Nad, aku titip yah," ucap Elika tepat di depan pintu toko saat pintu ototmatis yang terbuat dari kaca terbuka. 


Nadira mengangguk seraya meraih pepper bag yang diserahkan oleh elika dengan wajah penuh tanya.


"Kamu balik duluan deh sama Kak Elroy, aku kepikiran cincin tadi. Daripada nyesel, mending aku ambil deh," ucap perempuan itu cengengesan. 


"Kamu duluan deh, Kak. Aku ga bakalan lama kok. Suer …." Elika memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Elroy dengan manja. 


"Yaudah, tapi jangan lama," pungkas Elroy seraya mengusak rambut Elika penuh sayang. 


Nadira memandangi interaksi dua kakak beradik tersebut dengan mata berembun. Hatinya terenyuh melihat kasih sayang yang ditunjukkan oleh Elroy pada Elika. Seketika bayangan Genta melintas begitu saja dipelupuk mata. Di sudut hati terdalam, Nadira membayangkan kehangatan yang Genta berikan untuknya. Meskipun itu terasa mustahil. Tak sekalipun ia melihat cinta di mata Genta untuknya. 


"Yuk, jalan," ucap Elroy mengaburkan angan Nadira. 


"Ayo," jawab Nadira seraya mensejajarkan langkahnya di samping Elroy. 


"Maaf yah kalau adikku suka merepotkan. Di bungsu dan satu-satunya perempuan di rumah. Jadi memang agak manja."


"Elika tidak pernah merepotkan. Dia teman yang menyenangkan," balas Nadira dengan senyum tulus mengembang di wajah. 


Baru beberapa langkah menjauhi toko perhiasan, mata Nadira menangkap keberadaan seseorang yang tengah berjalan dari arah berlawanan.


Wajah Nadira tegang seketika saat melihat bagaimana sosok itu menatapnya dengan geram. 


*****************************************


Part selanjutnya meluncur malam ini juga yah... sabar yah.. maaf absen lagi.. aku nyambi sama judul lain soalnyah... biar otakku refresh...


judulnya Love & Business


udah ada 8 part... yang penasaran silahkan klik profil aku yah... atau bisa klik di kolom pencarian...