
Alex mengangkat tubuh Nadira dari sofa kemudian membaringkan istrinya itu di atas ranjang. Perempuan itu tertidur dengan lelap sehingga tak menyadari saat Alex memindahkannya.
Nadira menggeliat mencari posisi tidur yang nyaman, membuat Alex menyunggingkan senyum saat memperhatikan wajah polosnya yang terlelap. Wajah polos yang selalu membuat harinya tak tenang. Tak dipungkiri ia begitu merindukan menatap wajah istrinya itu dari dekat.
Namun, seketika wajah polos itu kembali muram. Membuat senyum Alex seketika memudar. Sudut mata Nadira kini kembali meneteskan air mata. Menghadirkan nyeri di relung hati.
"Apakah tangisanmu ini karena aku?" desah Alex kembali memainkan ibu jari di pipi Nadira, mengusap sisa air mata yang masih menjejak di sana.
Ditatapnya kelopak mata yang terpejam, dihiasi bulu mata lentik berbingkai alis tebal berjajar rapi. Hidung mancungnya semakin mempercantik perempuan itu meski dalam tidurnya.
Mata Alex turun ke bibir mungil dan berisi milik Nadira. Tanpa sadar ia sudah menarikan jemari di atas bibir perempuan yang masih bercumbu dengan alam bawah sadarnya.
Diusapnya perlahan, bibir mungil yang masih menyisakan lipstik berwarna pink cerah yang menghipnotis Alex.
"Mmm … " gumam Nadira merasa terganggu tidurnya.
Seketika Alex menarik tangannya saat tersadar bahwa Nadira terusik dengan apa yang dia lakukan. Perempuan itu nampak mengerjapkan mata perlahan. Namun, ia tak mengikis jarak saat wajahnya menatap sang istri dari dekat. Alex justru mengurai senyum ketika Nadira membuka mata sempurna.
"Maaf udah ganggu waktu istirahat kamu," ucap lelaki itu lembut.
"Mas Alex?!" lirih Nadira dengan kedua alis hampir menyatu.
Nadira tak menyembunyikan keheranannya saat melihat Alex dengan jarak yang begitu dekat. Tatapan lelaki itu begitu dalam dan meneduhkan.
Nadira seakan dihanyutkan oleh mimpi indahnya. Bibirnya melengkung seketika memberikan senyuman serupa yang diberikan oleh sang suami. Perempuan itu mengangkat tangan dan mendaratkannya pada pipi Alex.
Ia seakan menikmati mimpinya. Sudah lama ia tak bermimpi indah seperti saat ini. Menatap wajah Alex sedekat ini, berbonus senyuman manis yang menggetarkan.
"Kenapa mimpi ini serasa nyata?" gumam Nadira seraya membelai wajah Alex yang menatapnya seakan memuja.
"Ini bukan mimpi?" Nadira terlonjak dari posisi tidurnya saat suara tawa Alex menghantam telinga.
Matanya membulat sempurna ketika desahan nafas lelaki itu menyentuh kulitnya hingga mengirimkan hawa panas yang menjalar di wajah.
Nadira menarik tangannya yang masih berada di genggaman tangan lelaki itu. Namun, Alex tak membiarkan tautan tangan mereka terlepas. Ia justru semakin menggenggam erat tangan Nadira. Membuat Nadira semakin salah tingkah.
"Maaf ... " ucap Alex serak sembari menyibak rambut Nadira yang menutupi sebagian wajahnya.
"Ma-maaf ?" tanya Nadira terbata.
Perempuan itu seolah terhipnotis dengan kata maaf dari Alex. Membuatnya terpaku di tempat.
"Maaf sudah membuat kamu jadi menderita seperti ini," Alex mengalihkan tatapannya pada kedua mata Nadira yang membengkak akibat terlalu banyak menangis.
"Maksud Mas Alex apa?" tanya Nadira masih tergugu.
Jantung Nadira kini sudah bergemuruh di dalam sana. Seolah menghentakkan dadanya dengan kencang. Kejadian saat ini membuat otaknya tak dapat bekerja dengan sempurna.
Ia tak dapat mengerti apa yang melandasi perubahan sikap Alex yang tiba-tiba. Lelaki dingin yang menampakkan kebencian seolah sudah menghilang pergi, berganti sang suami yang begitu ia damba.
"Alea cerita, kalau tadi Mama menampar kamu lagi, sampai kamu menangis dan mengurung diri di kamar," ucap Alex.
"Aku ... aku bisa mengerti kenapa Mama berbuat seperti itu," ucap Nadira merasa tak enak hati.
Meski hatinya perih mendapat perlakuan kasar dari ibu mertuanya itu, tapi Nadira tak dapat menyalahkan perempuan itu. Ia seolah mahfum dengan segala sikap yang Ibu mertuanya itu tunjukkan.
"Ini semua karena kesalahanku," ucap Alex dengan sorot mata sendu.