
"Eh, kalian udah denger gosip baru belom?" tanya Ais seraya meletakkan dua kantong plastik berisi makanan dan minuman ke atas meja oval di tengah ruangan.
"Dasar cewek … turun bentar doang, dateng-dateng bawa gosip. Mana titipan gue?" sambar Denis seraya menghampiri Ais.
"Punya lu yang plastiknya misah yah. Awas jangan ketuker, punya lu pedes."
"Gosip apaan sih? Jangan bikin gue kepo deh." tanya Aviva sembari mencomot satu ricebowl yang dibawakan oleh Ais.
"Makan woi, jangan gosip mulu," semprot Ivan seraya mengambil bagiannya.
"Tapi yang lagi digosipin itu anak divisi kita," ucap Ais membuat kesemua wajah teman-temannya menatap fokus dirinya.
"Siapa yang gosipin siapa?" tanya Irvan ikutan kepo.
"Anak-anak marketing lagi pada heboh ngomongin Nadira."
"Loh emang Nadira kenapa?" tanya Aviva mengernyitkan dahi.
"Katanya Nadira itu cem-ceman," jawab Ais setengah berbisik.
"Cem-ceman apaan sih?" tanya Denis cuek sembari mengunyah makannya.
"Simpanan, Oon," sambar Aviva.
"Simpanan? Yang bener aja?! Enggak ada potongannya deh tu anak jadi simpanan," sambar Denis seraya tergelak.
"Eh tapi lu nyadar enggak, kalau hari ini tu, penampilan Nadira beda banget? Agak berkelas gitu deh," timpal Aviva.
"Nah itu … itu … ditambah lagi, tadi di bawah ada yang nitipin ke Rani kunci mobil buat Nadira," sahut Ais.
"Seriusan, Lu? Siapa yang ngasih?" tanya Aviva kepo.
"Ya enggak tau juga sih. Tapi tadi yang nganter itu karyawannya Be Trust. Yang suka dateng bareng Pak Alex," jawab Ais.
"Pak Erwin maksud lu? Asistennya Pak Alex itu?" sambar Irvan seraya melotot.
"Kayanya sih iya," jawab Ais ragu.
"Elu laki suka gosip juga? Tau dari mana lu?" sambar Denis seraya menyikut Irvan yang duduk di sebelahnya.
"Yah kan cewek gue anak marketing. Mereka itu suka ngegosip menejernya. Pada kesel sama kelakuannya," jawab Irvan santai.
"Gila yah tu orang, enggak dimana-mana toxic mulu," oceh Aviva heran. "Tapi bukannya waktu itu lu bilang kalau Pak Alex itu usah punya istri, Is?"
"Yah makanya, Nadira itu dibilang simpanan. Pak Alex ada maen sama Nadira di belakang istrinya," ucap Ais menegaskan.
"Jangan-jangan gara-gara itu, Pak Alex berantem sama Kemal?!"
" Ah bodo lah. Yang penting proyek kita aman." Denis menimpali.
"Sabar yah, Den," ucap Aviva seraya tergelak.
"Lah kenapa jadi gue?" Denis mengerutkan alisnya mendengar ucapan Aviva.
"Yah kan elu dari awal ngincer Nadira. Gagal dong lu deketin dia?"
"Siapa bilang? Gue justru lebih tertantang buat dapetin dia. Sebelum janur kuning melengkung berpantang gue mundur," ucap Denis seraya mengangkat dagu.
"Hajar Den, jangan mau kalah. Sampai tetes darah penghabisan." Irvan mengompori. "Tapi lu punya apa buat nyaingin Pak Alex?" lanjut Irvan seraya tergelak.
"Gue punya cinta yang tulus," jawab Dening seraya menempelkan deretan gigi putihnya.
"Hari gini makan cinta doang enggak kenyang, Den," timpal Ais.
"Tapikan mending sama Denis, ketauan single. Dari pada jadi pelakor?" sambar Aviva. "Gue dukung elu, Den," ucap Qviva seraya menepuk-nepuk Bahu Denis.
"Elu bisa jadi pahlawan kesiangan buat Nadira, Den," timpal Irvan seraya terbahak-bahak.
Sementara di ujung tangga, wajah Nadira sudah memerah mendengar semua tuduhan yang disematkan oleh teman-teman kerja pada dirinya. Inilah salaah satu alasan, mengapa Nadira berusah menolak mobil pemberian Alex.
Nadira menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan demi menenangkan hati yang riuh karena gosip yang baru saja ia dengar. Perempuan itu berusaha menarik sudut bibir ke atas dan melanjutkan langkah, setelah tak lagi mendengar dirinya jadi topik pembicaraan teman-temannya.