PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 65#



Nadira meregangkan tubuh sesaat setelah turun dari mobil. Lama tidak mengendarai kendara beroda empat tersebut, membuat seluruh persendian menjerit ngilu. Bergegas ia memasuki rumah mewah di hadapannya dan membayangkan air hangat dengan sensasi pijatan di kulit. Sekaligus merefresh pikiran yang mulai kusut.


"Masih berani kamu kembali ke rumah ini?" sebuah suara menggelegar menyambut Nadira ketika ia baru saja menginjakkan kaki dalam rumah.


Nadira hanya membisu. Hatinya seketika meresa sesak dengan segala yang terjadi seharian ini. Rasanya ia susah tak sanggup lagi menghadapi drama kali ini.


"Jauhi keluarga saya, sebelum saya bertindak buruk kepada kamu," lanjut suara yang tak lain adalah Ibu mertuanya. 


"Maaf, Ma. Tapi itu semua keputusan Mas Alex. Aku hanya akan pergi dari rumh ini, jika Mas Alex yang meminta," ucap Nadira datar. 


Sebuah tamparan lagi-lagi mengenai pipi Nadira. Perempuan itu memegang pipinya sembari menahan perih. Tak hanya di pipi, rasa perih itu menelusup ke relung jiwa. Sudut matanya mulai mengabut. Sekuat tenaga ia tahan agar tak semakin membuatnya terlihat lemah.


"Tante tolong hentikan. Aku mohon, kendalikan emosi Tante," Alea yang melihat kejadian itu langsung menengahi keduanya.


"Aku tidak habis pikir kenapa kalian semua membela perempuan tidak tahu malu ini," ucap Erika seraya memutar tubuhnya dan meninggalkan Alea serta Nadira terpaku di sana. 


"Nad … " suara Alea menggantung di udara ketika menyadari Nadira sudah berlari menuju kamarnya. 


Perempuan itu melesat memasuki kamar dan mengeluarkan sesak yang sudah tak mampu lagi ia bendung. Ia tumpahkan segala kesah melalui tangis yang terus membanjiri pipi. 


Ketukan pintu, serta suara Alea yang memanggil, tak ia hiraukan sama sekali. Saat ini ia hanya ingin menyelami kepahitan hidup dengan menangis. Hujatan demi hujatan bertubi ia rasakan. Seakan tak sanggup lagi ia menanggung dan berpijak pada sebuah kata sabar dan tegar. Ia hanya ingin menangis. Berharap tangisan dapat menguraikan sesak yang menggayut di dada. 


Beberapa kali ia mencoba memencet tombol dial untuk menghubungi sang Ibu tercinta. Akan tetapi, ia urungkan karena hal itu akan membuat Ibunya khawatir. Ia adalah perempuan dewasa yang harus belajar menghadapi masalahnya seorang diri tanpa bergantung pada siapapun. Hingga akhirnya tangisanlah yang menjadi pelabuhan terakhir. 


Cukup lama Nadira hanyut dalam lara. Hingga mata sembab perempuan itu mulai membengkak. Ia merasa kelelahan yang teramat sangat. Fisik hingga batinnya seakan tak mempunyai daya untuk bertaha, hingga tertidur meringkuk di dekat sofa. 


Nadira masih tertidur nyenyak saat Alex memasuki kamar di tengah malam. Lelaki itu mengerutkan keningnya ketika melihat Nadira tertidur di sofa. Didekatinya sang istri perlahan setelah ia meletakkan seluruh barangnya di atas nakas.


"Nad … " panggil Alex berusaha mengusik tidur istrinya itu. 


Akan tetapi, perempuan itu bergeming. Ia hanya nampak menggeliat dengan gerakan samar. Saat itu lah Alex dapat menangkap sebulir bening menetes dari sudut mata sang istri. 


Alex kemudian menggerakkan tubuh Nadira untuk memastikan apa yang tadi ditangkap oleh matanya.


"Sebesar apa luka mu, sampai kamu menangis dalam tidurmu, Nad?" desah Alex seraya menyeka air mata yang ditumpahkan Nadira. 


Seketika rasa sakit perempuan itu turut mengirimkan denyut pedih di hati. Rasa iba membuat Alex membelai wajah mulus Nadira yang sembab.


"Andai waktu bisa diputar, Nad," ucap Alex dalam desahan nafasnya yang berat.