PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 95#



"Mau ngapain kamu, di sini?" ketus Alex saat melihat Ravka sudah mendaratkan tubuhnya di kursi persis di seberang Alex.


"Istirahatlah, capek," jawab Ravka cuek.


"Istirahat itu di kamar. Bukan di sini," ucap Alex seraya berdecak sebal.


"Aku baru pulang kerja, Mas. Capek. Masih males naik ke atasnya. Mau ngadem dulu sambil minum di sini. Ada larangan emang?"


"Ganggu aja sih."


"Ish, kamu Mas. Biarin aja sih Ravka di situ," protes Nadira melihat tingkah suaminya yang kekanakan. 


"Kamu buruan deh habisin makannya," titah Alex pada Nadira. "Biar kita cepet kabur dari sini. Seharian udah liat muka dia di kantor. Di rumah mesti ketemu dia lagi. Gak ada muka yang enak apa di liatnya," gerutu Alex tak berhenti. 


"Gak boleh gitu kali Mas sama adek sendiri," ucap Nadira mengingatkan. 


Alex memperhatikan Nadira diam-diam. Ada degup jantung yang berdetak dua kali lipat dari detak normalnya saat melihat Ravka menatap Nadira. Pun sebaliknya saat Nadira membalas tatapan adik sepupunya itu. 


Jujur saja, cemburu itu masih bersarang di dada. Alex ingat betul bagaimana Nadira selalu berusaha menarik perhatian Ravka di awal pernikahan mereka. Ada rasa yang mengganjal di dada bahwa keduanya masih menyimpan rasa yang sama. 


Alex menarik nafas perlahan mengusir pikiran negatif yang menelusup ke dalam pikirannya. Seharusnya tak ada lagi yang mengganggu pikirannya, tapi apa boleh dikata. Semua terlintas begitu saja dalam benaknya. 


"Sini deh, aku suapin aja makannya." Alex menarik sendok di tangan Nadira. 


Belum sempat Nadira memprotes perlakuan Alex yang tiba-tiba, suaminya sudah menyodorkan sendok di depan bibirnya. Reflek Nadira membuka mulutnya, melahap makanan yang disuap oleh Alex. 


"Suka-suka lah," tanggap Alex tanpa menoleh pada Ravka. 


Ia terus memperhatikan Nadira yang wajahnya sudah memerah menahan malu. Memaksa wanita itu terus menatapnya agar tak mengalihkan pandangannya pada lelaki yang mulai terlihat keki di seberang mereka. 


"Mas, kamu udah lama nyampe nya?" tanya Alea yang menginterupsi kemesraan yang sengaja dipertontonkan oleh Alex. 


Ravka mengumbar senyum pada istri tercinta yang menghampirinya ke dapur. Untung saja tadi dia sempat mengirim pesan wa kepada istrinya untuk menyusulnya ke dapur. 


Pria itu tahu betul jika terkadang Alex masih menaruh curiga padanya. Meski kini Nadira tak lagi menunjukkan sikap yang sama seperti saat pertama mereka tinggal bersama. 


"Gak kok baru aja. Aku laper pengen makan," ucap Ravka dengan manja. 


"Ya udah aku siapin dulu yah," timpal Alea tak menyadari atmosfir persaingan yang ditunjukkan oleh dua lelaki di dalam ruangan itu. 


Tak butuh waktu lama Alea menyiapkan makan malam bagi Ravka, karena dia hanya tinggal menghangatkan makanan yang sudah tersedia. 


Alea meletakkan makanan di hadapan Ravka. Wanita itu kemudian mendaratkan tubuhnya persisi di sebelah sang suami. 


"Suapin dong, tangan ku capek di minta kerja rodi seharian," ucap Ravka membuat dahi Alea berkerut dalam. 


Sontak Alea menoleh pada Alex yang sedang menyuapi Nadira. Dua wanita di ruangan itu saling lirik penuh arti seraya menggeleng kepala pelan. Mereka hanya menarik nafas pasrah pada kelakuan konyol dua pria keluarga Dinata yang ternyata punya sifat tak jauh berbeda.


Alea kemudian menuruti saja kemauan aneh suaminya itu. Namun, tak selang berapa lama, ia tak lagi mampu menahan tawa. Pun dengan Nadira yang turut menggemakan tawa yang membahana yang sudah ditahannya sejak mendengar permintaan konyol Ravka.