PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 84#



Alex memeluk sang istri yang tengah membubuhkan make up di wajahnya. Ia mendekatkan tubuhnya pada punggung Nadira yang duduk menatap cermin. Alex turut menatap ke dalam cermin, melihat wajah perempuan yang berkali lipat lebih cantik dari biasanya. 


Seketika senyum menghias paras ayu Nadira. Binar matanya seolah berbicara lebih banyak. Alex lantas mendaratkan bibirnya di tengkuk Nadira yang terbebas dari rambut. Perempuan itu menggelung tinggi rambutnya, hingga tak ada yang menghalangi Alex mengeksplor leher jenjang istrinya. 


"Mas, geli ah. Aku jadi enggak bisa make up ini," ucap Nadira manja. 


Alex meraih blush on dari tangan Nadira kemudian meletakkannya kembali ke atas meja rias. Ia memutar tubuh Nadira menghadapnya dan melabuhkan ciuman di bibir istrinya. 


"Mas, kamu bisa merusak make up ku," ucap Nadira setelah Alex membebaskan bibirnya. 


Namun, suaminya itu hanya diam saja. Ia justru menarik Nadira agar berdiri dan menjauhi meja rias. Ia membawa istrinya ke dalam pelukannya dan mulai menggerayangi tubuh perempuan itu.


"Kita udah mandi loh, Mas," ucap Nadira seraya menahan getaran yang dirasakan oleh tubuhnya akibat sentuhan jari jemari suaminya. 


"Kita tidak sedang kekurang air," ucap Alex membungkam mulut istrinya dengan bibirnya. "Aku sudah terlalu lama menahan diri, jadi aku tidak akan pernah menahannya lagi," ucap Alex serak mengirimkan gelenyar di hati Nadira. 


Alex kembali membawa Nadira mereguk manisnya madu dalam pernikahan mereka. Pernikahan yang akhirnya menjadi sempurna di tengah ketidaksempurnaan mereka sebagai sepasang anak keturunan adam. 


Nadira tak pernah menyangka bahwa pernikahannya dengan Alex akan berjalan sejauh ini. Pernikahan yang semula tak ia kehendaki, kini menjadi hal yang paling membahagiakan bagi dirinya. Dunianya serasa sempurna setelah melewati berbagai rintangan yang menghadang. 


"Mas, jangan rusak make up ku lagi yah," ucap Nadira satu jam kemudian. 


Ia sudah menatap wajahnya di balik cermin. Nadira sudah siap membubuhkan make up kembali setelah Alex merusaknya dan memaksanya mandi untuk kedua kalinya pagi ini. Bibirnya bersungut, tapi seri di wajahnya justru mengatakan sebaliknya.


"Aku akan merusaknya lagi, kalau kamu berani make up berlebihan," ucap Alex seraya mengancingkan lengan kemejanya yang sudah berganti warna. 


Alex terpaksa mengganti kemeja yang sudah disiapkan oleh Nadira lantaran baju itu harus di setrika ulang. 


"Apa namanya jika kamu bukan make up berlebihan, jika para pria selalu mendekatimu?" omel Alex mengingat kejadian siang kemarin di restoran saat istrinya duduk seorang diri menunggunya.  


"Itu karena aku terlihat seperti wanita single. Makanya mereka semua berebutan mendekati ku. Mana ada laki-laki yang membiarkan wanita sendirian. Kebanyakan laki-laki itu, kucing garong," balas Nadira tak kalah sengit. 


"Makanya, bersikaplah seperi wanita yang sudah bersuami. Cincin mu saja tidak pernah kamu pakai," geram Alex.


Sejak pertama kali bertemu lagi dengan Nadira hingga sekarang, tak sekalipun ia melihat Nadira mengenakan cincin kawin mereka. Ia pikir karena Nadira sudah melupakan pernikahan mereka. 


"Cincin ku dibuang, Genta. Kamu sendiri tidak pernah memakainya," rutuk Nadira. 


"Aku melepasnya karena kamu juga tidak memakainya," ketus Alex. 


"Jadi sebelum itu, kamu tidak pernah melepas cincin mu, Mas?" tanya Nadira semringah. 


Hatinya menghangat seketika menyadari Alex masih terus mengenakan cincin kawin mereka meski Nadira tak lagia bersamanya saat itu. 


"Cepatlah, kita sudah kesiangan," ucap Alex mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu, Mas. Kamu masih tetep make cincin kawin kita waktu aku enggak ada di sini?" cecar Nadira. 


Namun, suaminya justru melengos dan meninggalkannya dengan wajah cemberut. 


"Mas ... berarti dari dulu kamu masih mengharapkan aku kembali kan?!" jerit Nadira saat Alex sudah mencapai pintu dan melangkah keluar. 


Nadira kembali memberengut saat Alex sudah menghilang di balik pintu tanpa menjawab pertanyaanya.