
"Nad, ayo kita makan siang bareng," ajak Aviva pada Nadira yang tengah merapihkan keja kerjanya.
"Nadira, hari ini makan siang bareng gue aja yah," sambar Denis cepat.
Pria itu sedari tadi bolak balik kubikel Nadira dengan berbagai alasan yang bahkan kentara sekali hanya di buat-buat olehnya. Perasaan menyesal terbersit dalam hati Nadira karena keberaniannya hari ini.
Niat hati hanya ingin membuat Alex kesal, justru mendatangkan masalah untuk dirinya sendiri. Sejak datang ke kantor, teman-temannya terus mengomentari penampilannya. Ditambah lagi sikap Denis yang selalu mencari perhatian membuat Nadira gerah.
"Heh, lu itu masih belom tau yah kalau Nadira udah ada yang punya?" celetuk Aviva pada Denis.
"Emang kenapa kalau dia udah ada yang punya. Kan belom tentu berjodoh. Selama janur kuning belum melengkung, tikungan bebas hambatan," ucap Denis percaya diri.
"Dasar jones. Lu kira elu Rossi bisa nikung di arena balapan? Sadar diri, Bro. Dari pada lu patah hati tar," ledek Jono dari seberang kubikel Nadira.
"Belum tentu jodoh dari mana? orang udah jadi lakinya," sambar Ais.
"Hah, apa? Maksud lu, Nadira udah married gitu?" tanya Denis melotot dengan kedua bola mata hampir keluar dari tempatnya.
"Kudet lu," celetuk Aviva membuat Denis semakin terperangah.
"Kapan marriednya? Kok gak ngundang gue?" ucap Denis seakan tak terima dengan informasi yang baru didapatnya.
"Siapa yang married?" tanya Jono turut menghampiri kubikel Nadira.
Pun dengan Aldi dan Irvan yang juga turut kepo mendengar obrolan teman-temannya. Jadilah empat lelaki itu mengerubungi kubikel Nadira dengan wajah penuh tanya.
"Noh, si ibuk cantik," sahut Ais dengan asal.
"Beneran lu udah married, Nad?" tanya Jono tak percaya.
Nadira mengulas senyum di bibir seraya mengangguk.
"Kapan marriednya? Kenapa gak undang kita-kita?" tanya Irvan kepo.
"Gimana mau ngundang kita? orang dia marriednya sebelum masuk kantor sini kok," ucap Aviva.
Nadira hanya mengumbar senyum lantaran sudah ada dua temannya yang bersedia menjadi asisten wanita itu untuk menjawab pertanyaan para pria di ruangan mereka.
"Maaf yah, Al. Waktu itu gue memang menyembunyikan identitas gue. Tapi sebetulnya gue memang udah nikah," jawab Nadira merasa bersalah.
"Wah, jangan-jangan lu lagi proses cerai yah, Nad? makanya lu tulis single di berkas lamaran kerja," ucap Irvan membuat Nadira tersentak.
"Kalau gitu, gue masih ada kesempatan dong," timpal Denis tidak mau menyerah.
"Enggak kok enggak, gue sama suami gue baik-baik aja," jawab Nadira cepat.
"Jadi gue gak ada kesempatan nih?" desis Denis melemah.
"Lu gak bakalan bisa bersaing sama suaminya Nadira. Udah lu nyerah aja. Buang mimpi lu jauh-jauh buat ngedeketin Nadira," ucap Aviva.
"Sorry yah guys, gue mesti buru-buru. Gue ada janji soalnya," ucap Nadira berusaha menembus kerumunan teman-temannya.
"Emang lu mau kemana?" tanya Ais kepo.
"Gue ada urusan pribadi," ucap Nadira seraya menepiskan senyum tak enak hati.
"Oh iya, Nad. Lu bilang hari ini mau mampir ke BeTrust kan? Jangan lupa sekalian lu bawa copyan file untuk diserahkan pada Pak Erwin," titah Aldi saat Nadira sudah beranjak meninggalkan teman-temannya dengan terburu-buru.
"Sudah kok," jawab Nadira menghentikan langkahnya dan menoleh pada Aldi.
"Pantes lu dandan cantik gitu. Mau ketemu laki lu yah, pasti," ucap Aviva.
Nadira hanya bisa nyengir menjawab pertanyaan Aviva. Urusan pribadi yang dia maksud sebetulnya bukan untuk menemui Alex. Namun, secara teknis ia kang akan datang ke kantor BeTrust jadi ada benarnya juga jika dia ke sana menemui suaminya. Itupun kalau Sang suami ada di tempatnya.
"Memangnya suami Nadira anak BeTrust?" celetuk Jono yang sudah tidak digubris oleh Nadira.
Wanuta utu sudah kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan teman-temannya yang masih ramai berkomentar soal statusnya.
"Mau tau aja," jawab Aviva yang tak berniat membongkar siapa suami dari Nadira.
Wanita itu langsung menyeret Ais meninggalkan para pria yang sudah terlanjur penasaran dengan sosok suami Nadira.