
Setelah mampu menguasai diri dari perasaan yang menghimpit dadanya, Nadira berjalan tergesa-gesa. Detik jam di pergelangan tangannya terus berdetak seiring detak jantung yang semakin berpacu.
Keluar dari gedung BeTrust, langkah Nadira semakin dipercepat. Tujuannya satu, menghampiri Halte Transjakarta yang berjarak sekitar dua ratus meter dari gedung BeTrust. Jam operasi moda transportasi umum Ibukota itu tidak sampai tengah malam, hingga memaksa Nadira harus berlomba dengan waktu yang terus bergulir.
Jarak perusahaan suaminya yang terletak di bilangan Jakarta Pusat lumayan jauh dengan area tempat tinggalnya di pinggiran Jakarta. Tentu Nadira tak ingin sampai tertinggal bus. Kalau dia tak ingin merogoh sakunya lebih dalam dengan menumpang taxi menuju rumahnya.
"Duh bus nya udah mau datang lagi," gumam Nadira ketika melihat Transjakarta berjalan di kejauhan menghampiri Halte.
Perempuan itu mempercepat langkahnya dengan setengah berlari. Namun, suara klason mobil membuat perempuan itu terlonjak kaget.
Tidak sekali, suara klakson mobil itu berbunyi hingga beberapa kali. Membuat Nadira terpaksa menghentikan langkahnya dan melongok ke belakang.
"Naiklah ... " seru seseorang yang sudah mengeluarkan kepala dari jendela mobil.
Nadira menggigit bibirnya terkejut saat menyadari siapa si pemilik suara tersebut. Lama Nadira terpaku sembari terus mencari-cari jawaban di dalam kepala apa yang menjadi alasan suaminya memerintahkan ia masuk ke dalam mobil yang lelaki itu kendarai.
Namun, kebungkaman Nadira membuat kesabaran Alex runtuh. "Mau sampai kapan kamu mematung di situ. Sudah larut malam, cepat naiklah." Perintah Alex sekali lagi.
Nada suara lelaki itu tegas tak ingin dibantah, membuat Nadira terhipnotis mengikuti perintah sang suami. Nadira berjalan dengan ragu menuju kursi penumpang di sebelah Alex dan membuka pintu mobil tersebut. Akan tetapi, perempuan itu tak lantas masuk ke mobil melainkan kembali mematung di depan pintu mobil.
"Bisa lebih cepat sedikit?" Perintah Alex tak sabaran.
"Ma-mau apa, Mas?" tanya Nadira sedikit membungkukkan badannya.
"Cepat masuk," Alex memberi tekanan pada suaranya hingga membuat Nadira langsung menuruti perintahnya.
Mereka berjalan dalam keheningan dengan Nadira yang duduk gelisah di tempatnya. Alex beberapa kali melirik ke arah perempuan di sebelahnya dan menaikkan sebelah alis, menyadari Nadira tak nyaman duduk di tempatnya.
"Kamu bukan baru kali ini duduk di situ. Kenapa baru sekarang kamu kelihatan tidak nyaman dengan mobil ini," dengus Alex kesal.
"Bu-bukan begitu, Mas. Sekarang sudah larut malam. Kita mau kemana?" Nadira memberanikan diri bertanya.
"Kamu sudah tau kalau sekarang sudah larut malam. Tentu aku mau mengantar kamu pulang. Mau kemana lagi memangnya?" ketus Alex.
"Aku bisa pulang sendiri, Mas. Aku tidak mau merepotkanmu."
"kamu hanya tinggal duduk diam dan jangan banyak bicara," ucap lelaki itu tanpa menoleh kepada Nadira.
"Apa kamu sadar, Mas? Sikapmu ini semakin membuatku sulit untuk melupakanmu," desah Nadira dalam hati.
Perempuan itu beberapa kali melirik ke arah Alex yang nampak menatap lurus jalanan yang sudah mulai lengang. Setiap detik yang berlalu semakin mengikis kegelisahan Nadira, hanya dengan menatap lelaki itu dari dekat. Hatinya semakin dipenuhi dengan kerinduan mendalam.
Kerinduan yang tak punya ruang untuk dilepaskan. Membuat sudut mata Nadira berkedut akan kenyataan yang menghempaskan asa.
"Mau apa kamu terus melihatku seperti itu?" sindir Alex menyadarkan Nadira dari lamunannya.
Dengan gelagapan, Nadira memutar tubuhnya menghadap lurus ke depan. Ada banyak alasan saling berkejaran minta untuk dimuntahkan. Namun, bibirnya serasa kelu untuk berucap. Hingga akhirnya Nadira membiarkan pertanyaan Alex menguap tanpa jawaban.
Keheningan kembali melingkupi udara dalam kabin mobil yang ditumpangi dua anak manusia yang larut dalam pikirannya masing-masing.