
Ibukota memang tak pernah ada matinya. Meski rembulan semakin meninggi, jalanan masih dipenuhi oleh para pemburu malam yang mencari kenikmatan duniawi sebelum fajar menyingsing.
Nadira memperhatikan jalanan dari kaca jendela mobil. Menatap kendaraan yang berlalu lalang di luar sana. Menghantarkan perempuan itu pada lamunan akan kehidupan yang sempat ia reguk. Hinggap dari satu kelab malam ke kelab malam lainnya, hanya demi mengusir sepi. Kehidupan yang tak lagi menarik untuk digeluti.
"Kamu tadi buru-buru mau ngejar apa?" tanya Alex tiba-tiba.
Nadira menautkan kedua alis mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Alex.
"Jangan bilang tadi kamu mau ngejar busway?!" seru Alex dengan rasa penasaran yang kental.
"Memangnya kenapa kalau aku mau ngejar busway?" Nadira balik bertanya.
"Kamu mau pulang naik Busway malam-malam begini?"
"Tak ada yang salah dengan itu kan?!" ucap Nadira merasa tersindir.
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Sher?" Alex melirik Nadira penuh curiga.
"Nadira ... panggil aku Nadira, Mas," tegas Nadira yang tak berniat menjawab pertanyaan Alex.
"Whatever ... Mau kamu ganti nama kamu berapa kali pun, tidak bisa menutupi jati diri kamu sebenarnya," sindir Alex tajam.
"Aku tahu, Mas. Aku bukanlah perempuan baik. Terutama di mata kamu. Aku hanya merasa perlu ganti suasana saja," balas Nadira tak tersulut emosi dengan hujatan yang Alex layangkan.
"Sekarang jawablah. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dengan berpura-pura menjadi orang tak punya dan menjalan kehidupan rakyat biasa?"
"Bertahan hidup." Jawaban Nadira membuat Alex mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang terbentang di hadapannya.
Lelaki itu memutar kepala hingga bisa menatap Nadira lurus tepat di kedua bola mata perempuan itu. Beberapa detik ia habiskan untuk mencari jawaban melalui sorot mata Nadira. Namun, semakin lama ia menelaah, maka kesesatan semakin mengaburkan opini yang tertanam dalam kepala.
"Mas, kalau nyetir itu liat ke depan," seru Nadira yang mulai merasa jengah ditelisik sedimikian rupa.
Alex seketika mengalihkan pandangannya kembali pada jalanan yang membentang. Ia sendiri sudah merasa lelah memforsis kepala serta tubuhnya seharian penuh. Hal itu tentu akan mengurangi kewaspadaan saat berkendara. Ia tak mau sampai terjadi hal yang tak diinginkan hanya demi menuntaskan rasa penasaran akan jawaban yang diberikan oleh Nadira dengan terus memandangnya lekat.
Beruntung jarak kantornya dengan tempat tinggal Nadira sudah tak jauh lagi. Alex bertekad kali ini tak akan membiarkan Nadira pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Keheningan kembali tercipta selama sisa perjalan mereka.
"Genta ... " Nadira terkesiap saat moncong Bentley Bentayga yang dikendarai Alex memasuki gang dekat rumahnya.
Dari kejauhan ia dapat mengenali Mercedes Benz SLK berwarna abu-abu milik kakak satu-satunya itu. Wajah Nadira menegang saat Alex mulai menepikan mobil yang dikendarainya. Perempuan itu menatap seksama plat mobil tersebut untuk meyakinkan bahwa itu benarlah mobil milik Genta.
Belum lagi Alex berhenti dengan sempurna, Nadira sudah melepaskan seatbelt yang dikenakannya dengan cepat. Setelah itu ia meraih kenop pintu mobil bersiap membukanya.
"Kamu mau kemana? Kita perlu bicara." Alex menarik sebelah tangan Nadira menghentikan niat perempuan itu untuk segera turun dari mobil.
"Kita bisa bicara nanti, Mas. Aku khawatir terjadi sesuatu sama Mama. Aku harus turun sekarang."
"Apa maksud kamu?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Aku harus memastikan Mama tidak apa-apa," ucap Nadira cepat.
Alex dapat melihat ketegangan di wajah Nadira, hingga membuat tangannya otomatis melepaskan genggaman tangan sang istri dan membiarkan Nadira turun dari mobil secepat kilat. Perempuan itu lantas berlari memecah kegelapan malam diantara gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh sebuah motor.
********************************************
Hi... hi... semua.. mohon maaf sebelumnya yah.. kalau boleh aku minta tolong vote karya ini yah.. Ga usah banyak-banyak kok 10 poin juga aku udah seneng banget.. heheheee
pengen ngerasain dapet ranking bagus.. soalnya aku happy liat rangking 30an.. wkwkwkwkkkk... siapa tau kalian berkenan kasih aku vote n bisa survive di posisi itu, alhamdulillah lagi kalau bisa masuk 20 besar.. hehehheheeee
Ga juga gpp kok.. kalian udah mau baca aja aku udah bahagia...
buat yang udah vote terus karya ku, aku ucapkan terimakasih... muach.. muach.. buat kalian semua pokoknya...