
"Kamu ngeliatin apa sih, Mas?" tanya Nadira dengan pipi merona merah jambu, menyadari Alex terus menatapnya dengan intesn.
"Kamu sadar gak sih? kita duduk makan di sini pakai jas dan dress yang bikin kita jadi kelihatan aneh," ucap Alex menutupi perasaan sebenarnya.
Nadira reflek membandingkan apa yang dia dan Alex kenakan dengan sekelilingnya. Tawanya berderai saat menyadari bahwa apa yang dikatakan Alex benar adanya.
"Gak apa-apa, Mas. Kan bisa jadi pengalaman gak terlupakan," ucap Nadira di sela tawanya.
"Lagipula kan aku udah janji mau ajak kamu kulineran pinggir jalan. Biar kamu tau, kalau makanan pinggir jalan gak kalah nikmat sama makanan restoran," lanjut Nadira kemudian.
"Silahkan," ucap ibu pemilik warung seraya meletakkan dua gelas jus jeruk ke hadapan Nadira dan Alex.
Tak lama setelah itu, seorang pemuda yang masih muda mengantarkan dua mangkok berisi kobokan dan nasi putih ke hadapan mereka. Menyusul kemudian dua buah pring oval berisi ayam, lalapan, lengkap dengan sambel di satu piring yang sama. Di tambah dengan satu piring berisi hati ayam yang sudah di goreng beserta tahu dan tempe goreng.
"Ini apa?" tanya Alex heran saat melihat air putih di dalam mangkok stainless dengan potongan jeruk nipis di dalamnya.
"Ini namanya kobokan."
"Kobokan?" tanya Alex heran dengan nama dan rupa air di dalam mangkok.
"Terus mana sendok dan garpunya?"
Lagi-lagi kerutan dalam tercetak di dahi pria itu.
"Makan pecel ayam mana enak pake sendok, Mas. Ini gunanya kobokan," ucap Nadira seraya mencelupkan tangannya ke dalam air dalam mangkok.
Alex memperhatikan Nadira makan dengan lahap menggunakan tangannya. Pria itu hanya bisa mereguk liurnya saat melihat Nadira menyantap makanannya dengan nikmat.
Rasa lapar semakin melilit di perutnya. Namun, ia tak tahu harus memulai makannya seperti apa. Alex memang belum pernah makan di pinggir jalan seperti ini. Apalagi makan menggunakan tangannya langsung tanpa bantuan sendok.
"Kok kamu gak makan? Katanya laper," ucap Nadira menatap Alex yang bergeming di tempatnya.
"Aku gak bisa makan pakai tangan," ucap Alex membuat Nadira membelalakkan mata.
Nadira kemudian memotong ayam goreng milik Alex kemudian mencampurkannya dengan sambal dan menambahkan nasi. Persis seperti yang sedari tadi ia lakukan pada makanannya sendiri. Namun, wanita itu tak menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Ia menyodorkan makanan di tangannya ke mulut Alex.
"Ayo makan," ucap Nadira sembari tersenyum manis.
Alex membuka mulutnya dengan ragu dan menyantap makanan dari tangan Nadira.
"Enak?" tanya Nadira seraya menatap Alex.
Alex menganggukkan kepala dengan cepat. Baru kali ini ia merasakan makanan seenak ini. Benar kata Nadira, jika makanan di pinggir jalan tak kalah enak dengan makanan di restoran mewah yang pernah ia kunjungi. Ataukah makanan ini terasa enak karena ia memakannya langsung dari tangan Nadira? pikir Alex.
"Mau hati?" tanya Nadira lagi yang langsung diangguki oleh Alex.
Nadira kemudian memotong hati menggantikan ayam dan menyuapkannya ke mulut Alex beserta nasi dan sambalnya. Setelah itu menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri.
Nadira akan memakan makanannya sendiri dan bergantian menyuapi Alex hingga makanan di piring mereka tandas tak bersisa.
"Hmm ... Nikmat sekali makan seperti ini," ucap Nadira setelah menyingkirkan piring-piring kosong ke samping. "Kamu mau tambah?" tanya Nadira pada Alex yang masih mengunyah makanan terakhir yang di suapi oleh Nadira.
"Aku juga udah kenyang," ucap Alex cepat seraya menggelengkan kepala.
Sejujurnya Alex masih ingin menikmati makan langsung dari tangan Nadira. Namun, perutnya seakan sudah tak kuat lagi menampung meskipun hanya sebutir nasi. Bagaimana tidak, melihat piring-piring yang sudah kosong di hadapannya membuat Alex menyadari sudah berapa banyak makanan yang berpindah ke dalam perutnya dalam sekejap.
Setiap apa yang di sodorkan oleh Nadira ke mulutnya akan ia sambar dengan cepat. Lebih dari setengah makanan itu dihabiskan oleh Alex.
"Habis ini kita mau kemana?" tanya Nadira penuh semangat.
"Langsung pulang aja. Aku mau menyantap makanan penutup ku," ucap Alex santai seraya mengeluarkan dompet untuk membayar makanan yang sudah mereka habiskan.
"Katanya kenyang, kok malah mau makan lagi?!" seru Nadira tak menyadari maksud tersembunyi dari yang Alex sampaikan.