
Elroy tak berkutik mendapati jawaban Kemal. Tentu saja tak ada yang dapat menyanggah ucapan Lelaki bertubuh tambun itu, karena benar adanya. Jika mereka ingin mendengar penjelasan secara utuh, mereka harus mempertemukan Kemal dan Alex untuk mendapat jawaban yang berimbang dari dua sisi. Sayangnya ia tidak mungkin melakukan hal tersebut.
"Kamu sadar siapa Pak Alex, Mal? Dia bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Lagipula, BeTrust adalah client terbesar yang pernah De' Advertising miliki. Aku tidak ingin masalah ini mempengaruhi kerjasama kita kedepannya," Ujar Elroy mendesah pasrah.
"Kalian menggadang-gadang dia sebagai orang besar. Tapi apa tidak aneh, seorang CEO mengawasi langsung pembuatan iklan sebuah produk? Dari kemarin aku selalu melihat dia mondar-mandir di lokasi shooting seperti orang tidak punya pekerjaan." Kemal memasang wajah menyeringai penuh ejekan membuat Elroy serta Aldi bergumam membenarkan.
"Tentu saja dia punya hak untuk melakukan itu, Mal," sanggah Elroy.
"Tapi apa yang dia lakukan sama saja seperti tidak mempercayai kinerja perusahaan kita. Kalau dia tidak percaya, kenapa dia menyerahkan proyek ini pada De' Advertising? Kecuali dia punya alasan lain melakukan hal itu."
"Kamu sepertinya sangat mengenal Pak Alex dan mengetahui apa yang menjadi alasan dia melakukan apa yang dari tadi kamu tuduhkan," ujar Elroy melirik Kemal.
"Aku bukan cenayang yang bisa meraba isi hati seseorang. Aku hanya heran dengan segala sikap yang dia tunjukkan. Termasuk memukulku tanpa alasan. Kalau semua orang disini ingin mengetahui kejadian sebenernya, lebih tepat kalau kalian menanyakannya pada Elika. Karena sejak dialah yang menyaksikan apa yang terjadi."
"Benar, Kak. Pak Alex mendatangi kami saat tengah makan siang. Dia langsung memukul Bang Kemal tanpa alasan. Lantas Bang Kemal membalasnya. Setelah itu orang-orang berkerumun dan membuat mereka menghentikan perkelahian," jelas Elika.
"Tidak mungkin Kemal menerima pukulan begitu saja tanpa menanyakan alasan Pak Alex melakukan itu," cecar Elroy.
"Sepertinya dia salah paham akan kedekatan Bang Kemal dengan seseorang," imbuh Elika.
"Sudah jelas kalau Alex yang memulai gara-gara di sini. Jadi kalau kalian butuh penjelasan, sebaiknya tanyakan langsung pada lelaki arogan itu," potong Kemal cepat.
"Aku hanya tidak mau kejadian ini berimbas pada kerjasama perusahaan." Elroy seperti tidak puas memdengar penjelasan dari Kemal.
"Aku siap mundur kalau memang itu yang terjadi. Aku juga tidak mau menjadi penghalang yang sengaja menjegal kemajuan perusahaan ini," ucap Kemal menghentikan Elroy terus mencecarnya.
"Baiklah, aku pegang ucapan mu. Kalau sampai hal ini berkelanjutan kamu harus bertanggung jawab menyelesaikan semuanya. Satu lagi, setelah ini sebaiknya jaga sikapmu terhadap Client, Kemal. Meski itu urusan pribadi, tapi itu bisa berimbas pada perusahaan ini."
"Aku mengerti."
"Tunggu, bagaimana dengan perempuan ini? Kamu tidak bisa membiarkannya begitu saja. Dia lah yang menyebabkan Alex bertengkar dengan Kemal," desis Thalita pada Elroy. "Kamu juga tidak akan mempercayai perempuan ini begitu saja kan, Elika? Dia bisa menjadi duri dalam hubunganmu dengan Kemal." Thalita mengalihkan tatapannya pada Elika.
"Aku rasa justru kamu sendiri yang bisa menjadi duri dalam perusahaan ini kalau Kak Elroy terus mempertahankanmu di sini," balas Elika seraya mencibir.
Thalita mengepalkan tangannya mendengar penuturan Elroy. Tujuannya menyingkirkan Nadira justru berbalik menghantamnya. Dengan menahan kesal, Thalita bangkit dari kursi dan keluar ruangan dengan menghentakkan kaki dengan kencang.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu masih mempertahankan orang seperti dia di perusahaan mu, Kak," ucap Elika saat Thalita sudah menghilang di balik pintu.
"Kamu tidak perlu ikut campur urusan perusahaan. Sebaiknya kamu jaga calon suami mu itu supaya tidak terus berlagak seperti playboy. Kamu akan sering menghadapi masalah seperti ini, kalau terus membiarkannya bersikap sesuka hati," balas Elroy tajam.
"Aku rasa kali ini Kakak benar. Sikapmu selama ini memang suka memancing kesalah pahaman dari orang lain." Elika melirik tajam kekasihnya.
"Oh come on, Bos. Jangan semakin memperkeruh suasana," ucap Kemal sebal.
"Aku tidak akan berbicara seperti ini, kalau kau tidak mencamour adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan."
"Tapi aku tidak ... " Kemal menghentikan ucapannya yang berniat mengkonfrontasi pernyataan Elroy. "Ah ....sudahlah. Tidak ada gunanya aku membela diri," gumam Kemal kemudian.
"Apa aku sudah bisa pergi sekarang?" tanya Kemal menahan kesal.
"Tentu saja. Silahkan lanjutkan apa yang sedang kamu lakuakn sebelum ini. Terima kasih sudah mau menemui ku," ucap Elroy santai tak menggubris sikap Kemal.
"Kalau begitu saya permisi," ujar Kemal sembari menarik tangan Elika keluar ruangan.
"Kamu juga bisa kembali melanjutkan pekerjaan mu," ucap Elroy pada Aldi.
"Baik, Pak. Saya permisi." Aldi membalikkan badannya menuju pintu keluar.
Tinggal Nadira yang bediri canggung dalam ruangan itu. Nadira sadar betul, tujuannya dipanggil keruangan ini lantaran Thalita telah menyeret namanya dalam perkelahian antara Kemal dan Alex tadi siang. Akan tetapi, tak sekalipun Kemal menyinggung namanya. Begitu pula dengan Aldi yang tak menyebutkan namanya sama sekali. Pun dengan Elroy yang tak meminta konfirmasi langsung darinya. Hal itu membuat Nadira tak tahu harus bersikap seperti apa dihadapan atasannya itu.
"Apa saya juga bisa kembali melanjutlan pekerjaan saya, Pak?" tanya Nadira kemudian.
"Tunggu, ada hal yang ingin saya tanyakan kepada kamu. Duduklah," peri tah Elroy membuat Nadira membeliak kaget.