PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 72#



"Mama, aku kangen," ucap Nadira seraya menghambur ke dalam pelukan Ibunya, begitu shinta membuka pintu griya tawang yang ia tempati. 


"Mama juga kangen banget sama kamu," ucap Ibunya seraya membelai lembut kepala Nadira. 


Wanita paruh baya itu kekudian menggiring anaknya menuju sofa dan mengajak Nadira duduk di sana. Ia membelai lembut pipi gadis kecilnya itu.


"Kamu ke sini sendirian?" 


"Iya, Ma. Aku sendirian."


"Alex kemana?" 


"Mas Alex ke kantor. Akhir-akhir ini Mas Alex sedang sibuk di kantor," jawab Nadira sendu. 


Perubahan raut wajah putrinya itu tak lepas dari pengamatan Shinta. Ia meyakini sang putri saat ini sedang di rundung masalah.


"Weekend seperti ini, Alex masih kerja?" tanya Shinta mulai mengorek informasi. 


"Yah mama tau sendiri kan, Mas Alex itu sekarang megang jabatan CEO di BeTrust. Pasti sibuk banget karena ada banyak hal yang harus ia tangani."


"Kamu enggak lagi nutupin sesuatu kan dari mama?" tanya Shinta yang tak percaya begitu saja dengan penjelasan putrinya itu.


"Enggak kok, Ma. Mama enggak usah khawatir yah  Aku baik-baik aja kok," jawab Nadira seraya mengembangkan senyum demi meyakinkan Ibunda tercinta.


"Tapi kamu keliatan kurusan. Apa kamu enggak betah tinggal di rumah keluarganya Alex? Apa mereka tidak menyukai kehadiran kamu di sana?" berondongan pertanyaan Shinta lontarkan karena tak ouas dengan jawaban Nadira.


Ia menyadari bahwa wajah Nadira seolah tak berseri. Padahal beberapa bulan belakangan, putrinya itu sudah mulai nampak ceria dan bahagia. Terutama saat ia mulai bekerja. Namun, sekarang ia kembali melihat binar mata Nadira mulai meredup lagi.


"Nadira betah kok, Ma tinggal di sana. Semuanya baik-baik banget sama Nadira. Mereka enggak dendam sama sekali. 


"Mama berharap, kamu tidak pernah menutupi apapun dari mama. Jangan buat mama menyesal telah membawa kamu pergi dari rumah," ucap Shinta sembari menatap Nadira lekat-lekat. 


Ada baiknya jika ia menceritakan apa adanya meski tak terperinci. Dengan begitu pasti ibunya akan lebih mahami dan mau mengerti. Sehingga tak lagi membebani pikiran wanita yang sudah semakin menua itu. 


"Yasudah, mama percaya kamu oasti bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga mu," ucap Shinta seraya mengelus punggung tangan Nadira. 


"Sekarang aku mau ajak mama jalan-jalan. Mama pasti bosen kan seharian di rumah terus. Lagi pula aku juga butuh refreshing, biar pikiranku tenang dan bisa menyelesaikan masalahku dengan Mas Alex dengan kepala dingin," ucap Nadira seraya menyunggingkan senyum lebar. 


"Memangnya kamu punya uang buat jalan-jalan?" 


"Punya dong. Kan aku udah gajian. Jadi, Mama harus cicipi uang yang aku hasilkan dengan kedua tangan ku ini," ucap Nadira berbangga diri. 


"Mama bangga sama kamu," ucap Shinta seraya mengusak rambut Nandira. 


"Makasih, Ma," ucap Nadira sembari memeluk Shinta dengan erat. 


Hatinya menghangat seketika mendengar pujian dari Ibunya. Ada rasa hatu yang memenuhi jiwanya yang mulai terasa hampa. 


"Kalau gitu, kita jalan sekarang yuk. Takut Kemal sama Elika nungguin kita."


"Memangnya, Nak Kemal mau ikut jalan bareng?" 


"Pasti dong, Ma. Kemal sama Elika adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku saat ini. Mereka sudah menjadi bagian dalam hidup aku, sekarang."


"Kita memang harus membalas budi baik seseorang. Jangan sampai menjadi kacang yang lupa akan kulitnya," ucap Shinta menasehati. 


"Iya, Nadira akan ingat selalu pesan mama."


"Yasudah. Kqmu tunggu sebentar, mama siap-siap dulu," ucap Shinta seraya berlalu dari hadapan Nadira dan memasuki kamarnya dengan senyum bahagia.