
Alex menautkan ke dua tangannya melingkari punggung Nadira. Membawa wanita itu lebih erat ke dalam pelukannya. Pria itu mendesah sebelum memulai kata.
"Aku yakin kamu pasti sudah bisa memperkirakan apa yang terjadi sama perusahaan saat ini," ucap Alex membuat jantung Nadira berdebar tak karuan.
Perubahan wajah istrinya tadi siang saat kedatangan Nino tak luput dari perhatian Alex.
"Apa itu masalah besar?" tanya Nadira ragu.
"Cukup untuk membuat aku dan Ravka kerepotan untuk menanganinya," ujar Alex jujur.
Wajah Nadira memucat seketika. Sorot matanya berubah sendu, tapi berusaha ia sembunyikan dari sang suami.
Tanpa Nadira sadari, kegugupannya disadari oleh Alex. Pria itu dapat merasakan ketegangan Nadira. Ia menarik tangan kanannya dari punggung Nadira yang tak tertutupi selimut. Ia mengarahkannya ke kepala wanita dalam pelukannya. Membelai lembut rambut panjang Nadira yang tergerai.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Alex menenangkan Nadira.
"Apa itu karena perbuatan…." Nadira menggantungkan kalimatnya.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya menahan kegugupan yang menerpa.
"Iya, itu ulah ayah mu dan kakak mu," sambar Alex yang dapat mengerti kalimat yang tak bisa Nadira selesaikan.
Nadira menundukkan kepala. Apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Bagaimana kalau saat ini ternyata, Alex juga ikut menyalahkannya atas kejadian ini. Namun, sikap laki-laki itu tak berubah sama sekali. Justru yang ia rasa, sikap Alex semakin manis padanya.
Nadira memainkan jemarinya dengan kalut sembari menunggu kata-kata Alex selanjutnya. Beberapa detik yang berlalu seakan penantian panjang bagi Nadira. Namun, pria yang masih membelai rambut dan punggungnya yang tereskspos, masih setia dengan kebungkamannya.
"Mas, apa kamu pikir aku ada hubungannya sama ini semua?" tanya Nadira terbata-bata sembari memberanikan diri mengangkat kepala menatap Alex.
"Jadi kamu dari tadi gelisah, karena takut aku tidak percaya pada mu?" tanya Alex santai dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Apa kamu percaya pada ku?"
"Aku sangat takut kamu akan mengira aku ada di sini karena bagian dari rencana papa juga Genta. Aku benar-benar takut, kamu akan membenci ku lagi, Mas," ucap Nadira dengan suara serak.
Air mata wanita itu luruh begitu saja tanpa bisa ia tahan lajunya. Membanjiri kedua pipinya dengan deras.
Alex langsung menyambar bibir Nadira. Menyesap bibir yang bergetar karena tangisnya. Memagutnya dengan lembut penuh kehati-hatian. Menyalurkan apa yang ia rasa melaui kecupan hangat. Pria itu lantas mengalihkan kecupannya pada kedua mata Nadira.
"Aku mencintai mu Sherly Nandira. Aku tidak akan pernah membenci mu karena kesalahan yang bukan kamu lakukan. Jadi kamu tidak perlu menyia-nyiakan air mata mu ini," ucap Alex seraya menghapus jejak air mata di kedua pipi Nadira.
"Walau semua ini karena keluarga ku? Apa kamu tetap tidak akan membenci ku?"
"Hmm aku akan tetap mencintai mu sepenuh hati ku," ucap Alex dengan senyum tersungging di bibir.
Nadira langsung merebahkan kepalanya di dada Alex. Ia memeluk erat tubuh kekar suaminya yang memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi hatinya.
"Tapi ...."
"Tapi apa, Mas?" sambar Nadira cepat.
"Tapi kali ini, aku tidak akan bisa mengampuni ayah dan kakak mu. Aku harus memberikan mereka pelajaran agar mereka tahu akibatnya bermain-main dengan keluarga Dinata," ucap Alex menahan geram.
Nadira mengangguk dengan cepat mendengar penuturan Alex. Ia memang tak akan bisa melakukan apa-apa terkait masalah ini. Bagaimana pun keluarganya memang sudah terlalu banyak membuat masalah bagi banyak orang. Cepat atau lambat mereka memang akan kena batunya.
"Aku bisa mengerti itu, Mas. Mereka memang sudah banyak melakukan kesalahan. Tapi, bagaimana Genta bisa mengacau di perusahaan kamu?"
"Ternyata masih banyak orang dia yang berada di dalam perusahaan. Karena itu ia bisa mengganggu stabilitas perusahaan dari dalam. Tapi kami sudah mendapatkan segala bukti untuk menjerat Ferdi ke meja hijau. Kali ini ia tak lagi bisa mengelak."
Jujur saja, mendengar penuturan Alex, Nadira justru merasa lega. Ia bahkan berharap ayahnya bisa di seret ke dalam bui. Dengan begitu, akan lebih mudah baginya membebaskan ibunya dari jerat pria kejam yang tak lain adalah ayahnya sendiri.