PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 60#



"Mas … " panggil Nadira pada Alex yang sedang fokus pada jalanan yang selalu ramai di pagi hari.


"Hmm … " Alex hanya bergumam seraya menolehkan wajah sekilas pada Nadira yang sibuk memainkan jemarinya dengan gugup. 


"Apa aku boleh minta tolong?"


"Katakan."


"Apa boleh aku mengajak temanku bertemu di kantor kamu?" tanya Nadira takut-takut. 


"Kenapa harus di kantor ku?" Alex menautkan kedua alisnya. 


"Lebih aman bagiku bertemu Vanya di Be Trust. Genta tidak akan memata-matai kami di sana."


Alex semakin mengertutkan dahi mendengar permintaan aneh sang istri. "Ya enggak masalah kalau kamu mau bertemu temanmu di kantor ku. Tapi untuk apa Kakak mu memata-matai adiknya sendiri?" tanya Alex tak dapat menutupi raaa penasarannya. 


"Papa dan Genta sama-sama nekad. Mereka bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan yang mereka mau," jawab Nadira membuat Alex semakin penasaran. 


"Kamu bisa memakai ruangan ku kalau mau. Atau perlu minta Erwin untuk menyiapkan satu ruang khusus?" tanya Alex kemudian. 


Sebetulnya banyak hal yang mengelitik rasa ingin tahu Alex. Akan tetapi, lelaki itu merasa tidak punya hak bertanya lebih lanjut dan mencampuri urusan Nadira. 


"Tidak perlu, Mas. Di ruanganmu juga tidak masalah, asalkan kamu tidak merasa terganggu dengan kehadiranku."


"Aku akan banyak di luar kantor hari ini. Jadi, kamu bisa memakai ruanganku sesuka mu," jawab Alex enteng.  


"Apa kamu tidak masalah aku masuk ke ruanganmu tanpa kamu di sana?" tanya Nadira ragu. 


"Apakah ada yang perlu aku khawatirkan?" tanya Alex seraya menghujam Nadira dengan sorot mata tajam. 


"Ah … sudahlah tak perlu pusing memikirkannya. Toh aku tidak berniat macam-macam," bisik hati Nadira. 


"Kapan kamu akan ke kantor ku?" tanya Alex mengagetkan Nadira. 


"Mungkin nanti siang, sekalian aku ada rapat dengan orang kantor kamu. Itupun kalau Vanya punya waktu luang," jawab Nadira seraya berharap Vanya bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengannya hari ini. 


"Oke. Nanti aku akan kasih tau Mira, kamu akan mampir ke ruanganku," ucap Alex seraya membelokkan setir mobil memasuki halaman parkir kantor Nadira. 


"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Nadira seraya melemparkan senyum canggung. 


"Oh iya, nanti siang aku akan menyuruh Erwin mengantarkan kendaraan untuk mu. Kamu mau bawa sendiri mobilnya atau mau pakai supir?" tanya Alex membuat Nadira tercengang.


"Ce-cepat sekali, Mas. Nanti juga tidak apa-apa kok. Enggak perlu terburu-buru," ucap Nadira berusaha menolak. 


"Aku tidak bisa terus mengantarmu ke kantor setiap hari. Nanti malam aku akan lembur. Jadi tidak bisa menjemputmu pulang kantor nanti," ucap Alex tegas. 


"Aku bisa memesan taxi on line," sambar Nadira cepat. 


"Aku tidak suka dibantah," jawab Alex ketus. 


Nadira hanya mengangguk pasrah. Tak lagi berniat melanjutkan perdebatan nya dengan sang suami. Hatinya menciut mendapati sikap Alex yang dingin dan ketus. Padahal dulu lelaki itu begitu hangat dan selalu berusaha mengabulkan apapun keinginannya. 


Sekarang, ia bahkan tak diberi ruang untuk berpendapat. Namun, Nadira tahu diri, ia lah yang menyebabkan Alex berubah. Nadira hanya bisa berpasrah, mengangankan Alex yang hangat dan perhatian akan kembali menghiasi harinya. Meski itu mustahil. 


"Baiklah, Mas. Terserah Mas Alex aja. Aku masuk kantor dulu," ucap Nadira seraya membuka pintu mobil dan beranjak dari sana.