
Suara ketukan pintu itu tak mau berhenti meski Alex susah mengatakan tak mau diganggu. Sontak saja membuat Alex naik pitam. Ia menggeram karena lagi-lagi harus menahan keinginannya untuk mencumbu rayu istri yang sengaja menggodanya hari ini.
Alex bangkit dari sofa dan melepaskan rengkuhannya pada tubuh Nadira. Cepat-cepat Nadira manfaatkan kesempatan itu untuk bangun dari sofa dan merapihkan penampilannya yang sudah acak-acakkan.
"Pakai Blazer mu," titah Alex seraya menarik Blazer Nadira dari atas meja.
Ia menyampirkan blazer itu menutupi tubuh Nadira yang sedikit terkespos. Membantu wanita itu mengancingkan blazernya dengan cepat seraya berteriak pada seseorang yang sedang menunggunya tak sabar di luar ruangannya.
"Masuklah," ucap Alex cepat.
Pria itu menyapukan jemarinya pada area di sekitar bibir Nadira, mengusap sisa lipstik yang berantakan di sana. Pun dengan Nadira yang juga mengusap bibir Alex yang terdapat jejak lipstiknya di sana.
"Pantas saja kau tidak mau diganggu. Ternyata kau sedang asik berduaan di sini. Aku kelimpungan mengurus masalah perusahaan, kau malah asik pacaran," celoteh pemuda yang baru saja masuk ke dalam ruangan Alex.
Alex memutar tubuhnya menatap pria yang berani mengoceh tentang ulahnya. Ia seharusnya sadar bahwa Nino memang memiliki sifat menyebalkan sama seperti atasannya.
"Ada apa perlu apa kau mencari ku?" sembur Alex tak merasa perlu menutupi kekesalannya.
Alex lantaa mendaratkan tubuhnya di sofa, duduk dengan tenang, memperlihatkan raut wajah dingin dan tak bersahabat.
Tanpa merasa canggung, Nino turut mendaratkan bokongnya di atas sofa depan Alex. Pria itu menatap Nadira dengan menyipitkan kedua matanya.
"Hi, Sherly. Lama tak bertemu dengan mu," ucap Nino menahan rasa terkejutnya menyadari siapa wanita yang baru saja membuatnya harus menunggu lama di depan pintu ruangan Alex.
"Eh, Hi ... Nino. Senang bertemu lagi dengan mu," ucap Nadira membuat Nino menukikkan kedua alisnya tinggi.
"Wow, aku merasa tersanjung kau senang bertemu dengan ku. Seingat ku kau paling membenci ku," ucap Nino seraya tergelak heran.
"Itu dulu. Boleh kita melupakan saja masa-masa itu," ucap Nadira ragu.
Hatinya Nadira berdebar menunggu reaksi yang diberikan Nino. Segala kejadian dulu berkelabat di kepala. Tak dipungkiri, Nino memang tak menyukai sikapnya yang selalu mengganggu Ravka di setiap kesempatan. Berbuat semaunya tanpa perduli sekitar dan sering menyebabkan masalah yang harus dibereskan oleh Nino.
Tentu saja Nino bisa menyimpulkan bahwa keduanya mungkin saja sudah saling menerima pernikahan mereka setelah melewati drama yang panjang. Terakhir ia mendengar dari Ravka bahwa, Alex dan istrinya kembali menempati kediaman keluarga Dinata atas permintaan Tuan Bayu.
"Aku rasa ada yang perlu kalian bicarakan dengan serius. Jadi aku akan segera pergi dari sini. Aku ...."
Belum selesai Nadira bicara, Alex sudah menarik perempuan itu turut duduk di sebelahnya. Pria itu mencengkram pinggang Nadira dengan erat hingga menempel padanya.
"Mas, aku harus segera kembali ke kantor."
"Duduk dan diam saja di sini," ucap Alex tegas membuat Nadira tak dapat berkutik.
"Oh, Shiitt, kenapa semua pria keluarga Dinata itu sama? Dulu Ravka sekarang kau. Apa kalian tidak bisa membedakan mana kantor dan mana rumah? Kau sebaiknya bawa istri mu pulang dan berdiam diri dalam kamar," ujar Nino sengit.
Kedekatan Nino dengan keluarga Dinata membuatnya sudah seperti bagian dari keluarga Dinata. Pria itu tak pernah bersikap formal baik pada Ravka maupun pada Alex saat tak ada karyawan lain di sekitar mereka.
"Aku tahu kau bersikap seperti ini karena iri. Aku sarankan sebaiknya kau mengakhiri masa jomblo mu itu," balas Alex tak kalah sengitnya.
"Oh ya, aku harus berterima kasih karena kau sudah mengingatkan ku. Aku rasa aku memang sebaiknya membawa istri ku pulang," ucap Alex acuh dan bersiap bangkit dari duduknya dan membawa Nadira pulang ke rumah. Paling tidak ke apartemennya.
"Hei, aku tidak serius dengan ucapan ku. Ada hal penting yang harus kita bahas. Akhir-akhir ini masalah bermunculan dimana-mana. Kau harus segera membaca laporan ini. Ravka sedang menangani masalah yang muncul di pabrik. Dia meminta ku membahas masalah ini dengan mu. Ada yang tidak beres," ucap Nino berubah serius.
Pria itu tak lagi terlihat bercanda saat mengatakan masalah yang tengah mereka hadapi. Ia menyerahkan map yang dia kepada Alex. Pemuda itu langsung membukanya dan tenggelam dalam laporan yang di bawa Nino.
Reflek Alex melepaskan pelukannya pada Nadira, raut wajahnya terlihat serius. perlahan-lahan, rahangnya mulai mengares setiap membaca baris demi baris tulisan yang tertera di dalam map itu.
*********************************************
Sorry guys semalem aku ketiduran dengan Hp di tangan.. padahal tinggal pindahin data dan send.. sorry yah.. tapi tar sore aku tampah up satu lagi yak...