
Nadira mengaduk-aduk jus sirsaknya menggunakan sedotan tanpa berniat menyeruputnya. Pikirannya mengelana, menerka-nerka apa yang menjadi tujuan Alea menghampirinya ke kantor.
Kalau toh perempuan di hadapannya ini berniat melabrak, tak mungkin dia repot-repot mengajaknya duduk berhadapan seperti saat ini.
Nadira menguatkan hatinya agar berani mengangkat pandangan dan menatap Alea. Bagaimanapun dia harus berani menghadapi akibat dari perbuatannya dulu yang mungkin tidak termaafkan.
"Jadi ... apa yang mau kamu bicarakan?" tanya itu meluncur begitu saja saat Nadira mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Alea.
Padahal sesungguhnya kata maaf sudah berada di ujung lidah. Namun, ternyata sesulit itu mengakui kesalahan secara gamblang.
"Bagaimana kabarmu sekarang?"
Nadira memicingkan mata menatap Alea yang menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan. Menyelisik wajah tenang perempuan itu yang tak dapat dibaca. Nadira menghempaskan nafasnya dengan kasar sebelum akhirnya memutuskan mengikuti kemana arah permainan Alea.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja."
"Kamu kelihatan beda. Agak kurusan," ucap Alea masih berbasa-basi.
"Hmmm ... " gumam Nadira tak tahu bagaimana haruas menanggapi pernyataan perempuan itu.
"Begini, Nad, kesehatan Kakek akhir-akhir ini memprihatinkan." Alea akhirnya memutuskan untuk langsung ke inti persolan yang membuat ia berusaha menemui Nadira.
"Lantas?"
"Kakek ingin menemui mu. Sudah lama aku dan Mas Ravka mencari keberadaan mu. Tapi kami tidak menemukan jejak mu. Kami sempat mengira kamu sudah pergi meninggakalkan Indonesia." Alea memberi jeda bicaranya.
"Hmm ... " Lagi-lagi Nadira hanya menanggapi dengan gumaman.
"Makanya tadi aku seneng sekali saat bertemu kamu. Aku berharap kamu mau menemui Kakek." Alea melanjutkan bicaranya saat tak mendapati tanggapan dari Nadira.
"Maaf, tapi aku sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan keluarga Dinata. Urusan keluarga Dinata dengan Ayah dan Bibi ku, itu urusan kalian. Aku tidak lagi mau ikut campur," tegas Nadira.
"Semakin hari kondisi Kakek semakin menurun. Bisa jadi ini adalah permintaan terakhir Kakek. Jujur saja, aku tidak tau tujuan Kakek ingin menemui mu. Tapi dia sering membicarakan mu. Merasa bersalah dan mau meminta maaf pada mu sebelum ajal menjemputnya. Aku hanya ingin memenuhi harapan Kakek di masa tuanya dengan mempertemukan kalian."
Ada keraguan menggelayut di hati Nadira. Sungguh ia tak mau lagi menginjakkan kaki di kediaman keluarga Dinata. Begitu banyak luka yang dia torehkan di keluarga itu. Sebanding dengan rasa malu yang membebaninya.
Namun, ia juga tak tega rasanya membiarkan seorang lelaki renta menutup mata dalam pengharapan. Meskipun masih terasa aneh baginya, Kakek Bayu berniat meminta maaf padanya. Bukankah ia yang sudah bersalah pada keluarga mereka? Kenapa justru Kakek Bayu hendak meminta maaf darinya? Pergumulan di dalam kepala semakin menjadi-jadi. Ditambah ia sendiri tahu, bagaimana rasanya saat perasaan bersalah terus menghantui tanpa pernah mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf.
"Jadi kamu mau kan menemui Kakek?" tanya Alea dengan tak sabar saat Nadira masih terus diam mebisu.
"Baiklah ... " desah Nadira pasrah. "Tapi beri aku waktu beberapa hari untuk menyiapkan diri," lanjut Nadira lirih.
"Menyiapkan diri untuk apa?" tanya Alea heran.
"Mereka juga keluarga mu."
"Mungkin dulu, saat semua orang belum tahu apa tujuanku masuk ke dalam kehidupan keluarga Dinata."
Alea hanya bergeming di tempatnya. Mencari kata yang tepat untuk meyakinkan Nadira bahwa dia tak seburuk itu di mata keluarganya yang juga keluarga perempuan itu.
Ditatapnya wajah Nadira yang nampak berbeda. Perempuan itu tak lagi sama seperti saat terakhir mereka berjumpa. Tak ada pandangan memusuhi apalagi meremehkannya seperti yang sudah lalu.
Pun dengan penampilan perempuan itu yang nampak jauh berbeda. Tak ada lagi barang branded yang selalu melekat di tubuhnya.
"Kamu tidak berhak menilai isi kepala orang lain, melalui sudut pandang mu," ucap Alea lembut, tapi penuh penekanan.
Nadira mengangkat kepala mendapati kata-kata tajam terlontar dari mulut Alea.
"Kamu harus tau bagaimana pandangan orang lain terhadap mu dari mulut mereka sendiri. Kalaupun kamu mau meraba seperti apa isi hati mereka, sebaiknya pikirkan lah dari sisi positfnya. Bukan sebaliknya. Itu akan jauh lebih baik untuk hidup mu."
Lagi-lagi Nadira dibuat takjub dengan pemikiran perempuan yang selalu ia kerdilkan. Perempuan yang usianya jauh di bawahnya, tapi memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari dirinya. Membuat Nadira semakin teetunduk malu berhadapan dengan Alea.
"Tapi aku memang pantas untuk dibenci dan dipersalahkan," balas Nadira dengan raut wajah sendu.
"Mungkin iya ... Tapi mungkin juga tidak. Yang pasti, setiap orang tak luput dari dosa. Hanya saja, apakah ia mau berubah atau tidak, itu yang membedakannya. Lagipula aku rasa, Keluarga kita tak sepenuhnya membencimu."
"Apa kamu yakin?" tanya Nadira ragu.
Ada sepercik harapan yang tumbuh dalam hati, mendengar ucapan yang dilontarkan Alea. Ia hanya perlu menghadapi ketakutannya sendiri untuk menemui orang-orang yang pernah ia lukai dan meminta maaf langsung dari mereka demi ketenangan batinnya.
"Aku cukup yakin. Mereka semua adalah orang yang baik dan mengerti agama. Kecewa itu mungkin. Tapi tidak untuk dendam."
Nadira menghela nafas entah untuk keberapa kalinya. Melepaskan resah di setiap desahan nafasnya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta maaf terlebih dahulu padamu atas semua kesalahan yang telah aku perbuat," ungkap Nadira cepat.
Tak lagi mau berkompromi dengan gengsi, Nadira mencoba meraih kesempatan di depan mata. Sedikit mengurangi beban yang terus menggayuti hidupnya dengan terpaan rasa bersalah.
"Meskipun bukan aku yang merencanakan penjebakan antara kamu dengan Ravka, tapi aku terlibat di dalamnya. Aku minta maaf untuk itu. Aku juga minta maaf atas segala penghinaan yang sudah ku lakukan pada mu selama kita tinggal bersama. Aku juga ... " Nadira menggantungkan kalimatnya, tak lagi mampu meneruskan kata.
Bulir bening mengalir deras di pipi saat sekelabat perbuatan buruknya pada Alea melintas begitu saja di benaknya. Bagaimana ia berusaha menyingkirkan perempuan itu agar bisa kembali memiliki Ravka yang sudah sah menjadi suami Alea. Bagaiman ia terus merayu Ravka agar kembali padanya. Serta semua kata-kata penghinaan yang pernah terlontar untuk Alea. Ia merutuki dirinya sendiri untuk itu. Merasakan kehinaan yang merasuk ke dalam sanubari, hingga tak dapat menahan isakan lolos dari bibir tipisnya.
"Aku sudah memaafkan semua kesalahan-kesalahan mu padaku. Baik yang kamu sengaja atau yang tidak kamu sengaja. Yang sudah lalu biarlah berlalu."
Nadira dapat meraskan kedua lengan Alea merengkuhnya dengan erat seraya mengusap punggungnya dengan lembut.